Suatu malam beberapa jam setelah saya mem posting tulisan bernada retoris “Di Mana
Kita Bisa Menemukan Cinta”, sepotong SMS dari seorang sahabat masuk.
Benar kamu akan
memberikan cintamu untuk siapapun yang membutuhkan? Jangan mengumbar janji.
Bagaimana kalau seseorang datang dan meminta cintamu dan ternyata kamu tidak
bisa memenuhinya?Bagaimana kalau orang itu saya, misalnya?
Nafas saya sempat terhenti. Bener. Otak saya tiba-tiba
berhenti bekerja karena memikirkan jawaban apa yang harus saya ketik untuk
membalas SMS sahabat saya itu.
Pagi harinya, saya masih berpikir tentang pesan singkat itu.
Apa perlu saya merevisi tulisan saya itu? Artikel dalam blog masih bisa diedit.
Tapi buletin sudah terlanjur beredar. Singkatnya, tulisan tersebut sudah sempat
dibaca sahabat-sahabat yang lain.
Saya (seperti biasanya) duduk dan merenung. Apa iya saya
sudah mengumbar janji dan cinta?
Saya tidak pernah bermaksud seperti itu. Saya justru
mengajak agar saat cinta itu tak kunjung kita temukan, sebaiknya kita berendah
hati untuk menerima keadaan. Dan pada saat itulah, kita perlu memberikan cinta
kepada orang lain, tolong tidak diartikan secara sempit sebagai kekasih,
istri, suami, pacar, kekasih, yayang atau apapun istilahnya. Tolong kalimat itu
diterjemahkan sebagai ajakan untuk bisa lebih mau berjiwa sosial, beramal,
bersedekah.
Tentang pasangan hidup, jika jodoh tak kunjung kita dapatkan, pasrahkan kepada Tuhan. Dia pasti
sudah menyiapkan untuk kita seorang belahan jiwa. Jika tidak sekarang, mungkin
pada suatu masa. Jika tidak di dunia, mungkin dia sudah menunggu kita di surga.
Seorang sahabat dari Jogja menulis pesan kepada saya. Bahwa
cinta yang tertinggi bisa kita dapatkan dari Tuhan. Saya setuju sekali. Sahabat
yang lain dari Kalimantan, mengatakan kepada saya, bahwa nikah atau tidak nikah
adalah pilihan. Namun yang pasti, sebuah keputusan harus membawa kebahagiaan bagi semuanya.
Bagaimana menikah kalau ternyata justru merusak semuanya? Dan bagaimana dengan
para sahabat yang justru memberikan banyak kontribusi bagi sesama, murah hati
dan berjiwa sosial tinggi, namun tetap melajang hingga akhir hayatnya? Tuhan
pasti punya rumusan dan neraca untuk menimbang itu semua secara adil.
Sumpah, saya tidak bisa memberikan jawaban yang bisa memuaskan
semuanya. Semua jawaban bisa benar. Semua individu memiliki versi cintanya
masing-masing.
Seorang sahabat merasa sering ditolak dan diabaikan. Seorang
yang lain merasa sering tidak diperdulikan. Jangan tanyakan kepada saya apa
penyebabnya karena saya pun tak jarang mengalaminya. Dulu, saya terperangkap
untuk langsung bereaksi dan membenci keadaan dan orang yang menolak dan
mengabaikan saya.
Tetapi untuk apa? Saya percaya semua selalu ada alasan dan
sebab. Daripada kurus dan pusing karena memikirkan sebuah penolakan, mengapa
kita tidak menyusun strategi penyerangan berikutnya sambil makan makanan enak
dan minum minuman segar? Berpikir positiflah tentang diri kita. Kalau ditolak, ya bilang saja:
“Belum rejeki dia dapetin gue”
Titik.
Kembali ke tulisan saya yang ternyata telah disalahartikan
dengan sukses. Mungkin karena saya juga sudah salah menulis. Saya yang semula
hendak merevisi tulisan tersebut, malah membuat lanjutannya. Bukan untuk
memperpanjang masalah tentang di mana kita bisa menemukan cinta. Tetapi justru
untuk memperbaiki kesalahan saya. Dan menjadi satu bukti, bahwa saya hanya
manusia biasa. Tidak sempurna. Retak-retak seperti gading dalam sebuah
ungkapan.
Untuk sahabat-sahabat yang telah bersedia berbagi cinta
dengan saya, saya mencintai kalian semua.
( Wadooooooooooooohhhhhhhhhhh…………..bisa disalahartikan
lagi deeehhhhh. Di delete gak ya? Gak
usah.)
Kali ini serius.
Untuk sahabat-sahabat yang sudah bercerita tentang kisah
cinta kalian, kepada saya. Terima kasih sudah mempercayai saya. Maaf, kalau
saya belum bisa melakukan hal yang sama. Karena saya bukan sebuah buku yang
terbuka.
( Jakarta, Awal Juli 2008, setelah retorika di mana kita
bisa menemukan cinta)
Sesuatu yg tertulis, semua orang bisa memahami dalam persepsi sendiri-sendiri jika tanpa penjelasan.
apapun itu, jadi sahabat adalah salah satu wujud dari cinta.
July 7th, 2008, at 9:27 am #Ya kan Nin…
Betul, saya setuju Aoth. Menjadi sahabat adalah salah satu bentuk dari cinta.
July 7th, 2008, at 11:16 pm #thx u nin, tulisanmu itu gak salah ko…hanya orang yang baca tulisanmu punya persepsi yang berbeda-beda dan itu sah-sah aja… sukses ya
July 8th, 2008, at 9:07 pm #aku juga setuju,,, tergantung dari siapa yang membacanya,,, n msng 2 memiliki verci cinta yang berbeda… kl aku blh tambahin cintanya seorang sahabat itu seperti mengukir kebaikannya diatas batu tapi menulis kesalahannya diatas pasir”
July 9th, 2008, at 12:47 am #yups….
hehehehe,,, tulisanmu mengingatkan ku akan sesuatu bang… setahun lalu ah sudah kuceritakan semuanya padamu… ketika aku udah salah mengartikan suatu perhatian.. tapi alhamdulillah aku sadar…
July 9th, 2008, at 3:25 am #Nita, Nia, Iwan dan Aoth, terima kasih sudah berbagi ya. Sehat dans sukses selalu untuk kalian.
July 9th, 2008, at 11:48 pm #tulisan yang menyejukkan hati di kala tekanan dari semua sudut yang terlihat maupun tifak, segera berdatangan seolah-olah saya adalah tinggal satu-satunya arjuna yang belum menikah di muka bumi ini…
makasih ya mas…i’ll keep read your wirting…
July 13th, 2008, at 2:21 am #-bany-
tulisan yang menyejukkan hati di kala tekanan dari semua sudut yang terlihat maupun tidak, segera berdatangan seolah-olah saya adalah tinggal satu-satunya arjuna yang belum menikah di muka bumi ini…
makasih ya mas…i’ll keep reading tulisan kamu…
July 13th, 2008, at 2:22 am #-bany-
Kadang-kadang persoalannya bukan salah benar, tapi soal makna kalimat. Tidak semua orang bisa membedakan mana makna konotatif mana makna denotatif, mana tersirat mana hanya tersurat, mana bahasa kias mana yang bukan. That’s what I think…
Saya melihat penutupan tulisan tersebut, ya, seperti harapan mas Ino juga, bhw mungkin bukan mas yang menemukan cinta, tapi cinta yang menemukan mas. Yah.. semacam romantic ending lah… =)
July 13th, 2008, at 1:59 pm #