MENJABAT ERAT TANGAN SAHABAT

Saya punya satu obsesi (ternyata). Berjabat tangan dengan orang-orang yang saya kagumi. Siapa saja. Mulai dari bupati sampai petani, dari sais sampai penulis. Kedua tangan saya sudah menjabat tangan banyak orang penting. Sekali lagi, penting tidaknya orang itu, sangat subyektif sekali, karena itu hanya dari sudut pandang saya sendiri.

Sekitar akhir 97, saat masih ngontrak di rumah petak di Kebayoran Baru Jakarta Selatan, suatu hari saat pergi ke Kem Chick ( pasar swalayan milik pengusaha Bob Sadino), saya bertemu Ketua Umum PDIP Megawati. Saat itu beliau masih dengan model sanggul cepolnya yang sederhana. Waktu itu ibu yang sederhana tersebut membeli jajanan pasar, macam kue ku, kue lapis dan sebagainya. Mungkin untuk tamu yang akan datang ke rumahnya malam itu. Kami sempat bercakap-cakap beberapa kalimat. Sebuah percakapan yang hangat, seingat saya. Lalu sepulang dari Kem Chick, saya menelpon semua keluarga saya di luar Jakarta yang saat itu kebetulan sangat mengidolakan Bung Karno dan masih mendewikan putrinya, Megawati.

Sekitar Juni 98 di Jogja, ketika novel SAMAN karya Ayu Utami banyak dibicarakan orang, saya berkesempatan datang di acara jumpa Ayu Utami dan pembacaan novel tersebut. Acara yang diadakan di Lembaga Indonesia Perancis sebulan setelah kerusuhan Mei 1998 itu diminati banyak mahasiswa dan seniman Jogja. Hampir sepanjang acara, pandangan mata saya tak lepas dari sosok Ayu Utami yang saya gambarkan sebagai sosok perempuan yang cerdas, sederhana, lugas dan seksi sekali.

Saya yang waktu itu belum memiliki novel SAMAN dan hanya menikmatinya dari potongan potongan paragraf dari artikel tentangnya yang dimuat di TEMPO dan KOMPAS, akhirnya membeli buku itu yang kebetulan dijual di teras teater Lembaga Indonesia Perancis. Acara Jumpa Ayu Utami dan Pembacaan Novel SAMAN yang diselenggarakan hari itu pun tuntas saya ikuti.

Tapi kelak saya baru sadar bahwa tujuan saya waktu itu cuma satu: bertemu Ayu Utami. Karena saya sangat mengagumi cara dia mengekspresikan buah pikirannya di dalam novel itu. Dan ketika saya melihat Ayu Utami beringsut dari tengah forum diskusi menuju ruang sebelah ( mungkin mau ke toilet), saya pun melesat cepat menerobos mahasiswa-mahasiswa yang sedang duduk lesehan di dalam auditorium mendengarkan diskusi tentang SAMAN.

Di ruang sebelah, Ayu Utami duduk bersandar di kursi. Perempuan itu tampak letih. Satu tangannya menjuntai di samping badannya, dan tangan yang lain tertumpu di meja. Rambutnya yang panjang sedikit bergelombang terurai begitu saja tanpa pengikat. Di ruang itu tak ada siapapun selain dia. Lalu saya mendekati dia.

Perasaan saya girang bukan kepalang. Dia jauh lebih menarik dari yang tampak di majalah atau koran-koran. Pantas saja dia pernah menjadi finalis Wajah Femina. Matanya yang lancip, alisnya yang tegas dan bibirnya yang merah penuh, sungguh teramat dahsyat di mata saya. Dan ketika dia melihat saya berjalan mendekat, senyumnya tersungging. Saya menjabat tangannya, dia menjabat tangan saya. Kami saling berkata-kata. Kemudian saya menyodorkan novel SAMAN untuk ditandatanganinya. Kami saling mengucapkan terima kasih. Dia berterima kasih karena saya telah membeli novelnya, dan saya berterima kasih untuk semuanya; tanda tangannya, tatap matanya, senyum di bibirnya dan karena dia telah menulis SAMAN.

Tahun demi tahun berlalu, saya pun bertemu banyak orang yang saya kagumi. Ada pejabat, ada penulis, ada artis teater dan lain-lain. Tetapi satu sosok yang saya kagumi yang belum sempat saya temui dan jabat tangannya adalah Almarhum Umar Kayam. Dulu, salah satu tujuan saya kuliah di Jogja adalah bertemu beliau. Tetapi Tuhan berkehendak lain, beliau tutup usia, saat saya merasa bahwa dengan berada di satu kota dengan beliau, saya akan bisa bertemu Pak Umar kapan saja. Ternyata saya salah.

Lalu tahun terus beranjak. Dan akhirnya, karir saya dalam menjabat tangan orang yang saya kagumi pun mencapai puncaknya. Lebaran Idul Fitri 1428 H lalu, kerabat saya mengajak saya datang ke acara Open House di Istana Negara. Boleh percaya boleh tidak, saya ada di urutan nomor satu! Dan akhirnya saya pun bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saya kagumi. ( Saya terpaksa memotong bagian-bagian di mana saya yang seharusnya bisa menjadi pengunjung nomor satu yang bersalaman dengan presiden, tetapi diserobot oleh orang-orang berjas yang merasa berhak menjadi yang pertama, hanya karena mereka pengusaha dan orang-orang dewan utusan daerah).

Mengingat-ingat lagi tentang obsesi saya berjabatan tangan dengan orang yang saya anggap penting, saya ingat betul kejadian suatu sore di sebuah plaza di Jakarta. Saya kebetulan bertemu dengan teman saya dari Jogja yang beberapa hari sebelumnya minta bantuan saya untuk dicarikan penginapan dengan reasonable price karena dia akan mengikuti training di satu bank di Jakarta. Waktu itu saya katakan bahwa saya hanya tahu beberapa dan itupun jauh dari tempatnya training. Tak lama kemudian diapun menginformasikan kepada saya bahwa dia sudah di bookingkan satu kamar di sebuah hotel berbintang. Syukurlah, jadi dia tidak perlu repot bayar sendiri.

Dan ketika minggu itu saya bertemu dengan kawan saya dari Jogja di lower ground plaza itu, kami berpapasan dan saling berpandangan. Saya tersenyum tetapi dia membuang muka. Secara otomatis, karena saya merasa dia kawan saya, saya pun berbalik dan mencoba mengejarnya. Tetapi tiba-tiba saya teringat nasihat seorang sahabat kepada saya setahun sebelumnya:
”Nino, aku tahu kebiasaanmu menyapa siapapun yang kamu kenal. Menurutku itu bagus. Tapi di Jakarta, siap-siap kecewa ya, kalau sapaanmu tidak dibalas.”

Saya berhenti dan tidak jadi mengejar kawan sekampung saya itu. Kecewa karena dia tidak mengenali saya? Kecewa karena dia membuang muka saat saya tersenyum padanya? Entah. Saya sendiri tidak tahu. Saya hanya berhenti begitu saja. Saya hanya boneka Tuhan. Dia yang memutuskan kapan saya harus berhenti dan kapan saya bergerak, untuk menyapa, untuk tersenyum dan untuk menjabat tangan.

(Jakarta, 10 Feb 2008)