Sore Terakhir

Mak Pon, tertatih dari satu sisi jalan ke sisi jalan yang lain. Perempuan tua itu merayap dari satu jajar pagar ke pagar yang lain. Memetik kuntum-kuntum mawar, melati dan kenanga. Setangkup demi setangkup dikumpulkannya dalam bungkus-bungkus daun pisang.

Para tetangga maklum saja. Mereka tak hanya membiarkan bunga-bunga mereka dipetik Mak Pon, tetapi sering pula mereka memberikan sebutir dua butir mangga atau buah lain yang jatuh di halaman rumah mereka kepada perempuan itu.

Mak Pon menerimanya saja. Dengan senyum mengembang dan rongga mulut yang kosong karena gigi-giginya  tak lagi tinggal, ia berucap:

"Terima kasih."

Kemudian lidahnya yang layu menjilati bibirnya yang tua dan kering.

Mak Pon berjalan menuju ke pasar. Jauh jaraknya. Berat langkahnya. Tubuh rentanya kadang terasa seperti pasung yang membelenggu. Saat lelah, ia hanya mencari teduh pohon. Duduk dan berdzikir. Saat haus dan lapar, ia kembali mencari teduh pohon, lalu duduk dan berdzikir.

Tuhan telah memberinya perasaan kenyang dan puas dari lapar dan dahaga.

Tiba di pasar, Mak Pon duduk di sudut gerbang pasar. Tak ada payung peneduh, tak ada pula alas untuk duduk. Ia menggelar bunga-bunga yang dipetik dari pagar-pagar hidup rumah para tetangganya. Lalu buah-buah layu yang ia terima dari tetangganya pun ditatanya di samping mawar,melati dan kenanga.

Seharian, Mak Pon duduk. Tak beranjak untuk makan, minum atau berhajat. Mak Pon duduk, tersenyum sambil menawarkan bunga-bunga dan buah-buah kepada setiap yang lewat. Pengunjung pasar melewati tetapi tak memperhatikannya. Sedangkan mereka terusik oleh aroma pesing kamar-kamar tempat kencing.

Sore tiba, Mak Pon bangkit dari tempatnya dan mengemasi bunga-bunga dan buah-buahnya. Tetapi ia tidak membawanya pulang. Di kali dekat pasar, Mak Pon melarung semuanya. Kuntum-kuntum bunga dan buah-buah yang layu hanyut dibawa air kali yang mengalir ke barat.

Mak Pon berjalan pulang. Ketika sebuah andong lewat, sais menghentikan kudanya dan menawari Mak Pon untuk menumpang. Mak Pon menolak.

"Aku tak punya uang." kata Mak Pon kepada sais.

"Tak apa Mak. Tak usah bayar." kata si sais. Kemudian laki-laki itu pun turun dan membopong Mak Pon naik ke andongnya. Mak Pon tertawa tergelak. Bahkan dalam tawanya, Mak Pon berdoa, agar Tuhan memberikan rezeki seluas bumi, langit dan samudra bagi si sais.

Dan ketika keduanya sudah duduk di andong dan sais memacu kudanya, tak pernah ada dari kita yang bisa melihat kereta melesat jauh lebih cepat dari kilat.

Cerita Mak Pon berakhir di situ.

Tidak ada yang ingat tentang Mak Pon. Tetapi orang-orang mengenal pemuda baik hati yang bekerja sebagai sais andong. Dia meninggal sore itu setelah shalat ashar. Sais itu terbaring di kursi belakang dengan wajah tersenyum. Di sisinya, setangkup bunga-bunga mengharumkan sore terakhirnya.

(Jakarta, 31 Januari 2008)

Sajak Pakde dari Jauh

·                          

·                                 
Nduk, Sekar Cah Ayu
kemarin ya, hari ulang tahun mu?
Pakde lupa menelponmu.
Tapi apa kamu ya bisa mengerti omonganku?
Meski kamu bisa mendengar suaraku.
Padahal Pakde mau menawarimu,
mau dibelikan boneka kayu,
atau dibuatkan origami kupu-kupu?
Kamu paling-paling cuma senyum senyum lucu.
Ya wis, pakde tuliskan dulu
sajak ini ya cah ayu.
Buat tombo atimu.
Nek kangen karo pakdemu.
Nanti kalau Pakde pulang,
Pakde bawakan oleh-oleh untukmu.
Mungkin bukan boneka kayu,
atau origami kupu-kupu.
Tapi sesuatu yang bisa menemanimu setiap waktu.
Sampai kelak kamu bisa bercerita pada Pakdemu,
tentang hari-hari bahagiamu,
bersama ayah dan ibumu serta kakek nenekmu.

Selamat ulang tahun Nduk, Sekar cah ayu.

·                                 

·         (Jakarta, 18 Januari 2008, Sehari setelah ulang tahun Sekar, setahun)

Sepotong Croissant Hangat di Awal Tahun Baru

            Malam tahun baru saya habiskan di rumah saja. Tidur jam 9 karena acara tivi membosankan dan mendung di luar benar-benar mendukung rasa kantuk saya. Beberapa sahabat mengajak saya bermalam tahun baru bersama. Ada yang mengajak ketemu di café, ada pula yang mengajak bakar-bakar ikan. Tetapi semua saya tolak dengan sopan tentunya.

‘Maaf, tradisi malam tahun baru saya, saya tidur cepat.’

Sebelum tidur, saya sempat mendapat sms-sms dan membalas beberapa sms. Sisanya tak terbalas karena saya sudah keburu tertidur dengan sukses. Karena malam itu tidur cepat, saya bangun pagi dengan pikiran dan tubuh yang segar.

Selepas subuh, saya sempat lari lari pagi di tengah mendung yang masih menggantung pagi itu. Jam 8 pagi, meluncur ke Tan Ek Tjuan, toko roti Jakarta jaman tempo doeloe yang masih eksis sampai kini di Cikini. Maksud hati sih ingin menyantap roti anget fresh from the oven, eh ternyata tutup.

Bersama seorang sahabat, kami berdua mencari sarapan pagi. Pagi tanggal 1 Januari 2008 kemarin, jalanan Jakarta lengang. Bersih sekali udara Jakarta pagi itu. Segar sekali rasanya. Dari Cikini, Matraman, Menteng, Senen dan Kuningan, tidak ada makanan pagi yang membangkitkan selera. Yang ada cuma mie ayam, bubur ayam, mie ayam dan bubur ayam.

Ke mana sih para penjual ketoprak atau lontong sayur yang biasanya mondar mandir berkeliling? Mungkin mereka capek setelah berdagang semalaman di ujung tahun baru. Tapi masak kompakan ndak jualan semua.

Di sepanjang jalan mencari tempat sarapan, kami bercerita tentang tradisi malam tahun baru. Sahabat saya tradisi nya kalau tahun baru kumpul sama keluarga, makan bersama, nonton tivi dan sudah, tidur kalau sudah teler sebelum tengah malam. Tradisi di keluarga saya (dulu, waktu Kerajaan Campa masih berdiri) juga kurang lebih sama, nonton Srimulat atau Operet Papiko di TVRI, plus potong kue sambil minum soft drink. Nyam-nyam waktu itu. Tapi tradisi itu sudah berhenti di akhir 80 an. Selanjutnya, tak ada tradisi lagi. Tidur lebih cepat terasa nikmat daripada menghitung waktu mundur sampai penat.

Sahabat-sahabat lain masih bertradisi jalan-jalan ke Puncak atau Bandung dan melek sampai dini hari. Sedangkan sahabat yang lain masih suka duduk dan ngobrol sambil minum kopi di café sampai waktunya tiup terompet di ujung tahun. Sahabat-sahabat lainnya, mereka memilih untuk menghabiskan sisa tahun itu untuk berdzikir. Sama seperti yang dilakukan Presiden Yudhoyono di Istana Negara bersama para tamu lainnya. Begitu pula seorang artis muda berjilbab yang diwawancarai sebuah acara infotainment. Ia lebih memilih berdzikir di mesjid karena itu sudah menjadi tradisi keluarganya di setiap malam tahun baru.

Saya merenung sesaat. Tradisi malam tahun baru setiap orang ternyata sangat beragam. Tergantung kebiasaan dan kebutuhan. Tak ada hak untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi menurut saya tradisi yang baik adalah tradisi yang bisa menghargai sesama dan tidak merugikan pihak yang lain.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk minum coklat panas di satu tempat ngopi di Thamrin, tepatnya di area Djakarta Theater. Ada beberapa tempat di sana. Kami asal masuk saja, tidak perduli yang mana, tetapi saya ingat betul nama tempatnya.

Kami langsung menuju ke counter. Secangkir coklat panas, dan secangkir teh beraroma strawberry pun kami pesan. Harum sekali aroma mereka berdua. Sambil menikmati almond croissant, kami pun mulai berdiskusi lagi tentang tradisi. Dan tiba-tiba kami menyadari, bahwa kami tengah berada di tengah ruangan sebuah café yang masih berantakan. Di atas beberapa meja masih tertinggal sisa sisa pesta malam tahun baru. Gelas-gelas yang berisi sisa-sisa minuman, botol saus, piring berisi sepotong dua potong french fries, juga asbak yang penuh oleh puntung rokok. Sangat tidak nyaman.

Saya mulai ribut dan kritik sana sini. Kenapa meja-meja belum dibersihkan? Kenapa sofa-sofa masih berantakan dan bantal-bantalnya loyo dan kempot seperti habis ditiduri kucing garong? Kenapa petugasnya lelet dan tidak bisa membuat prioritas kerja yang bagus? Kenapa ada orang-orang yang punya tradisi malam tahun baruan seperti itu? Kenapa AC dinyalakan dengan kondisi pintu luar terbuka? Itu kan pemborosan energi. Kenapa begini kenapa begitu?

Sesaat kemudian terdengar bunyi denting yang membuat saya melupakan kekacauan di tempat itu. Ting!

Dan udara dalam ruangan café yang masih cakadut dan berantakan itu tiba-tiba harum oleh croissant-croissant hangat yang baru diangkat dari dalam oven. C’est magnifique!

Saya langsung beranjak ke counter dan membeli satu croissant hangat. Setiap potongan saya nikmati pelan-pelan sambil merem melek. Mmmhhhh… terasa gurihnya, lembutnya, heavenly, divine, mhhhhhh. Mak Nyus, kalau kata pak Bondan dalam acara Wisata Kuliner di Trans TV.

Saya seperti menemukan tradisi baru untuk saya pribadi. Sepotong croissant hangat di awal tahun baru. Mhhhhhh….

(Jakarta, 2 Januari 2008)