AFGAN, EKSTRAVAGANZA DAN LAGI LAGI…KORUPTOR DAN SAYA

Nonton Ekstravaganza
di Trans TV Sabtu 19 Juli 2008, saya benar-benar jatuh bangun karena melepaskan
tawa saya karena kekocakan Aming, Indra Birowo, Edrik, VJ Cathy, dkk. Di tengah
kritikan banyak pihak khususnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang betapa
tidak mendidiknya tontonan satu itu, Ekstravaganza tetap maju terus. Meski
sudah mendapatkan surat peringatan kedua, agar mengubah konsep tayangannya, tim
kreatif Ekstravaganza tetap mempertahankan formula ajaibnya. Yang menurut saya
justru makin gila dan asyik diikuti. Tim kreatif dan para pemainnya seperti
mengejek semua pihak yang mengkritik mereka dengan joke, lawakan dan akting
yang lebih vulgar.

Kemunculan penyanyi muda berbakat Afgan, dalam segmen
bincang-bincang yang dipandu Sogi, benar-benar saya nikmati sebagai sebuah
penyegaran. Anak muda bersuara indah itu ternyata sopan sekali. Santun. Dia
seperti perawan di sarang penyamunnya para personil Ekstra yang super duper
‘kacau’. Dia begitu inosens. Sedangkan Aming muncul sebagai Eva Ceria (plesetan
dari Eva Celia, artis muda yang digosipkan sebagai pacar Afgan). Kemudian
disusul Edrik yang memerankan sosok gadis oriental. (Konon, Afgan lebih
tertarik pada tipe gadis oriental.) Afgan menghadapi kedua tokoh transeksual itu dengan santun dan dewasa.
Tidak sok jaim atau menjaga jarak. Salut, Afgan.

Usai acara, saya yang masih terengah-engah karena tawa saya
terkuras sepanjang acara, berpikir, wah, kalau tayangan itu dihentikan,
bagaimana nasib saya? (hahaha) Saya yakin, para orang tua yang sebel terhadap
acara itu pasti muntah-muntah setelah acara usai. KPI makin sewot terhadap Tora
dkk. Mereka sudah terlanjur mencap Ekstravaganza memberi pengaruh buruk pada
anak-anak.

Kok begitu ya?

Di Jogja, sejak pertengahan tahu delapan puluhan,
diberlakukan Jam Belajar Siswa pk. 19.00-21.00.
Aturan jam belajar yang masih awet
sampai sekarang tersebut diharapkan mampu membendung kebiasaan nongkrong para
siswa dan mahasiswa di DIY. Dan tentunya mendorong mereka untuk lebih rajin
belajar dan berprestasi. Tapi siapapun yang mencanangkan itu, pasti tidak tahu
bahwa beberapa dekade kemudian, jam belajar tersebut adalah prime time tayangan-tayangan televisi
yang disiarkan oleh televisi-televisi swasta. Mereka tidak menduga bahwa di
jam-jam itulah, spot iklan banyak terisi. Tapi yang pasti mereka adalah para
visioner yang hebat, yang merasa bahwa pendidikan anak-anak adalah juga
tanggung jawab mereka.

Ketika saya membaca bahwa sejumlah artis senior mengkritik
habis beberapa tayangan televisi, termasuk Ekstravaganza, saya bertanya-tanya.
Kok, lagi-lagi, orang-orang di negeri ini suka sekali mencari kambing hitam ya.
Sogi memang chubby dan Ence memang gelap. Tetapi mengambinghitamkan sebuah
acara karena ketidakmampuan orangtua mengarahkan anak-anaknya dalam memilih
tontonan adalah sebuah kekonyolan, apabila
kemudian acara-acara tersebut diancam akan dihentikan.

Menurut saya, Esktravaganza ( saya suka sekali acara ini,
jadi saya tidak menyebut yang lain) lahir dari sebuah proses kreatif. Dan sebagai produk kreatif, ia terus mencari
bentuk yang lebih mapan. Saat ini ia lebih banyak membanyol dengan guyonan yang
kasar dan slapstik. Tokoh bencong terkesan menjadi andalan. Saling mengejek antar teman menjadi satu
formula one. Ras mulai dijadikan candaan.

Jujur saja, ini bukan tontonan anak-anak. Ada banyak contoh
tidak baik untuk anak-anak. Kalau orangtua tidak mau mendampingi anak-anaknya
saat menonton acara ini, matikan saja televisinya. Jangan malah menonton acara
tersebut di depan anak-anak, tapi enggan memberi penjelasan dan melakukan
pendampingan terhadap putra-putrinya. Dan kemudian mengancam agar tontonan
tersebut dihentikan. Indonesia sekali. Mencari kambing hitam untuk mencari aman.

Kemunculan Afgan di episode Esktravaganza itu justru
sebenarnya menyatakan bahwa, tidak perlu kuatir terhadap karakter transeksual
Amingwati dan Cici Edrikawati selama pribadi dan karakter diri yang positif telah
terbentuk kuat sejak dini di dalam keluarga.

Jika suatu hari nanti, tayangan Ekstravaganza memang
dihentikan karena para orangtua terus merongrong dengan alasan tayangan
tersebut tidak mendidik, saya mengusulkan ada farewell party. Di episode terakhir yang ditayangkan semua stasiun
televisi swasta tersebut, seluruh personil Ekstra benar-benar akan total.
Lelucon, guyonan, lawakan dan karakter di push
sedemikian rupa hingga penonton tak punya cadangan tawa lagi untuk keesokan
harinya.

Setelah itu, tayangan Ekstra akan diganti dengan lawakan
Artalyta, Urip, Untung dan jaksa-jaksa lain yang terlibat kasus korupsi.
Ketawa-ketawa di ruang sidang karena pembicaraan geblek mereka ternyata disadap oleh KPK. Dan pada saat itu, para orang
tua akan dengan senang hati mendampingi anak-anaknya menonton televisi. Lalu
mereka akan menjelaskan, bahwa korupsi itu haram jadah. Tapi semoga tidak ada
orang tua yang bilang: “Kamu boleh makan jadahnya, asal kau buang yang haram.”

Di saat itulah justru saya yang akan muntah-muntah karena
dicekoki tayangan tentang korupsi namun tidak bisa berbuat apa-apa.

(Jakarta, 19 Juli 2008, Salut buat Afgan, dan teman-teman di
Ekstravagnza dan Trans TV)

BODONG; cerita tentang sebuah nama

Sudah lama saya tidak dengar kata itu; bodong. Jaman saya
kecil, ‘bodong’ sering diucapkan untuk mengejek anak-anak lain yang pusarnya
muncul keluar. Lucunya, karena sering dipanggil dengan ejekan ‘bodong’, anak
yang wudel nya mintip-mintip itu malah lebih dikenal sebagai ‘si Bodong’
ketimbang namanya sendiri yang pastinya lebih layak. Anak perempuan, entah
kenapa mereka disapa dengan,‘Wuk’, katanya sih kependekan dari gawuk atau bawuk.

Jaman saya masih duduk manis di bangku sekolah dasar bahkan
ada bacaan dalam buku bahasa Jawa yang isinya bercerita tentang Yu Bawuk yang lemu ginak ginuk dan wetenge njembluk .  Jujur, itu bacaan super menyegarkan dengan
ilustrasi yang menawan. Saya sudah coba
cari di pasar buku shopping di Jogja dan di Kwitang kok ya ndak ketemu. Padahal buku itu bisa jadi koleksi yang everlasting macam Lima Sekawan nya Enid
Blyton atau Pipi si Kaos Kaki Panjang nya Astrid Lindgren.

Sampai SMA, masih ada banyak teman-teman saya yang bernama
lucu di mata kawan-kawan sekelas dan guru. Guru-guru killer yang suka iseng pun sering menjadikan kawan-kawan bernama
lucu sebagai korban hegemoni mereka. Kasihan sebenarnya. Tetapi karena yang
punya nama santai-santai saja dan malah membuat situasi menjadi semakin lucu,
rasa kasihan ya urung diberikan.

Kalau tidak salah, Shakespeare pernah ngendika, bilang ,”Apalah arti sebuah nama.” Mungkin ada benarnya. Nama bisa tak berarti
apa-apa. Tapi menurut sebagian orang Jawa ( terutama Jawa Tengah) nama itu ada
maksudnya. Bahkan ada kepercayaan anak-anak yang memiliki nama ‘terlalu berat’
atau kurang pas bisa jatuh sakit. Konon kata almarhum eyang saya, saya termasuk
ke dalam anak-anak yang sempat sakit-sakitan karena nama yang salah. Akibatnya
dulu saya sering wudunan (bisulan),
demam, asma, gatel-gatel, biang keringat parah dan sebagainya. Pokoknya apes
kayak Nobita dalam serial kartun Jepang Doraemon.

Sekian puluh tahun kemudian, nama-nama unik macam, Bodong,
Bawuk, Mentrik, Jalitheng, Kancil dan kawan-kawannya seperti hilang ditelan
bumi. Kini yang muncul adalah nama-nama cantik yang lucunya tidak dibarengi
dengan kelakuan yang cantik pula. Mereka adalah para koruptor yang namanya
berarti doa, bermakna mulia. Tetapi
kelakuannya macam serigala. Saya bahkan tak ingat nama-nama mereka. Alhamdulillah, jadi saya tidak perlu
mengisi memori otak saya yang terbatas dengan nama-nama para pengkhianat amanat
rakyat.

Rakyat kecil sengsara. Balita mati merana. Ibu meracuni
anak-anaknya. Suami membakar istrinya. Semua karena sosok-sosok pintar bernama
mulia yang telah menggerogoti hidup mereka.

Saya masih tinggal di negeri yang saya cinta. Tempat
kawan-kawan saya yang bernama lucu macam, Bodong, Bawuk, Mentrik, Jalitheng dan
Kancil seperti hilang ditelan masa. Mereka masih menjadi legenda dalam benak
saya. Karena mereka membawa pesan, bahwa kesederhanaan bukan barang haram.

Jadi, mbok ya jangan korupsi toh Pak, Bu, Zus, Tuan!

Malu sama bodong.

 

(Jakarta, Juli 2008)

HOMOERECTUS MONOTONOUS

 

Sejak duduk di bangku sekolah, kita seperti diajarkan untuk
hidup monoton. Bangun pagi, yang shalat subuh ya shalat, terus mandi, sarapan,
berpakaian dan berangkat ke sekolah. Setelah itu kita melewatkan hari selama
kurang lebih tujuh jam belajar di kelas. Begitu terus setiap harinya dari Senin
sampai Sabtu. Bagi saya satu-satunya hari yang sedikit tidak monoton adalah
hari Jumat di mana kita bisa pulang lebih awal untuk pergi ke mesjid dan shalat
Jumat. Hari Minggu adalah bonus yang
benar-benar bisa melepaskan kita dari kemonotonan hari-hari kita. Main di
lapangan ngejar-ngejar kambing atau tiduran sambil nonton si Unyil sampai
keriting.

Seorang sahabat dijuluki “si Monoton” oleh ibunya karena
beliau melihat anaknya itu sudah menjadi sangat monoton; repetitif, sama dari
waktu-ke waktu, tedious dan cenderung
membosankan. Hari-harinya selalu sama dari waktu ke waktu. Bangun pagi,
berangkat kerja, pulang, tidur, bangun pagi dst.

Hal yang sama pun kadang-kadang masih diteriakkan kepada
saya oleh sebagian orang. Jujur saja, hal itu membuat saya bertanya-tanya.
Darimana mereka pikir hidup saya monoton? Mereka tidak 24 jam menempel di dekat
saya seperti sebuah tahi lalat. Lalu bagaimana mereka bisa menilai hidup saya
membosankan dan monoton? Apa yang tampak oleh orang lain hanya sebagian yang
mereka tahu.

Sama seperti hal-hal
lain, ada orang-orang yang layak kita ajak berbagi sisi petualangan kita, dan
ada orang-orang yang hanya layak mendapat suguhan kemonotonan kita. Kita tidak
dengan sengaja melakukan pembagian dan penyisihan siapa-siapa saja yang berhak
untuk masuk ke salah satu kelompok itu. Tetapi seleksi alam yang akhirnya
mengatur dengan siapa kita berpetualang, melewati hidup dengan lebih ‘hidup’
dan sedikit bergajulan. Dan seleksi alam pula lah yang akhirnya membuat kita
memilih dengan siapa kita kembali menjadi mahluk berjalan tegak yang monoton, homoerectus monotonous ( ini
hanya istilah yang saya buat, jangan dicari di buku evolusi Charles Darwin)

Jika akhirnya ada orang-orang yang protes dan mengatakan
hidup kita membosankan, mereka pasti memakai kaca mata mereka sendiri. Melihat
dengan versi mereka sendiri tentang bagaimana hidup mereka yang mereka anggap tidak
membosankan. Mungkin, mereka protes karena tidak kita libatkan dalam petualangan
kita yang bahkan sering kali lebih dahsyat daripada petualangan Indiana Jones
atau Allan Quarterman.

Seorang sahabat yang sedang berlibur dari kapal pesiar
tempatnya bekerja menunjukkan kepada saya rekaman film pendek yang dibuatnya
saat kapalnya melintasi lautan Antartika yang sedang dilanda badai. Dari layar
ipodnya, saya bahkan masih bisa merasakan kengerian melihat langit kelabu dan gelombang
dahsyat yang menghempas kapal naik turun. Dalam adegan lain, dia merekam
kondisi dapur yang berantakan karena goncangan gelombang.

Menurut saya dia telah melalui sebuah petualangan, meskipun
dia mengatakan bahwa dirinya cenderung membosankan dan (juga) monoton dari
waktu ke waktu. Bagi saya, merekam
keganasan badai adalah sepuah epos yang luar biasa. Dan itu hanya sebagian. Sama
seperti si Monoton sahabat saya di atas, diapun sudah melewati banyak kejadian
menarik dan melakukan hal-hal luar biasa.

Bukankah menjadi penerjemah dalam kondisi pasca tsunami di
Aceh adalah sebuah petualangan, berhadapan dengan gelombang dan badai adalah petualangan, berperan sebagai macan
dan mendongeng untuk anak-anak sakit adalah petualangan, menjalankan bisnis
dengan segala kejutan-kejutannya yang terjadi setiap hari adalah juga sebuah
petualangan, bahkan melewati kisah cinta yang berliku adalah sebuah petualangan.
Tetapi jangan mengartikan secara sempit petualangan sebagai sebuah proses yang
melibatkan fisik semata. Stephen Hawking, ilmuwan yang seumur hidupnya harus
duduk di kursi roda pun sudah banyak berpetualang meskipun yang dilakukannya
adalah petualangan pikiran dan batin.

Menurut saya kita tidak perlu berbagi semuanya dengan
orang-orang yang sama hanya agar mereka menganggap kita tidak membosankan.
Menurut saya, hidup adalah kumpulan fragmen. Kita bisa melewati setiap fragmen dengan orang-orang yang berbeda dan
mengalami hal-hal yang berbeda pula. Kumpulan fragmen itu seperti puzzle yang musti kita satukan. Dan jika
ada banyak petualangan di antara rangkaian fragmen yang monoton dan
membosankan, itu artinya hidup kita sudah cukup mengasyikkan.

Jadi, jangan kuatir, sahabat. Kalau ada yang menyebut kita
membosankan, monoton, repetitif atau semacamnya. Itu bisa jadi adalah sebuah
tekanan kelompok. Kalau tekanan tersebut adalah tekanan yang positif, fine. Tapi kalau tekanan kelompok itu
adalah sebuah ajakan sesat, tinggalkan. Kita tidak mau berakhir dengan
petualangan konyol yang justru akan menjerumuskan hidup kita menjadi sesuatu
yang kita sesali, bukan?

(Jakarta, Juli 2008, untuk sahabat saya, si Monoton.)

SAHABAT SAHABAT YANG BERBAGI CINTA

Suatu malam beberapa jam setelah saya mem posting tulisan bernada retoris “Di Mana
Kita Bisa Menemukan Cinta”, sepotong SMS dari seorang sahabat masuk.  

Benar kamu akan
memberikan cintamu untuk siapapun yang membutuhkan? Jangan mengumbar janji.
Bagaimana kalau seseorang datang dan meminta cintamu dan ternyata kamu tidak
bisa memenuhinya?Bagaimana kalau orang itu saya, misalnya?

Nafas saya sempat terhenti. Bener. Otak saya tiba-tiba
berhenti bekerja karena memikirkan jawaban apa yang harus saya ketik untuk
membalas SMS sahabat saya itu.

Pagi harinya, saya masih berpikir tentang pesan singkat itu.
Apa perlu saya merevisi tulisan saya itu? Artikel dalam blog masih bisa diedit.
Tapi buletin sudah terlanjur beredar. Singkatnya, tulisan tersebut sudah sempat
dibaca sahabat-sahabat yang lain.

Saya (seperti biasanya) duduk dan merenung. Apa iya saya
sudah mengumbar janji dan cinta?

Saya tidak pernah bermaksud seperti itu. Saya justru
mengajak agar saat cinta itu tak kunjung kita temukan, sebaiknya kita berendah
hati untuk menerima keadaan. Dan pada saat itulah, kita perlu memberikan cinta
kepada orang lain, tolong tidak diartikan secara sempit sebagai kekasih,
istri, suami, pacar, kekasih, yayang atau apapun istilahnya. Tolong kalimat itu
diterjemahkan sebagai ajakan untuk bisa lebih mau berjiwa sosial, beramal,
bersedekah.

Tentang pasangan hidup, jika jodoh tak kunjung kita dapatkan, pasrahkan kepada Tuhan. Dia pasti
sudah menyiapkan untuk kita seorang belahan jiwa. Jika tidak sekarang, mungkin
pada suatu masa. Jika tidak di dunia, mungkin dia sudah menunggu kita di surga.

Seorang sahabat dari Jogja menulis pesan kepada saya. Bahwa
cinta yang tertinggi bisa kita dapatkan dari Tuhan. Saya setuju sekali. Sahabat
yang lain dari Kalimantan, mengatakan kepada saya, bahwa nikah atau tidak nikah
adalah pilihan. Namun yang pasti, sebuah keputusan harus membawa kebahagiaan bagi semuanya.
Bagaimana menikah kalau ternyata justru merusak semuanya? Dan bagaimana dengan
para sahabat yang justru memberikan banyak kontribusi bagi sesama, murah hati
dan berjiwa sosial tinggi, namun tetap melajang hingga akhir hayatnya? Tuhan
pasti punya rumusan dan neraca untuk menimbang itu semua secara adil.

Sumpah, saya tidak bisa memberikan jawaban yang bisa memuaskan
semuanya. Semua jawaban bisa benar. Semua individu memiliki versi cintanya
masing-masing.

Seorang sahabat merasa sering ditolak dan diabaikan. Seorang
yang lain merasa sering tidak diperdulikan. Jangan tanyakan kepada saya apa
penyebabnya karena saya pun tak jarang mengalaminya. Dulu, saya terperangkap
untuk langsung bereaksi dan membenci keadaan dan orang yang menolak dan
mengabaikan saya.

Tetapi untuk apa? Saya percaya semua selalu ada alasan dan
sebab. Daripada kurus dan pusing karena memikirkan sebuah penolakan, mengapa
kita tidak menyusun strategi penyerangan berikutnya sambil makan makanan enak
dan minum minuman segar? Berpikir positiflah tentang diri kita. Kalau ditolak, ya bilang saja:

“Belum rejeki dia dapetin gue”

Titik.

Kembali ke tulisan saya yang ternyata telah disalahartikan
dengan sukses. Mungkin karena saya juga sudah salah menulis. Saya yang semula
hendak merevisi tulisan tersebut, malah membuat lanjutannya. Bukan untuk
memperpanjang masalah tentang di mana kita bisa menemukan cinta. Tetapi justru
untuk memperbaiki kesalahan saya. Dan menjadi satu bukti, bahwa saya hanya
manusia biasa. Tidak sempurna. Retak-retak seperti gading dalam sebuah
ungkapan.

Untuk sahabat-sahabat yang telah bersedia berbagi cinta
dengan saya, saya mencintai kalian semua.

( Wadooooooooooooohhhhhhhhhhh…………..bisa disalahartikan
lagi deeehhhhh. Di delete gak ya? Gak
usah.)

Kali ini serius.

Untuk sahabat-sahabat yang sudah bercerita tentang kisah
cinta kalian, kepada saya. Terima kasih sudah mempercayai saya. Maaf, kalau
saya belum bisa melakukan hal yang sama. Karena saya bukan sebuah buku yang
terbuka.

( Jakarta, Awal Juli 2008, setelah retorika di mana kita
bisa menemukan cinta)

DI MANA KITA BISA MENEMUKAN CINTA?

Tulisan panjang ini
saya persembahkan untuk sahabat-sahabat saya yang masih terus mencari cinta.

Beberapa waktu lalu ketika saya mengunjungi tante saya yang
sakit keras, seorang sepupu saya berujar kepada saya.

“Hei! Cepat nikah! Kamu musti meneruskan keturunan.”

Sesiap-siapnya saya dengan tuntutan-tuntutan semacam itu
dari keluarga besar, saya sempat terperanjat ketika justru tekanan seperti itu
dikatakan di depan tante saya yang masih dalam kondisi sakit. Beliau yang masih
lajang di usianya yang lebih setengah abad mungkin samar-samar mendengar
tuntutan yang dilayangkan kepada saya itu. Saya merasa tidak nyaman sekali. Tetapi
entah mengapa saya menjawab dengan berkata:

“Tenang, sudah ada calon kok.” Kata saya (berbohong) sambil
tersenyum meyakinkan sepupu-sepupu saya.

Tetapi tiba-tiba tante saya menunjuk ke satu arah dengan
ekspresi sangat ketakutan. Ia mencoba bicara namun tak terdengar sedikit pun suara. Jari telunjuknya terus
menuding ke satu arah. Saya merasa mungkin ada ‘makhluk’ lain di situ yang
membuatnya ketakutan. Saya mencoba menyadarkannya dan membimbingnya
beristighfar. Tetapi ‘sesuatu’ yang terus ditunjuknya itu  menghilang di atas kepalanya dan perempuan itu
pun akhirnya kejang. Matanya membalik dan hanya menyisakan putih mata. Saya merasa bersalah.

Apakah pertanyaan itu yang membuatnya merasa dirinya tak
berarti karena tidak kunjung menemukan jodohnya? Atau kebohonganku menjawab
tuntutan tersebut ? Atau memang benar-benar ada ‘makhluk’ lain yang dilihatnya
malam itu?

Entahlah, yang pasti, malam itu kami semua harus terjaga dan
mencoba menyadarkan kembali tante saya dari serangan kejang dan panik itu.

Seorang sahabat baik yang kukenal sejak di SMP, dinikahi pria
terhormat dari keturunan bangsawan Jawa. Dulu, saya jatuh hati setengah mati
kepada cewek super tomboy ini. Ketika beberapa tahun kemudian saya menyatakan
perasaan saya kepadanya, dia menolak dengan halusnya:

“Nino, aku tidak ingin kehilangan kamu. Karena itu aku cuma
bisa jadi sahabatmu.”

Ternyata sebuah penolakan bisa sangat melukai seperti
sebilah silet Tatra baru. Persahabatan kami sempat renggang karena saya tidak
bisa menerima penolakan itu. Dan lucunya, setiap kali saya merasakan cinta dan
menyatakan cinta itu kepada seseorang yang saya cintai, selalu berakhir dengan
penolakan. Dan setiap kali itu pula sakit hati saya rasakan. Tetapi waktu
memang menyembuhkan luka hati saya, meskipun perlu waktu lama. Lalu saya dan
sahabat-sahabat saya itu pun kembali berbagi cerita lagi.

Ketika sahabat saya itu bekerja untuk sebuah NGO di Maluku
sana, kami sempat berkomunikasi lewat e-mail dan ngobrol panjang lebar, kadang
jorok dan seringkali vulgar. Tapi semuanya selalu dalam konteks lucu dan
bergurau. Dia yang saya tahu sudah live
happily
dengan suami bangsawannya, tiba-tiba membuat pengakuan.

“Nino, aku ketemu orang ini. EBS.”

EBS? Tanyaku bingung.

“Evolusi Belum Sempurna.”

Istilah itu dipakainya untuk menggambarkan sosok laki-laki
idaman lain yang waktu itu mengisi hari-harinya saat jauh dari suami tersayang.
Beneran! Dia sayang suaminya. Saya pernah bertemu keduanya beberapa tahun lalu.
Dan mereka berdua begitu bahagia. Tetapi cinta? Dia mengatakan tidak merasakannya.
Dan dengan makhluk dari Maluku yang evolusinya belum sempurna itu, dia
termehek-mehek! Jatuh hati. Tibo tangi,
jatuh bangun tidak sadarkan diri. Ia hanya merasakan hepi, hepi dan hepi. Si
lelaki EBS idaman kawan saya ini punya sederet atribut yang membuat kawan saya
ini seperti musafir yang kehausan di padang pasir. Sosoknya tegap tinggi dengan
kulit gelap khas pria Indonesia timur. Wajahnya laki-laki banget, katanya. Dan
yang membuat makhluk itu menyandang predikat EBS dari sobat saya itu adalah,
bulu-bulu yang tumbuh di seluruh permukaan tubuhnya?

Dan ketika beberapa waktu kemudian saya berkesempatan pergi
dan dua bulan tinggal di Maluku, saya mengerti kebahagiaan apa yang dimaksud
sahabat saya yang masih centil itu.

Tetapi benarkah itu cinta atau sekedar nafsu? Cuma dia yang
tahu.

 (Halo! Kamu ke Maluku
atau ke jaman purba pakai mesin waktu?
)

Dia cuma ngakak di box
chatting
dengan menampilkan icon
si wajah bulat kuning yang tertawa tergelak-gelak.

Sahabat saya yang lain, digugat cerai oleh istrinya karena
rutinitas pekerjaannya yang membuatnya harus sering pergi ke luar kota
meninggalkan istrinya. Ketika saya tanyakan apakah mereka bermasalah dengan
rumah tangganya, ia hanya menjawab sebenarnya semuanya baik-baik saja. Hanya
masing-masing memiliki ekspektasi yang berlebihan antar mereka sendiri. Dan mereka
akhirnya bercerai juga.

Saya yang sudah berumur 35 tahun ini dan masih belum punya
apa-apa, sering duduk dan merenungkan cerita-cerita itu. Sebagai laki-laki
Jawa, saya merasa sangat belum sempurna. Tak ada satupun yang saya miliki dari hal-hal
yang disyaratkan; artha(uang), griya(rumah), kukila (burung piaraan, klangenan,
biasanya perkutut), turangga (
tunggangan, bisa berupa mobil atau motor) dan wanita (istri). ( Wahai orang-orang Jawa yang membaca tulisan ini,
kalau 5 kriteria tersebut ada yang salah, tolong dikoreksi ya.)

Lalu saya berpikir kalau mereka yang sudah menemukan
pasangan dan hidup mapan saja bisa liak
liuk
, gonjang-ganjing seperti itu, apalagi saya yang belum siap apa-apa dan
mau melamar anak orang? Tapi saya merasa punya hal-hal baik dan positif dalam
diri saya yang tak bisa dinilai dengan banyaknya materi.

Pernikahan itu berlandaskan apa sih sebenarnya? Cinta atau
logika? Jika salah satunya, atau mungkin keduanya, bukankah selalu ada kompromi
di tengahnya? Kompromi bahwa kita akan menerima pasangan kita dengan segala
kekurangan dan kelebihannya. Saya sih setuju saja jika ada orang-orang yang
masih mencari cinta. Sayapun begitu. Meskipun untuk saya saat ini, logika sudah
banyak berperan. Saya hanya tidak bisa menerima jika seseorang yang sudah
terikat dalam sumpah pernikahan lalu memiliki hubungan lain di luar
pernikahannya.

Tapi asli, saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Jadi saya
hanya manggut-manggut sambil ketawa
lebar mendengar pencarian cinta sahabat-sahabat saya yang mengisahkan semuanya
dengan perasaan berbunga-bunga. Ada yang menemukan cinta dalam gairah dengan pria
tampan yang belum berevolusi sempurna, ada yang mendapatkannya dari sepasang
buah dada juicy yang tak didapat dari
istrinya, ada yang memperolehnya dari perhatian pria beristri yang tak pernah
diraihnya dari siapapun dan ada pula yang mencapainya dengan susah payah bak seorang pangeran
yang menyelamatkan seorang putri dari atas puri setelah bertarung dengan naga
berapi.

Saya yakin, saat ini saya bukan satu-satunya makhluk Tuhan yang
masih mencari cinta. Tetapi jika sampai kapanpun saya tak kunjung menemukannya,
saya tidak akan lagi mencarinya. Saya akan memberikannya untuk seseorang yang
membutuhkan itu dari saya. Siapa tahu, pada saat itu, ternyata dia juga sedang
ingin memberikan cintanya. Mungkin dialah jodoh saya. Amin.

 

(Jakarta, awal Juli 2008. Untuk sahabat saya A.H.)