Sore Terakhir
Wednesday, January 30th, 2008
Mak Pon, tertatih dari satu sisi jalan ke sisi jalan yang lain. Perempuan tua itu merayap dari satu jajar pagar ke pagar yang lain. Memetik kuntum-kuntum mawar, melati dan kenanga. Setangkup demi setangkup dikumpulkannya dalam bungkus-bungkus daun pisang.
Para tetangga maklum saja. Mereka tak hanya membiarkan bunga-bunga mereka dipetik Mak Pon, tetapi sering pula mereka memberikan sebutir dua butir mangga atau buah lain yang jatuh di halaman rumah mereka kepada perempuan itu.
Mak Pon menerimanya saja. Dengan senyum mengembang dan rongga mulut yang kosong karena gigi-giginya tak lagi tinggal, ia berucap:
"Terima kasih."
Kemudian lidahnya yang layu menjilati bibirnya yang tua dan kering.
Mak Pon berjalan menuju ke pasar. Jauh jaraknya. Berat langkahnya. Tubuh rentanya kadang terasa seperti pasung yang membelenggu. Saat lelah, ia hanya mencari teduh pohon. Duduk dan berdzikir. Saat haus dan lapar, ia kembali mencari teduh pohon, lalu duduk dan berdzikir.
Tuhan telah memberinya perasaan kenyang dan puas dari lapar dan dahaga.
Tiba di pasar, Mak Pon duduk di sudut gerbang pasar. Tak ada payung peneduh, tak ada pula alas untuk duduk. Ia menggelar bunga-bunga yang dipetik dari pagar-pagar hidup rumah para tetangganya. Lalu buah-buah layu yang ia terima dari tetangganya pun ditatanya di samping mawar,melati dan kenanga.
Seharian, Mak Pon duduk. Tak beranjak untuk makan, minum atau berhajat. Mak Pon duduk, tersenyum sambil menawarkan bunga-bunga dan buah-buah kepada setiap yang lewat. Pengunjung pasar melewati tetapi tak memperhatikannya. Sedangkan mereka terusik oleh aroma pesing kamar-kamar tempat kencing.
Sore tiba, Mak Pon bangkit dari tempatnya dan mengemasi bunga-bunga dan buah-buahnya. Tetapi ia tidak membawanya pulang. Di kali dekat pasar, Mak Pon melarung semuanya. Kuntum-kuntum bunga dan buah-buah yang layu hanyut dibawa air kali yang mengalir ke barat.
Mak Pon berjalan pulang. Ketika sebuah andong lewat, sais menghentikan kudanya dan menawari Mak Pon untuk menumpang. Mak Pon menolak.
"Aku tak punya uang." kata Mak Pon kepada sais.
"Tak apa Mak. Tak usah bayar." kata si sais. Kemudian laki-laki itu pun turun dan membopong Mak Pon naik ke andongnya. Mak Pon tertawa tergelak. Bahkan dalam tawanya, Mak Pon berdoa, agar Tuhan memberikan rezeki seluas bumi, langit dan samudra bagi si sais.
Dan ketika keduanya sudah duduk di andong dan sais memacu kudanya, tak pernah ada dari kita yang bisa melihat kereta melesat jauh lebih cepat dari kilat.
Cerita Mak Pon berakhir di situ.
Tidak ada yang ingat tentang Mak Pon. Tetapi orang-orang mengenal pemuda baik hati yang bekerja sebagai sais andong. Dia meninggal sore itu setelah shalat ashar. Sais itu terbaring di kursi belakang dengan wajah tersenyum. Di sisinya, setangkup bunga-bunga mengharumkan sore terakhirnya.
(Jakarta, 31 Januari 2008)