Nonton Ekstravaganza
di Trans TV Sabtu 19 Juli 2008, saya benar-benar jatuh bangun karena melepaskan
tawa saya karena kekocakan Aming, Indra Birowo, Edrik, VJ Cathy, dkk. Di tengah
kritikan banyak pihak khususnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang betapa
tidak mendidiknya tontonan satu itu, Ekstravaganza tetap maju terus. Meski
sudah mendapatkan surat peringatan kedua, agar mengubah konsep tayangannya, tim
kreatif Ekstravaganza tetap mempertahankan formula ajaibnya. Yang menurut saya
justru makin gila dan asyik diikuti. Tim kreatif dan para pemainnya seperti
mengejek semua pihak yang mengkritik mereka dengan joke, lawakan dan akting
yang lebih vulgar.
Kemunculan penyanyi muda berbakat Afgan, dalam segmen
bincang-bincang yang dipandu Sogi, benar-benar saya nikmati sebagai sebuah
penyegaran. Anak muda bersuara indah itu ternyata sopan sekali. Santun. Dia
seperti perawan di sarang penyamunnya para personil Ekstra yang super duper
‘kacau’. Dia begitu inosens. Sedangkan Aming muncul sebagai Eva Ceria (plesetan
dari Eva Celia, artis muda yang digosipkan sebagai pacar Afgan). Kemudian
disusul Edrik yang memerankan sosok gadis oriental. (Konon, Afgan lebih
tertarik pada tipe gadis oriental.) Afgan menghadapi kedua tokoh transeksual itu dengan santun dan dewasa.
Tidak sok jaim atau menjaga jarak. Salut, Afgan.
Usai acara, saya yang masih terengah-engah karena tawa saya
terkuras sepanjang acara, berpikir, wah, kalau tayangan itu dihentikan,
bagaimana nasib saya? (hahaha) Saya yakin, para orang tua yang sebel terhadap
acara itu pasti muntah-muntah setelah acara usai. KPI makin sewot terhadap Tora
dkk. Mereka sudah terlanjur mencap Ekstravaganza memberi pengaruh buruk pada
anak-anak.
Kok begitu ya?
Di Jogja, sejak pertengahan tahu delapan puluhan,
diberlakukan Jam Belajar Siswa pk. 19.00-21.00.
Aturan jam belajar yang masih awet
sampai sekarang tersebut diharapkan mampu membendung kebiasaan nongkrong para
siswa dan mahasiswa di DIY. Dan tentunya mendorong mereka untuk lebih rajin
belajar dan berprestasi. Tapi siapapun yang mencanangkan itu, pasti tidak tahu
bahwa beberapa dekade kemudian, jam belajar tersebut adalah prime time tayangan-tayangan televisi
yang disiarkan oleh televisi-televisi swasta. Mereka tidak menduga bahwa di
jam-jam itulah, spot iklan banyak terisi. Tapi yang pasti mereka adalah para
visioner yang hebat, yang merasa bahwa pendidikan anak-anak adalah juga
tanggung jawab mereka.
Ketika saya membaca bahwa sejumlah artis senior mengkritik
habis beberapa tayangan televisi, termasuk Ekstravaganza, saya bertanya-tanya.
Kok, lagi-lagi, orang-orang di negeri ini suka sekali mencari kambing hitam ya.
Sogi memang chubby dan Ence memang gelap. Tetapi mengambinghitamkan sebuah
acara karena ketidakmampuan orangtua mengarahkan anak-anaknya dalam memilih
tontonan adalah sebuah kekonyolan, apabila
kemudian acara-acara tersebut diancam akan dihentikan.
Menurut saya, Esktravaganza ( saya suka sekali acara ini,
jadi saya tidak menyebut yang lain) lahir dari sebuah proses kreatif. Dan sebagai produk kreatif, ia terus mencari
bentuk yang lebih mapan. Saat ini ia lebih banyak membanyol dengan guyonan yang
kasar dan slapstik. Tokoh bencong terkesan menjadi andalan. Saling mengejek antar teman menjadi satu
formula one. Ras mulai dijadikan candaan.
Jujur saja, ini bukan tontonan anak-anak. Ada banyak contoh
tidak baik untuk anak-anak. Kalau orangtua tidak mau mendampingi anak-anaknya
saat menonton acara ini, matikan saja televisinya. Jangan malah menonton acara
tersebut di depan anak-anak, tapi enggan memberi penjelasan dan melakukan
pendampingan terhadap putra-putrinya. Dan kemudian mengancam agar tontonan
tersebut dihentikan. Indonesia sekali. Mencari kambing hitam untuk mencari aman.
Kemunculan Afgan di episode Esktravaganza itu justru
sebenarnya menyatakan bahwa, tidak perlu kuatir terhadap karakter transeksual
Amingwati dan Cici Edrikawati selama pribadi dan karakter diri yang positif telah
terbentuk kuat sejak dini di dalam keluarga.
Jika suatu hari nanti, tayangan Ekstravaganza memang
dihentikan karena para orangtua terus merongrong dengan alasan tayangan
tersebut tidak mendidik, saya mengusulkan ada farewell party. Di episode terakhir yang ditayangkan semua stasiun
televisi swasta tersebut, seluruh personil Ekstra benar-benar akan total.
Lelucon, guyonan, lawakan dan karakter di push
sedemikian rupa hingga penonton tak punya cadangan tawa lagi untuk keesokan
harinya.
Setelah itu, tayangan Ekstra akan diganti dengan lawakan
Artalyta, Urip, Untung dan jaksa-jaksa lain yang terlibat kasus korupsi.
Ketawa-ketawa di ruang sidang karena pembicaraan geblek mereka ternyata disadap oleh KPK. Dan pada saat itu, para orang
tua akan dengan senang hati mendampingi anak-anaknya menonton televisi. Lalu
mereka akan menjelaskan, bahwa korupsi itu haram jadah. Tapi semoga tidak ada
orang tua yang bilang: “Kamu boleh makan jadahnya, asal kau buang yang haram.”
Di saat itulah justru saya yang akan muntah-muntah karena
dicekoki tayangan tentang korupsi namun tidak bisa berbuat apa-apa.
(Jakarta, 19 Juli 2008, Salut buat Afgan, dan teman-teman di
Ekstravagnza dan Trans TV)
Ya…judul depannya sama dengan yang saya tulis bbrp hari lalu pake Afgan juga…menurut saya paling gak diperhaluslah cara melakonkan di extrvagansa untuk tayangan ke depannya bila segmen penontonnya ditujukan tuk semua umur coz lumajang hiburan segar akhir pekan buat yang gak jalan2 ato hanya nikmati malam akhir pekan di rumah, sayang klo nanti KPI Pusat tiba2 menghentikan acara itu… daripada dengar dan liat berita demo, korupsi atau tindakan kriminal… rating tayangannya kan lumayan tinggi apalagi buat promo produk saat jam tayang extravagansa… lebih menjanjikan buat sponsorshipnya…yang pasti Nino, sekarang jam belajar kaya di Jogja dulu buat sebagian orang gak berlaku lagi karna banyak stasiun TV yang menjanjikan acara yang menarik…lebih berat nonton TV daripada belajar…biarpun udah di suruh belajar oleh ortu saat jam 19.00-21.00 terlena oleh acara televisi.. kecuali yang sadar punya kewajiban belajar….No.
July 20th, 2008, at 5:34 am #hahahaha, saya masih percaya orang tua punya power buat mengarahkan anaknya, Nita.
July 20th, 2008, at 3:18 pm #ya yang saya bilang kan gak semua ortu Nino….hanya sebagian aja….alhamdulillah bila ortu kmu masih bisa mengarahkan diri kmu…gitu looh…
July 20th, 2008, at 11:23 pm #Alhamdulillah.
July 21st, 2008, at 4:46 pm #setuju mboten menawi setunggal dinten dipun canangken “setunggal dinten mboten ninggali TV kagem lare - lare alit ?” kadhos tanggal 20 juli 2008 kolo wingi…
July 21st, 2008, at 7:45 pm #Nino, terlepas dari semua fenomena.luar biasanya acara itu, di bintangi orang orang yang bukan berlatar belakang komedi…dan mampu menjadi acara komedi nomor satu. salut ga tuh?
July 22nd, 2008, at 4:19 am #mungkin banyak orag tua yang takut aja, ntar anaknya cape cape kuliah di ITB eh jadi komedian (eh itu Aming ya!)
A’, terima kasih komentarnya. Pertanyaan saya, orang tua mau anaknya jadi insinyur, pejabat yang korup dan merugikan rakyat dan negara, atau bahagia melihat anaknya jadi komedian yang mencintai pekerjaannya dan berjiwa sosial?
July 22nd, 2008, at 5:16 pm #Ingkang nomer kalih jawabanipun..tapi apapun pekerjan sang anak asal halal semua ortu punya rasa bangga plus bahagia dan dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak oleh sang anak.. mekaten tho Den Mas Nino…. khadhos pundhi kalian tiyang sepuh panjenengan, ningali panjenengan sampun mandiri makaryo sak meniko ?
July 22nd, 2008, at 8:34 pm #Nino, ga ada yang lebih membanggakan selain bisa mencintai pekerjaan lebih dari sekedar korupsi kewajiban..hehehe :o)
July 23rd, 2008, at 6:33 am #Mungkin sudah saatnya saya menulis blog yang baru daripada kita mentok diskusi tentang topik satu ini. Huaaaaahhhhhhh ( ngantuk). Hehehehe, Nita, saya ketawa lagi nih. hehehe. A’ Thx.
July 25th, 2008, at 8:09 am #