HOMOERECTUS MONOTONOUS

 

Sejak duduk di bangku sekolah, kita seperti diajarkan untuk
hidup monoton. Bangun pagi, yang shalat subuh ya shalat, terus mandi, sarapan,
berpakaian dan berangkat ke sekolah. Setelah itu kita melewatkan hari selama
kurang lebih tujuh jam belajar di kelas. Begitu terus setiap harinya dari Senin
sampai Sabtu. Bagi saya satu-satunya hari yang sedikit tidak monoton adalah
hari Jumat di mana kita bisa pulang lebih awal untuk pergi ke mesjid dan shalat
Jumat. Hari Minggu adalah bonus yang
benar-benar bisa melepaskan kita dari kemonotonan hari-hari kita. Main di
lapangan ngejar-ngejar kambing atau tiduran sambil nonton si Unyil sampai
keriting.

Seorang sahabat dijuluki “si Monoton” oleh ibunya karena
beliau melihat anaknya itu sudah menjadi sangat monoton; repetitif, sama dari
waktu-ke waktu, tedious dan cenderung
membosankan. Hari-harinya selalu sama dari waktu ke waktu. Bangun pagi,
berangkat kerja, pulang, tidur, bangun pagi dst.

Hal yang sama pun kadang-kadang masih diteriakkan kepada
saya oleh sebagian orang. Jujur saja, hal itu membuat saya bertanya-tanya.
Darimana mereka pikir hidup saya monoton? Mereka tidak 24 jam menempel di dekat
saya seperti sebuah tahi lalat. Lalu bagaimana mereka bisa menilai hidup saya
membosankan dan monoton? Apa yang tampak oleh orang lain hanya sebagian yang
mereka tahu.

Sama seperti hal-hal
lain, ada orang-orang yang layak kita ajak berbagi sisi petualangan kita, dan
ada orang-orang yang hanya layak mendapat suguhan kemonotonan kita. Kita tidak
dengan sengaja melakukan pembagian dan penyisihan siapa-siapa saja yang berhak
untuk masuk ke salah satu kelompok itu. Tetapi seleksi alam yang akhirnya
mengatur dengan siapa kita berpetualang, melewati hidup dengan lebih ‘hidup’
dan sedikit bergajulan. Dan seleksi alam pula lah yang akhirnya membuat kita
memilih dengan siapa kita kembali menjadi mahluk berjalan tegak yang monoton, homoerectus monotonous ( ini
hanya istilah yang saya buat, jangan dicari di buku evolusi Charles Darwin)

Jika akhirnya ada orang-orang yang protes dan mengatakan
hidup kita membosankan, mereka pasti memakai kaca mata mereka sendiri. Melihat
dengan versi mereka sendiri tentang bagaimana hidup mereka yang mereka anggap tidak
membosankan. Mungkin, mereka protes karena tidak kita libatkan dalam petualangan
kita yang bahkan sering kali lebih dahsyat daripada petualangan Indiana Jones
atau Allan Quarterman.

Seorang sahabat yang sedang berlibur dari kapal pesiar
tempatnya bekerja menunjukkan kepada saya rekaman film pendek yang dibuatnya
saat kapalnya melintasi lautan Antartika yang sedang dilanda badai. Dari layar
ipodnya, saya bahkan masih bisa merasakan kengerian melihat langit kelabu dan gelombang
dahsyat yang menghempas kapal naik turun. Dalam adegan lain, dia merekam
kondisi dapur yang berantakan karena goncangan gelombang.

Menurut saya dia telah melalui sebuah petualangan, meskipun
dia mengatakan bahwa dirinya cenderung membosankan dan (juga) monoton dari
waktu ke waktu. Bagi saya, merekam
keganasan badai adalah sepuah epos yang luar biasa. Dan itu hanya sebagian. Sama
seperti si Monoton sahabat saya di atas, diapun sudah melewati banyak kejadian
menarik dan melakukan hal-hal luar biasa.

Bukankah menjadi penerjemah dalam kondisi pasca tsunami di
Aceh adalah sebuah petualangan, berhadapan dengan gelombang dan badai adalah petualangan, berperan sebagai macan
dan mendongeng untuk anak-anak sakit adalah petualangan, menjalankan bisnis
dengan segala kejutan-kejutannya yang terjadi setiap hari adalah juga sebuah
petualangan, bahkan melewati kisah cinta yang berliku adalah sebuah petualangan.
Tetapi jangan mengartikan secara sempit petualangan sebagai sebuah proses yang
melibatkan fisik semata. Stephen Hawking, ilmuwan yang seumur hidupnya harus
duduk di kursi roda pun sudah banyak berpetualang meskipun yang dilakukannya
adalah petualangan pikiran dan batin.

Menurut saya kita tidak perlu berbagi semuanya dengan
orang-orang yang sama hanya agar mereka menganggap kita tidak membosankan.
Menurut saya, hidup adalah kumpulan fragmen. Kita bisa melewati setiap fragmen dengan orang-orang yang berbeda dan
mengalami hal-hal yang berbeda pula. Kumpulan fragmen itu seperti puzzle yang musti kita satukan. Dan jika
ada banyak petualangan di antara rangkaian fragmen yang monoton dan
membosankan, itu artinya hidup kita sudah cukup mengasyikkan.

Jadi, jangan kuatir, sahabat. Kalau ada yang menyebut kita
membosankan, monoton, repetitif atau semacamnya. Itu bisa jadi adalah sebuah
tekanan kelompok. Kalau tekanan tersebut adalah tekanan yang positif, fine. Tapi kalau tekanan kelompok itu
adalah sebuah ajakan sesat, tinggalkan. Kita tidak mau berakhir dengan
petualangan konyol yang justru akan menjerumuskan hidup kita menjadi sesuatu
yang kita sesali, bukan?

(Jakarta, Juli 2008, untuk sahabat saya, si Monoton.)