Tiger Cage Syndrome

            Orang-orang yang sangat mengenal
saya, pasti pernah melihat saya sebagai sosok yang ‘peragu’. Seorang mentor  di sebuah lembaga bahasa Indonesia tempat saya
pernah bekerja, bahkan mengatakan saya ’mengidap’ Tiger Cage Syndrome.

 Saya
tidak yakin apakah istilah itu benar-benar ada atau hanya terminologi yang
dipakainya. Sindrom kandang macan
mengggambarkan suatu keadaan di mana seseorang merasa ragu dan takut melangkah
karena resiko dan konsekuensi yang belum tentu terjadi. Ketakutan dan
kekuatiran sudah lebih dulu  mengintimidasinya sebelum dia mengambil keputusan.

 Sebagai
contoh, suatu ketika saya lupa membuat persiapan mengajar untuk kelas hari
berikutnya. Dan ternyata kegiatan belajar di kelas saya tidak berjalan bagus.
Murid mengajukan komplain kepada koordinator guru pengajar. Mengetahui hal itu,
bukannya menghadap koordinator dan  minta
maaf serta mengakui kesalahan karena kurang persiapan, saya memilih untuk
menghindar.

 “Aaah, koordinator pasti akan menegurku. Dia
pasti akan memberiku sangsi
.” Pikiran-pikiran seperti itu menyesaki benak
saya saat itu.

 Atau
contoh lain, saat saya hendak memutuskan untuk memulai bisnis sendiri. Saya
berpikir, aduh, nanti pasti gagal. Aduh, persaingan sangat ketat. Saya tidak
akan bisa bertahan lama. Dan lain-lain.

 Pemikiran-pemikiran
seperti itu menjadi semakin bertumpuk. Saya
menjadi sangat judgmental bahwa
orang-orang akan marah atau sinis atas kesalahan yang saya lakukan, atau
situasi sekitar akan memburuk jika saya mengambil suatu keputusan tertentu. Itu
mengapa saya sering tampak ragu dan terkesan lamban.

Padahal jika saya
mau berpikir tenang sebentar dan melihat inti masalahnya, belum tentu
situasinya akan benar-benar buruk seperti yang saya bayangkan.

Selanjutnya saya
mulai ‘mengakui’ kepada diri sendiri bahwa saya memang sedikit lamban. Saya pikir,
kadang-kadang kita memang perlu dorongan untuk membuka mata dan melakukan
perbaikan internal. Sedikit demi sedikit saya mulai menyingkirkan kekuatiran
dan ketakutan yang saya rasakan setiap kali akan mengambil keputusan.

Awalnya memang
sulit, karena pada dasarnya saya adalah tipe pribadi yang sangat berhati-hati
dan tidak ingin gegabah dalam membuat keputusan. Tetapi ternyata beberapa kali saya
dihadapkan pada kesempatan di mana saya harus mengambil keputusan dengan cepat,
bukan lagi dalam hitungan menit, tetapi detik. Lalu apa yang terjadi? Tidak
terjadi apapun! Semua baik-baik saja. Kekuatiran-kekuatiran yang dulu seringkali
menghantui saya tidak pernah terjadi.

            Seorang sahabat, psikolog dan konsultan sumber
daya manusia, mengatakan bahwa tidak ada keputusan yang salah atau benar. Yang
ada dari sebuah keputusan adalah resiko dan hasilnya. Jadi, jangan pernah
menyalahkan diri sendiri apabila terjadi sebuah kesalahan setelah menetapkan
sebuah keputusan. Jika resiko dan konsekuensi yang dihadapai ternyata jauh dari
harapan, terima dan perbaiki di waktu pembuatan keputusan berikutnya.
Itu saja.

TOLERAN ATAU KOMPROMI?

            Suatu malam, seorang sahabat mengirim sms kepada saya.
Isinya sebuah pertanyaan: Nin, apa bedanya toleran dan kompromi?

 Saya
tidak segera menjawab sms itu. Butuh waktu semalam bagi saya untuk menemukan
jawaban yang tepat, apalagi kalau harus ditulis dalam bentuk pesan pendek.
Malam itu, pertanyaan sahabat saya itu saya bawa tidur.

 Sahabat
saya yang lain pernah bercerita kepada saya tentang bagaimana suaminya
diam-diam menikah lagi. Pendeknya, sahabat saya itu dimadu oleh suaminya yang
dapat istri baru. Dan beberapa waktu kemudian, ketika sahabat saya itu siap
mengajukan gugatan cerai, suaminya mengabarkan padanya lagi bahwa dia sudah
kawin lagi. Jadi, suami sahabat saya itu punya tiga istri; termasuk sahabat
saya itu. Benar-benar pejantan tangguh.

 Dia
bertanya kepada saya; ‘Nin, menurutmu aku toleran atau kompromi?”

 Ada
banyak pertanyaan serupa yang tiba-tiba melayang di sekeliling saya.

 Apakah
saya toleran atau kompromi?

 Setelah
semalaman tidur dan membawa pertanyaan saya itu ke dalam ruang mimpi saya, saya
bangun pagi dengan segar dan membawa sebuah jawaban. Saat kita bertoleransi
terhadap orang lain, kita melakukannya dengan sukarela. Sedangkan saat
berkompromi, dimana nilai kebenaran yang kita anut sudah berbenturan dengan nilai
yang dianggap benar atau dibenarkan oleh orang lain, kita terpaksa melakukannya
karena satu dan lain hal. Seperti itukah?

Saya masih ingat pelajaran
PMP atau Pendidikan Moral Pancasila yang saya dapat waktu 12 tahun sekolah
dulu; SD, SMP dan SMA. PMP mengajarkan kita untuk bertoleransi terhadap pemeluk
agama atau kepercayaan yang tidak sama dengan agama yang kita anut. Di dalam pelajaran
itu, seingat saya, tidak pernah diajarkan tentang kompromi, tetapi kita
dituntun untuk tahu dan sadar tentang nilai-nilai benar dan salah. Dan saat  kita membiarkan terjadinya penyelewengan terjadi
di sekitar kita untuk mengamankan posisi kita, itulah kompromi. Saat di mana kita
diam ketika melihat orang lain korupsi. Waktu kita bungkam ketika tahu ada
orang lain ditindas.

Jadi bagaimana dengan
sahabat-sahabat saya berikut ini? Seorang sahabat gusar melihat yayasan pendidikan tempat dia bekerja
mengambil untung besar, lalu memutuskan untuk keluar dari tempatnya kerja.
Sahabat lain hengkang dari perusahaan tambang tempatnya kerja karena melihat di
depan matanya para pejabat lokal mencaplok tanah warganya. Sahabat yang lain
lagi mundur dari posisi community development supervisor dari sebuah perusahaan
tambang karena tidak tahan melihat hutan digunduli gila-gilaan untuk menggali
materi tambang.

Setahu saya ada orang-orang
yang bisa sangat fleksibel terhadap sebuah kecurangan atau ketidakadilan yang terjadi
di sekitarnya. Asal tidak ikut bermain, semua akan aman-aman saja, alasan
mereka.

Beberapa waktu lalu saya
sempat membaca sebuah artikel, tentang Nasir Abas, mantan Anggota Jamaah
Islamiyah, asal Malaysia yang direkrut untuk dilatih di Afghanistan.

I found it very heroic, a dream come true,’ ujarnya pada Time.

Selanjutnya, laki-laki itu
lalu direkrut untuk menjadi instruktur persenjataan di kamp pelatihan para
mujahid. Lalu naik pangkat menjadi Ketua Mantiqi Three, salah satu unit
pelatihan Jemaah Islamiyah.

Waktu berlalu. Sejak Natal
2000, gelombang pengeboman di beberapa tempat di Indonesia mulai ramai terjadi.
Korban pun berjatuhan. Dan entah bagaimana, Nasir Abas pun gundah. Laki-laki ini yakin Nabi tidak pernah
mengajarkan kekerasan semacam itu.

Dan ketika di 2002 bom Bali
meledak dan menewaskan sekitar 200an orang, Nasir tercenung karena diantara
yang terlibat dalam pengeboman itu terdapat dua orang yang pernah dilatihnya
dulu.

I tried to talk to people in the organization, but what could you do
when they wouldn’t listen?
’ tanyanya dengan gusar.

Selanjutnya, setelah
tertangkap dan dijatuhi hukuman untuk kasus keimigrasian, Nasir justru
bekerjasama dengan kepolisian dan ia pun mendapat keringanan hukuman.

Saat membaca majalah itu,
saya berpikir, apa yang dilakukan Nasir itu suatu bentuk toleransi atau
kompromi? Baik saat ia masih menjadi instruktur bagi para mujahid, maupun
ketika bekerja sama dengan kepolisian?

Saya lalu menyadari bahwa
antara perbedaan toleran dan kompromi sangat tipis. Mungkin setipis kulit
ari. Tapi sama seperti kulit, yang bisa gatal, panu, kadas, kudis dan kurap,
toleran dan kompromi juga bisa budukan dan kurapan. Mungkin untuk menjaga
kehalusannya, kita perlu lotion atau
malah salep kulit.

Jadi pertanyaan-pertanyaan
sahabat-sahabat saya tentang toleran dan
kompromi sementara ini terjawab sudah. Tapi justru saya yang saat ini butuh bantuan.
Saya orang yang sangat toleran, tetapi saya belum bisa kompromi. Lotion atau
salep kulit apa yang perlu saya pakai kalau antara toleran dan kompromi cuma
setipis kulit ari? Karena saat ini ada banyak sekali hal yang harus saya
kompromikan.

(Jakarta, 8 Juni 2008)

MALAIKAT PENCABUT NYAWA

Tahun 1992, setamat SMA, ketika saya dinyatakan tidak lulus
tes AKABRI karena buta warna parsial merah dan hijau, hati saya hancur. Saya
menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung. Membanting gelas dan piring. Menjambak
rambut saya sendiri. Melukai diri ini…( Stop! Lebai ya. Terlalu hiperbola. Ndak
kok. Saya cuma sedih dan sempat kecewa, dan lalu bertanya pada Tuhan; kok bisa? Wong sejak kecil saya suka menggambar dan hapal di luar kepala lagu
Balonku Ada Lima yang rupa-rupa warnanya itu. Lha kok bisa dibilang buta warna?)

Hari berganti. Tahun 2000 ketika saya sempat mendapat urutan
nomor dua kontes News Presenter Liputan
6 yang diadakan SCTV di Jogja, entah kenapa saya tidak menindaklanjuti peluang
itu untuk bisa menjadi presenter berita di stasiun tivi yang aktual, tajam dan
terpercaya itu. Padahal, produser SCTV waktu itu, (mungkin) menunggu saya. (hehehe ini bercanda.)

Dari dua kisah di atas, Tuhan sepertinya sudah mengatur
jalan hidup saya. Satu, saya tidak
menjadi tentara (atau polisi). Dua, Saya tidak jadi tampil di tivi membawakan
berita sebagai news presenter. Tanya
kenapa? ( Yang ini bukan iklan rokok.)

Saya tidak bisa membayangkan kalau saya jadi polisi atau
tentara. Lha wong saya orangnya kaku,
tidak fleksibel dan cenderung robotic.
Saya bisa membumihanguskan demonstran-demonstran yang anarkis. Saya bisa
menghajar habis pelanggar-pelanggar rambu-ramu lalu lintas. Saya bisa menembak
kening para pejabat yang terlibat korupsi tanpa perlu menganut praduga tak
bersalah. Pokoknya, saya bisa menjadi tangan hukum yang sangat ditakuti,
disegani dan yang parahnya lagi… dikutuki.

Begitu pula kalau saya jadi news anchor dan harus mewawancarai nara sumber yang ternyata memang
kriminal, korup, penjahat, tukang ngemplang uang rakyat, dan lain sebagainya.
Apa iya, saya tidak akan mejambak-jambak rambut mereka, menonjok muka mereka,
menjewer telinga mereka. Pendek kata,
habislah mereka oleh saya di depan pemirsa di seluruh nusantara.

Untungnya, sekali lagi untungnya, Tuhan kok masih menyayangi saya dengan tetap menjadikan apa adanya saya.
Yang leda-lede, mencla-mencle, kadang malas mandi malas makan, tapi kalau rajin
mandi bisa sehari lima kali dan kalau rajin makan malah ngabisin jatah orang.
Ya kalau saya gemas dengan kondisi yang terjadi, saya masih bisa memaki-maki di
depan televisi atau nulis di blog. Yang terakhir terasa lebih positif dan
produktif.

Alhamdulillah, Gusti Allah masih menjadikan saya manusia biasa
yang bisanya berdoa, agar Ia mau mengampuni dosa-dosa para pejabat negeri ini
sehingga negara dan bangsa ini bisa dihindarkan dari kehancuran.

Padahal kalau boleh meminta, saya ingin punya alter ego. Sosok yang bisa membasmi
semua kejahatan, kecurangan, dan kebiadaban di bumi tercinta ini. Saya ingin
menjadi Malaikat Pencabut Nyawa!
Malaikat yang khusus mencabut nyawa oknum pejabat-pejabat korup.

Tapi apa iya saya bisa steril dari amplop-amplop tebal
berisi dollar atau kado-kado mewah berisi barang-barang mahal?

Waduh, berat
betul. Saya kok ndak bisa janji ya. Saya
takut suatu saat saya menerima ‘pemberian’ itu saya akan berkata; “Maaf, saya
hanya manusia biasa yang tak lepas dari khilaf dan dosa.” Atau yang lebih
parah, jangan-jangan saya malah terangsang mendengar suara pejabat-pejabat
korup yang menelpon saya untuk mengatur skenario penangkapan saya. Party line, bibeh!

(Kudus, 17 Juni 2008)

APA PERBEDAAN MAX HAVELAAR DAN MAX MOEIN?

DI JAMAN KOMPENI, MAX HAVELAAR SANG TUAN TANAH, MEMPERJUANGKAN HAK KAUM PRIBUMI.
DI MASA KINI, MAX MOEIN, SALAH SATU ANGGOTA DEWAN DARI FRAKSI PDI-P MELECEHKAN PEREMPUAN PRIBUMI.

(Jakarta, 6 Juni 2008)

MUSLIM VS MUSLIM? LHA KEPRIBEN KIYE?


 Beberapa jam setelah saya meng upload tulisan ISLAM MEMBELA DIRINYA
SENDIRI (Peristiwa Monas 1 Juni 2008), saya langsung mendapat banyak komentar
di blog. Semua setuju bahwa tindakan  kekerasan yang telah dilakukan FPI  terhadap para simpatisan AKK-BB (Aliansi
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan)memang patut disesalkan. Seorang
sahabat kebetulan berada di tempat kejadian, namun datang terlambat bersama
serombongan polisi. Dia menyesal tidak bisa menolong saat anak-anak dan ibu-ibu
dikejar-kejar, sedangkan kaum laki-lakinya dipukuli. Tetapi ada pula komentar
dari sahabat yang lain yang mengatakan bahwa ini buntut dari ketidaktegasan
sikap pemerintah terhadap kelompok Ahmadiyah. Dan perlu dimaklumi kalau FPI
sebagai laskar pembela Islam kecewa dan melepaskan kemarahannya dengan
menyerang AKK-BB yang waktu itu diduga akan melakukan apel siaga Ahmadiyah.

 Waktu saya membuka satu persatu
komentar yang dikirimkan oleh para sahabat saya itu, saya sempat kuatir. Jangan-jangan
justru saya yang dimaki-maki karena menulis kekecewaan saya terhadap FPI.
Tetapi semua komentar yang masuk sangat bijaksana. Kritik terhadap saya pun
disajikan dengan santun dan dewasa. Jadi, ini bisa jadi awal dari diskusi
panjang tentang Islam. Insya Allah.

 Sahabat-sahabat yang lain menelpon
dan menggoda saya.

 “Wah,
Mas lagi musuhan sama FPI, ya? Ha ha ha.”

 Saya tertawa mendengarnya. Lalu saya
jawab bahwa saya tidak musuhan dengan FPI, wong
kenal saja tidak. Saya cuma kecewa. Sama kecewanya saya terhadap sikap
pemerintah yang tidak tegas dalam kasus ini.

 Sehari setelah FPI menyerbu
simpatisan AKK-BB di Monas, FPI di Cirebon dan di Yogyakarta diserang massa.
Entah massa dari kelompok mana. Tetapi tampaknya FPI justru lebih siap dengan
serbuan itu, bukan mereka yang kocar-kacir, tapi malah para penyerbu itu yang
dibuat kalang –kabut. FPI memang mooi.
Sikap antisipatifnya patut diacungi jempol.

Tetapi melihat berita itu di televisi, saya cuma membatin : lha kepriben kiye? Muslim kok lawan muslim? Jeruk kok makan jeruk?

Jauh di ujung timur sana, di kampung Loleba,  Halmahera Timur, tempat saya bekerja beberapa
waktu lalu, di antara sekitar 200 orang penduduknya yang beragama nasrani,
hanya ada satu keluarga muslim dengan sekitar 6 anggota keluarga.Tidak ada
mesjid satupun. Meskipun demikian, mereka hidup rukun.

Satu-satunya tempat ibadah untuk kami melakukan shalat lima
waktu dan ibadah shalat Jum’at hanyalah mushala di camp kami. Itu pun sangat sederhana, dindingnya papan kayu dengan
atap terpal yang berlobang di sana sini, sehingga kalau hari terik, sinar matahari
langsung dengan lancang masuk, dan kalau hujan lantai mushala yang hanya
dilapisi plastik menjadi becek. Azan dikumandangkan dengan malu-malu oleh muazin
dadakan yang dipaksa dan didorong-dorong oleh para jemaah lain.

Nah, di Jakarta ini kan ada ratusan
mesjid dan mushala, mungkin malah sudah menembus angka ribuan, mesjid yang indah
juga banyak, ada banyak pengajian dan kajian Al Quran. Lha muslim sama muslim kok
malah pentung-pentungan?

Lalu saya berpikir. Apanya yang aneh? Di negeri ini polisi
sama tentara saja bisa saling hantam. Gus Dur sebagai Ketua Dewan Suro saja
bisa menendang Muhaimin Iskandar dari jabatannya sebagai Ketua Umum PKB. Pemilihan
pilkada bisa berakhir rusuh. Sudah, tidak usah jauh-jauh, wong sesama saudara kandung saja bisa kerah kok.

Kali ini saya tidak mengelus dada seperti hari minggu sore
saat melihat berita penyerbuan FPI. Saya hanya diam sambil meneguk Pocari Sweat dingin kegemaran saya.

Heran saya. Heran sama siapa? Ya sama diri saya sendiri. Kok
seperti orang tidak pernah belajar dari pengalaman. Iqra! Iqra! Baca! Baca! Kita
hidup di Indonesia. Sebuah negeri di mana aturan bisa tidak dipatuhi dan hukum bisa
dibeli. Lalu kenapa saya harus heran ya kalau setelah kejadian itu sesama saudara
muslim bisa saling hajar.

Ya, kali ini saya cuma menonton berita itu.

Sedih? Tidak. Kecewa? Nggak juga.

Lalu?

Kan sudah saya bilang, saya cuma diam saja sambil minum
minuman pengganti ion. Saya lagi butuh ion pengganti tubuh saya yang hilang
setelah seharian ngeluyur.

 

(Jakarta, 3 Juni 2008)

ISLAM MEMBELA DIRINYA SENDIRI

ISLAM MEMBELA DIRINYA SENDIRI

(Peristiwa Monas 1 Juni 2008)

         1 Juni 2008, adalah peringatan ke-63
hari lahirnya Pancasila. Perayaan yang dipusatkan di taman Monas dan dihadiri
oleh berbagai elemen masyarakat ini seharusnya dilalui dengan damai sesuai
dengan sila-sila dalam Pancasila. Tetapi seremoni yang seharusnya penuh damai
ternoda oleh kekerasan super duper BRUTAL
yang dilakukan oleh Front Pembela Islam! Organisasi pembawa ‘bendera ‘ Islam
ini dengan membabi buta menyerang para simpatisan AKK-BB (Aliansi Kebangsaan
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan).

         Jujur saya terperangah saat melihat dari
televisi aksi laskar FPI menggasak, menganiaya, menggebuk, menjotos dan
menendang para simpatisan Aliansi Kebangsaan. Tak sedikit yang terluka. Sekitar
14 orang anggota aliansi dilarikan ke rumah sakit. Dan setelah peristiwa
penyerangan itu, para simpatisan Aliansi Kebangsaan yang berhasil lolos dari
penyerangan itu mengadakan jumpa pers di halaman Galeri Nasional. Mereka menuntut kepolisian agar ‘Peristiwa Monas 1
Juni’ tersebut diusut tuntas. (Kita lihat nanti bagaimana sebenarnya hukum
ditegakkan di Indonesia.)

Bergetar hati dan perasaan saya sebagai muslim. Apakah orang-orang
Islam sejahat itu? Apakah  Islam
mengajarkan kebencian dan kekerasan? Bukankah nabi kita Nabi Muhammad saw dulu pun
menghormati pemeluk agama lain?

Saat menulis blog ini, saya masih shock, malu dan sedih
dengan peristiwa tersebut. Padahal saya tidak mengalami peristiwa itu secara langsung
dan hanya menyaksikannya lewat berita-berita di televisi. Saya masih yakin
bahwa agama yang saya anut ini
mengajarkan kasih sayang terhadap dunia seisinya. Islam adalah rahmatallilalamin. Islam membawa
berkah bagi seluruh umat.

Lalu apa salah Islam? Apa dosa Islam? Apa aib Islam? Sehingga
ia perlu dibela sebegitu rupa dengan menyakiti sesama kita? Tidakkah para
penyerang itu juga membaca, atau bahkan mungkin (sangat) hafal ayat-ayat dalam
Al Quran yang sebenarnya mengajarkan kedamaian dan kasih sayang? Bukankah
mereka semua berpakaian putih-putih yang melambangkan kesucian? Lalu mengapa
mereka menaburkan kebencian dan kerusakan di muka bumi? Sesuatu yang sangat
dilaknat oleh ALLAH SWT.

Saya tidak tahu, dari atas sana, ALLAH SWT sedih atau malah
tertawa melihat ulah para pembela Islam itu. Sedih karena Islam telah
disalahgunakan dengan menghidupkan kebencian. Atau tertawa karena melihat
kesalahan luar biasa yang telah dilakukan umatnya terhadap umatnya yang lain. ALLAH
SWT Maha Adil, Dia tahu mana yang benar dan salah, mana yang jujur dan yang
munafik.

Menurut saya Islam bisa membela dirinya sendiri.
Justru kelak Islam yang akan membela kita dengan melihat semua amal ibadah
kita, baik kepada ALLAH SWT Sang Pencipta, maupun kepada umat manusia dan dunia
seisinya.

Wallahualam bis sawaf

(Jakarta 1
Juni 2008)