Suatu malam, seorang sahabat mengirim sms kepada saya.
Isinya sebuah pertanyaan: Nin, apa bedanya toleran dan kompromi?
Saya
tidak segera menjawab sms itu. Butuh waktu semalam bagi saya untuk menemukan
jawaban yang tepat, apalagi kalau harus ditulis dalam bentuk pesan pendek.
Malam itu, pertanyaan sahabat saya itu saya bawa tidur.
Sahabat
saya yang lain pernah bercerita kepada saya tentang bagaimana suaminya
diam-diam menikah lagi. Pendeknya, sahabat saya itu dimadu oleh suaminya yang
dapat istri baru. Dan beberapa waktu kemudian, ketika sahabat saya itu siap
mengajukan gugatan cerai, suaminya mengabarkan padanya lagi bahwa dia sudah
kawin lagi. Jadi, suami sahabat saya itu punya tiga istri; termasuk sahabat
saya itu. Benar-benar pejantan tangguh.
Dia
bertanya kepada saya; ‘Nin, menurutmu aku toleran atau kompromi?”
Ada
banyak pertanyaan serupa yang tiba-tiba melayang di sekeliling saya.
Apakah
saya toleran atau kompromi?
Setelah
semalaman tidur dan membawa pertanyaan saya itu ke dalam ruang mimpi saya, saya
bangun pagi dengan segar dan membawa sebuah jawaban. Saat kita bertoleransi
terhadap orang lain, kita melakukannya dengan sukarela. Sedangkan saat
berkompromi, dimana nilai kebenaran yang kita anut sudah berbenturan dengan nilai
yang dianggap benar atau dibenarkan oleh orang lain, kita terpaksa melakukannya
karena satu dan lain hal. Seperti itukah?
Saya masih ingat pelajaran
PMP atau Pendidikan Moral Pancasila yang saya dapat waktu 12 tahun sekolah
dulu; SD, SMP dan SMA. PMP mengajarkan kita untuk bertoleransi terhadap pemeluk
agama atau kepercayaan yang tidak sama dengan agama yang kita anut. Di dalam pelajaran
itu, seingat saya, tidak pernah diajarkan tentang kompromi, tetapi kita
dituntun untuk tahu dan sadar tentang nilai-nilai benar dan salah. Dan saat kita membiarkan terjadinya penyelewengan terjadi
di sekitar kita untuk mengamankan posisi kita, itulah kompromi. Saat di mana kita
diam ketika melihat orang lain korupsi. Waktu kita bungkam ketika tahu ada
orang lain ditindas.
Jadi bagaimana dengan
sahabat-sahabat saya berikut ini? Seorang sahabat gusar melihat yayasan pendidikan tempat dia bekerja
mengambil untung besar, lalu memutuskan untuk keluar dari tempatnya kerja.
Sahabat lain hengkang dari perusahaan tambang tempatnya kerja karena melihat di
depan matanya para pejabat lokal mencaplok tanah warganya. Sahabat yang lain
lagi mundur dari posisi community development supervisor dari sebuah perusahaan
tambang karena tidak tahan melihat hutan digunduli gila-gilaan untuk menggali
materi tambang.
Setahu saya ada orang-orang
yang bisa sangat fleksibel terhadap sebuah kecurangan atau ketidakadilan yang terjadi
di sekitarnya. Asal tidak ikut bermain, semua akan aman-aman saja, alasan
mereka.
Beberapa waktu lalu saya
sempat membaca sebuah artikel, tentang Nasir Abas, mantan Anggota Jamaah
Islamiyah, asal Malaysia yang direkrut untuk dilatih di Afghanistan.
‘I found it very heroic, a dream come true,’ ujarnya pada Time.
Selanjutnya, laki-laki itu
lalu direkrut untuk menjadi instruktur persenjataan di kamp pelatihan para
mujahid. Lalu naik pangkat menjadi Ketua Mantiqi Three, salah satu unit
pelatihan Jemaah Islamiyah.
Waktu berlalu. Sejak Natal
2000, gelombang pengeboman di beberapa tempat di Indonesia mulai ramai terjadi.
Korban pun berjatuhan. Dan entah bagaimana, Nasir Abas pun gundah. Laki-laki ini yakin Nabi tidak pernah
mengajarkan kekerasan semacam itu.
Dan ketika di 2002 bom Bali
meledak dan menewaskan sekitar 200an orang, Nasir tercenung karena diantara
yang terlibat dalam pengeboman itu terdapat dua orang yang pernah dilatihnya
dulu.
‘I tried to talk to people in the organization, but what could you do
when they wouldn’t listen?’ tanyanya dengan gusar.
Selanjutnya, setelah
tertangkap dan dijatuhi hukuman untuk kasus keimigrasian, Nasir justru
bekerjasama dengan kepolisian dan ia pun mendapat keringanan hukuman.
Saat membaca majalah itu,
saya berpikir, apa yang dilakukan Nasir itu suatu bentuk toleransi atau
kompromi? Baik saat ia masih menjadi instruktur bagi para mujahid, maupun
ketika bekerja sama dengan kepolisian?
Saya lalu menyadari bahwa
antara perbedaan toleran dan kompromi sangat tipis. Mungkin setipis kulit
ari. Tapi sama seperti kulit, yang bisa gatal, panu, kadas, kudis dan kurap,
toleran dan kompromi juga bisa budukan dan kurapan. Mungkin untuk menjaga
kehalusannya, kita perlu lotion atau
malah salep kulit.
Jadi pertanyaan-pertanyaan
sahabat-sahabat saya tentang toleran dan
kompromi sementara ini terjawab sudah. Tapi justru saya yang saat ini butuh bantuan.
Saya orang yang sangat toleran, tetapi saya belum bisa kompromi. Lotion atau
salep kulit apa yang perlu saya pakai kalau antara toleran dan kompromi cuma
setipis kulit ari? Karena saat ini ada banyak sekali hal yang harus saya
kompromikan.
(Jakarta, 8 Juni 2008)
Home > About This Post
This entry was Posted by manino on Sunday, June 22nd, 2008, at 5:26 am, and was filed in Uncategorized.
Subscribe to the
RSS 2.0 feed for all comments to this post.
Post a Comment