DI MANA KITA BISA MENEMUKAN CINTA?

Tulisan panjang ini
saya persembahkan untuk sahabat-sahabat saya yang masih terus mencari cinta.

Beberapa waktu lalu ketika saya mengunjungi tante saya yang
sakit keras, seorang sepupu saya berujar kepada saya.

“Hei! Cepat nikah! Kamu musti meneruskan keturunan.”

Sesiap-siapnya saya dengan tuntutan-tuntutan semacam itu
dari keluarga besar, saya sempat terperanjat ketika justru tekanan seperti itu
dikatakan di depan tante saya yang masih dalam kondisi sakit. Beliau yang masih
lajang di usianya yang lebih setengah abad mungkin samar-samar mendengar
tuntutan yang dilayangkan kepada saya itu. Saya merasa tidak nyaman sekali. Tetapi
entah mengapa saya menjawab dengan berkata:

“Tenang, sudah ada calon kok.” Kata saya (berbohong) sambil
tersenyum meyakinkan sepupu-sepupu saya.

Tetapi tiba-tiba tante saya menunjuk ke satu arah dengan
ekspresi sangat ketakutan. Ia mencoba bicara namun tak terdengar sedikit pun suara. Jari telunjuknya terus
menuding ke satu arah. Saya merasa mungkin ada ‘makhluk’ lain di situ yang
membuatnya ketakutan. Saya mencoba menyadarkannya dan membimbingnya
beristighfar. Tetapi ‘sesuatu’ yang terus ditunjuknya itu  menghilang di atas kepalanya dan perempuan itu
pun akhirnya kejang. Matanya membalik dan hanya menyisakan putih mata. Saya merasa bersalah.

Apakah pertanyaan itu yang membuatnya merasa dirinya tak
berarti karena tidak kunjung menemukan jodohnya? Atau kebohonganku menjawab
tuntutan tersebut ? Atau memang benar-benar ada ‘makhluk’ lain yang dilihatnya
malam itu?

Entahlah, yang pasti, malam itu kami semua harus terjaga dan
mencoba menyadarkan kembali tante saya dari serangan kejang dan panik itu.

Seorang sahabat baik yang kukenal sejak di SMP, dinikahi pria
terhormat dari keturunan bangsawan Jawa. Dulu, saya jatuh hati setengah mati
kepada cewek super tomboy ini. Ketika beberapa tahun kemudian saya menyatakan
perasaan saya kepadanya, dia menolak dengan halusnya:

“Nino, aku tidak ingin kehilangan kamu. Karena itu aku cuma
bisa jadi sahabatmu.”

Ternyata sebuah penolakan bisa sangat melukai seperti
sebilah silet Tatra baru. Persahabatan kami sempat renggang karena saya tidak
bisa menerima penolakan itu. Dan lucunya, setiap kali saya merasakan cinta dan
menyatakan cinta itu kepada seseorang yang saya cintai, selalu berakhir dengan
penolakan. Dan setiap kali itu pula sakit hati saya rasakan. Tetapi waktu
memang menyembuhkan luka hati saya, meskipun perlu waktu lama. Lalu saya dan
sahabat-sahabat saya itu pun kembali berbagi cerita lagi.

Ketika sahabat saya itu bekerja untuk sebuah NGO di Maluku
sana, kami sempat berkomunikasi lewat e-mail dan ngobrol panjang lebar, kadang
jorok dan seringkali vulgar. Tapi semuanya selalu dalam konteks lucu dan
bergurau. Dia yang saya tahu sudah live
happily
dengan suami bangsawannya, tiba-tiba membuat pengakuan.

“Nino, aku ketemu orang ini. EBS.”

EBS? Tanyaku bingung.

“Evolusi Belum Sempurna.”

Istilah itu dipakainya untuk menggambarkan sosok laki-laki
idaman lain yang waktu itu mengisi hari-harinya saat jauh dari suami tersayang.
Beneran! Dia sayang suaminya. Saya pernah bertemu keduanya beberapa tahun lalu.
Dan mereka berdua begitu bahagia. Tetapi cinta? Dia mengatakan tidak merasakannya.
Dan dengan makhluk dari Maluku yang evolusinya belum sempurna itu, dia
termehek-mehek! Jatuh hati. Tibo tangi,
jatuh bangun tidak sadarkan diri. Ia hanya merasakan hepi, hepi dan hepi. Si
lelaki EBS idaman kawan saya ini punya sederet atribut yang membuat kawan saya
ini seperti musafir yang kehausan di padang pasir. Sosoknya tegap tinggi dengan
kulit gelap khas pria Indonesia timur. Wajahnya laki-laki banget, katanya. Dan
yang membuat makhluk itu menyandang predikat EBS dari sobat saya itu adalah,
bulu-bulu yang tumbuh di seluruh permukaan tubuhnya?

Dan ketika beberapa waktu kemudian saya berkesempatan pergi
dan dua bulan tinggal di Maluku, saya mengerti kebahagiaan apa yang dimaksud
sahabat saya yang masih centil itu.

Tetapi benarkah itu cinta atau sekedar nafsu? Cuma dia yang
tahu.

 (Halo! Kamu ke Maluku
atau ke jaman purba pakai mesin waktu?
)

Dia cuma ngakak di box
chatting
dengan menampilkan icon
si wajah bulat kuning yang tertawa tergelak-gelak.

Sahabat saya yang lain, digugat cerai oleh istrinya karena
rutinitas pekerjaannya yang membuatnya harus sering pergi ke luar kota
meninggalkan istrinya. Ketika saya tanyakan apakah mereka bermasalah dengan
rumah tangganya, ia hanya menjawab sebenarnya semuanya baik-baik saja. Hanya
masing-masing memiliki ekspektasi yang berlebihan antar mereka sendiri. Dan mereka
akhirnya bercerai juga.

Saya yang sudah berumur 35 tahun ini dan masih belum punya
apa-apa, sering duduk dan merenungkan cerita-cerita itu. Sebagai laki-laki
Jawa, saya merasa sangat belum sempurna. Tak ada satupun yang saya miliki dari hal-hal
yang disyaratkan; artha(uang), griya(rumah), kukila (burung piaraan, klangenan,
biasanya perkutut), turangga (
tunggangan, bisa berupa mobil atau motor) dan wanita (istri). ( Wahai orang-orang Jawa yang membaca tulisan ini,
kalau 5 kriteria tersebut ada yang salah, tolong dikoreksi ya.)

Lalu saya berpikir kalau mereka yang sudah menemukan
pasangan dan hidup mapan saja bisa liak
liuk
, gonjang-ganjing seperti itu, apalagi saya yang belum siap apa-apa dan
mau melamar anak orang? Tapi saya merasa punya hal-hal baik dan positif dalam
diri saya yang tak bisa dinilai dengan banyaknya materi.

Pernikahan itu berlandaskan apa sih sebenarnya? Cinta atau
logika? Jika salah satunya, atau mungkin keduanya, bukankah selalu ada kompromi
di tengahnya? Kompromi bahwa kita akan menerima pasangan kita dengan segala
kekurangan dan kelebihannya. Saya sih setuju saja jika ada orang-orang yang
masih mencari cinta. Sayapun begitu. Meskipun untuk saya saat ini, logika sudah
banyak berperan. Saya hanya tidak bisa menerima jika seseorang yang sudah
terikat dalam sumpah pernikahan lalu memiliki hubungan lain di luar
pernikahannya.

Tapi asli, saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Jadi saya
hanya manggut-manggut sambil ketawa
lebar mendengar pencarian cinta sahabat-sahabat saya yang mengisahkan semuanya
dengan perasaan berbunga-bunga. Ada yang menemukan cinta dalam gairah dengan pria
tampan yang belum berevolusi sempurna, ada yang mendapatkannya dari sepasang
buah dada juicy yang tak didapat dari
istrinya, ada yang memperolehnya dari perhatian pria beristri yang tak pernah
diraihnya dari siapapun dan ada pula yang mencapainya dengan susah payah bak seorang pangeran
yang menyelamatkan seorang putri dari atas puri setelah bertarung dengan naga
berapi.

Saya yakin, saat ini saya bukan satu-satunya makhluk Tuhan yang
masih mencari cinta. Tetapi jika sampai kapanpun saya tak kunjung menemukannya,
saya tidak akan lagi mencarinya. Saya akan memberikannya untuk seseorang yang
membutuhkan itu dari saya. Siapa tahu, pada saat itu, ternyata dia juga sedang
ingin memberikan cintanya. Mungkin dialah jodoh saya. Amin.

 

(Jakarta, awal Juli 2008. Untuk sahabat saya A.H.)