Sudah lama saya tidak dengar kata itu; bodong. Jaman saya
kecil, ‘bodong’ sering diucapkan untuk mengejek anak-anak lain yang pusarnya
muncul keluar. Lucunya, karena sering dipanggil dengan ejekan ‘bodong’, anak
yang wudel nya mintip-mintip itu malah lebih dikenal sebagai ‘si Bodong’
ketimbang namanya sendiri yang pastinya lebih layak. Anak perempuan, entah
kenapa mereka disapa dengan,‘Wuk’, katanya sih kependekan dari gawuk atau bawuk.
Jaman saya masih duduk manis di bangku sekolah dasar bahkan
ada bacaan dalam buku bahasa Jawa yang isinya bercerita tentang Yu Bawuk yang lemu ginak ginuk dan wetenge njembluk . Jujur, itu bacaan super menyegarkan dengan
ilustrasi yang menawan. Saya sudah coba
cari di pasar buku shopping di Jogja dan di Kwitang kok ya ndak ketemu. Padahal buku itu bisa jadi koleksi yang everlasting macam Lima Sekawan nya Enid
Blyton atau Pipi si Kaos Kaki Panjang nya Astrid Lindgren.
Sampai SMA, masih ada banyak teman-teman saya yang bernama
lucu di mata kawan-kawan sekelas dan guru. Guru-guru killer yang suka iseng pun sering menjadikan kawan-kawan bernama
lucu sebagai korban hegemoni mereka. Kasihan sebenarnya. Tetapi karena yang
punya nama santai-santai saja dan malah membuat situasi menjadi semakin lucu,
rasa kasihan ya urung diberikan.
Kalau tidak salah, Shakespeare pernah ngendika, bilang ,”Apalah arti sebuah nama.” Mungkin ada benarnya. Nama bisa tak berarti
apa-apa. Tapi menurut sebagian orang Jawa ( terutama Jawa Tengah) nama itu ada
maksudnya. Bahkan ada kepercayaan anak-anak yang memiliki nama ‘terlalu berat’
atau kurang pas bisa jatuh sakit. Konon kata almarhum eyang saya, saya termasuk
ke dalam anak-anak yang sempat sakit-sakitan karena nama yang salah. Akibatnya
dulu saya sering wudunan (bisulan),
demam, asma, gatel-gatel, biang keringat parah dan sebagainya. Pokoknya apes
kayak Nobita dalam serial kartun Jepang Doraemon.
Sekian puluh tahun kemudian, nama-nama unik macam, Bodong,
Bawuk, Mentrik, Jalitheng, Kancil dan kawan-kawannya seperti hilang ditelan
bumi. Kini yang muncul adalah nama-nama cantik yang lucunya tidak dibarengi
dengan kelakuan yang cantik pula. Mereka adalah para koruptor yang namanya
berarti doa, bermakna mulia. Tetapi
kelakuannya macam serigala. Saya bahkan tak ingat nama-nama mereka. Alhamdulillah, jadi saya tidak perlu
mengisi memori otak saya yang terbatas dengan nama-nama para pengkhianat amanat
rakyat.
Rakyat kecil sengsara. Balita mati merana. Ibu meracuni
anak-anaknya. Suami membakar istrinya. Semua karena sosok-sosok pintar bernama
mulia yang telah menggerogoti hidup mereka.
Saya masih tinggal di negeri yang saya cinta. Tempat
kawan-kawan saya yang bernama lucu macam, Bodong, Bawuk, Mentrik, Jalitheng dan
Kancil seperti hilang ditelan masa. Mereka masih menjadi legenda dalam benak
saya. Karena mereka membawa pesan, bahwa kesederhanaan bukan barang haram.
Jadi, mbok ya jangan korupsi toh Pak, Bu, Zus, Tuan!
Malu sama bodong.
(Jakarta, Juli 2008)
nino, itulah potret negara kita saat ini… dan akarnya udah menjalar kemana-mana… mereka lebih mempedulikan diri sendiri daripada negaranya dan rakyat yang diwakilinya… tega aja….
July 16th, 2008, at 12:07 am #Di sekolah saya dulu yang bernama Asep ada puluhan orang. Asep berarti kasep alias tampan. Makanya banyak ortu yang seneng nama ini di daerah saya. Jadi kudu jelas,kalau panggil Asep.
July 17th, 2008, at 3:11 am #Asep yang mana? Yang jangkung, yang pendek, gemuk, kurus, hitam, atau yang putih.
Tapi yang jelas, kalau kita teriak.. Asep!! pasti beberapa kepala akan menoleh.. that’s fun!..hahaha.
Kemarin salah satu Asep menang ratusan juta rupiah di salah satu quiz di televisi swasta. dan Asep yang lain bilang…memang Asep pembawa hoki. Tapi yang lain bertanya. Asep yang mana?
Nino.. thanks untuk tulisannya yang menarik. Jadi bener bener tau artinya sebuah nama. ( Tapi temenku ga ada Asep yang bodong dan kayanya juga ga ada yang korupsi karena ga da yang jadi pejabat..hehehe)