UNDERPRESSURE

Suatu sore menjelang jam pulang, saya sempat chat lewat Yahoo Messenger dengan seorang sahabat yang bekerja untuk sebuah LSM ibu anak di Aceh. Sahabat saya ini baru saja pulang dari desa Jantho, salah satu desa di Aceh Besar.

NINO: belum pulang dik?

sahabat: blm mas

sahabat: baru aja datang dari desa

NINO: desa mana?

sahabat: jantho…(salah satu kecamatan di aceh besar)

sahabat: mas nino belum pulang?

NINO: oooo

NINO: belum hbs magrib

sahabat: wah akhir tahun banyak kerjaan ya mas?

NINO: iya

NINO: dan tekanannya besar juga

sahabat: underpressure????….ihhh nggak enak bgt klo kerja dibawah tekanan…tapi kenapa ya bbrp lowongan kerja justru itu salah satu syaratnya "bisa bekerja dibawah tekanan"

NINO: hahahaah aku jg gak tahu, padahal kita cr kerja

kan

yang enjoyable ya dik

sahabat: yup

sahabat: hmmm mas nino kan orang HR hayooooo kenapa itu jadi salah satu syarat

NINO: mau tahu pendapat sinisku?

sahabat: mau mau "D

sahabat: :-D

NINO: karena boss nya gak kompeten dan maunya merintah2 , makanya dia bikin syarat itu

Lalu chat kami berlanjut dengan banyak topik sampai akhirnya kami berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang, saya masih merenungi komentar sinis saya tentang lowongan-lowongan pekerjaan yang mencantumkan syarat:

BISA BEKERJA DI BAWAH TEKANAN

Saya tidak bisa membayangkan kalau seseorang keluar masuk kerjaan dan selalu dapat lowongan yang ada syarat di atas. Bukan tidak mungkin lama kelamaan dia jadi bandeng presto. Lha wong ditekan terus. Tulangnya bisa lunak.

Lalu saya berpikir tentang pekerjaan saya sekarang, konsultan SDM. Beda banget dengan pekerjaan saya sebagai tukang roti waktu masih di Jogja.

Lha kok bisa nyasar jadi konsultan SDM?

Nasib yang membawaku kemari.

Untungnya, nasib belum menjadi bubur.

Hehehe

(Jakarta, 27 Desember 2007)

NO GIFT FROM SANTA FOR MOSLEM BOY

Saya berasal dari keluarga muslim yang biasa saja. Waktu saya kanak-kanak dan tinggal di pesisir pantai utara Jawa, saya dan kakak saya bersekolah di sebuah sekolah Katolik. Seperti sebuah tradisi di sekolah kami, beberapa hari menjelang natal, semuanya bersiap menyambut hari istimewa itu. Tidak terkecuali murid-murid yang beragama selain Katolik dan Kristen.

Dekorasi dan hiasan Natal dipasang di kelas, di ruang aula, bahkan pohon cemara di halaman sekolah pun juga dihias. Semarak dan hidup benar suasana sekolah kami saat itu. Dari gereja dan asrama susteran yang terletak tak jauh dari sekolah, terdengar alunan lagu-lagu rohani.

Beberapa sahabat yang merayakan Natal bercerita tentang tradisi merayakan Natal di dalam keluarga mereka. Tukar menukar kado, masak-masak istimewa serta mengunjungi handai taulan. Hmmm, rasanya tidak jauh berbeda dengan apa yang kami lakukan kalau hari raya Idul Fitri tiba.

            

Kemudian seorang teman berkata kepada kami:

            

’Kalian mau dapat hadiah Natal dari Santa?’

            

Kami semua mengangguk, termasuk saya yang pada waktu itu baru pertama kali mendengar kata ’santa’. Dia menjelaskan bahwa Santa adalah sosok kakek tua baik hati, berambut dan berjenggot putih, berpakaian merah, menunggang kereta yang ditarik rusa-rusa. Di belakang kereta itu, Santa meletakkan karung ajaib berisi kado-kado untuk anak-anak.

            

’Kalau kalian mau dapat kado dari Santa, kalian harus memberi makan kepada rusa-rusa Santa.’

            

’Caranya bagaimana? Makanannya apa?’ tanya kami semua kepada si sahabat.

            

’Isi satu kaos kaki dengan rumput rumput segar. Lalu gantungkan di depan pintu rumah. Tapi ingat, kalian tidak boleh mengintip, karena rusa-rusa itu akan lari ketakutan dan Santa tidak jadi memberi kado.’

            

Semudah itu? Tanya saya dalam hati. Rasanya tidak mungkin Santa memberi kado kepada semua anak. Tetapi saya berniat mencobanya juga.

            

Sehari sebelum Natal, saya mengambil rumput di belakang rumah kami. Di belakang rumah kami, terhampar luas lapangan rumput tempat anak-anak bermain sepak bola. Di sekitarnya tumbuh rumput dan semak-semak liar. Saya bisa memetik rumput di sana. Kemudian saya mencari satu buah kaos kaki dan mengisinya dengan rumput yang sudah kupetik. Selanjutnya saya menggantungkan kaos kaki berisi rumput di depan pintu rumah. ( Waktu itu orang tua dan kakak saya bertanya untuk apa saya mengisi kaos kaki itu dengan rumput dan menggantungnya di depan pintu? Saya tidak menjawab.)

            

Malam itu, hujan turun deras dan saya tidur nyenyak.  Ketika saya terbangun paginya, saya keluar rumah dan melihat rumput yang saya masukkan di kaos kaki masih berwujud rumput dan tidak berganti menjadi kado dari Santa.

            

Saya termenung. Mengapa Santa tidak mengganti rumput itu dengan kado? Kata sahabat-sahabat saya, Santa memberi kado kepada anak-anak yang baik. Dan menurut saya, saya anak yang baik. Tidak nakal, tidak usil, menurut pada orang tua. Tapi rumput itu kok masih berupa rumput ya?

            

Ketika kutanyakan hal itu kepada temanku saat kami kembali masuk sekolah setelah liburan Natal, ia dengan ringan menjawab:

            

’Kamu kan muslim.’

            

Oo, jadi Santa tidak memberi kado untuk anak muslim ya? Dia mengangguk.

(Jakarta, sehari setelah natal,Desember 2007)

RHOMA VS ELVY…TER…LA…LU…

Idul Adha 10 Dhulhijah 14 28 barusan, saya shalat ied di lapangan Disbintalad di Berland Matraman, dekat tempat saya kos. Malam sebelumnya, hujan turun dengan deras. Sisa air hujan masih membasahi rumput-rumput di lapangan tempat shalat ied dilangsungkan. Tiga shaf depan dialasi plastik terpal, tetapi deretan shaf-shaf belakangnya tidak beralas terpal. Sehingga ketika para jamaah datang lalu menggelar sajadahnya di atas rumput kemudian duduk, sisa air hujan di rumput-rumput itu langsung meresapi sajadah dan membasahi sarung yang mereka pakai. Hal yang sama juga terjadi pada saya.

            

Jadi sepanjang duduk sebelum shalat dan saat mendengarkan khutbah, pantat saya basah karena celana saya basah sebab sajadah saya basah oleh sisa air di rumput yang basah oleh hujan semalam. Saya berusaha ikhlas, toh tidak hanya saya yang mengalami hal itu. Ratusan jamaah lain juga mengalami hal serupa. Alhamdulillah, saya bisa menerima keadaan itu.

            

Tetapi ada satu hal yang kemudian justru mengganggu saya, yaitu khutbah shalat ied. Apes apa ya si khotib? Tidak percaya diri betul dia. Dengan logat difasih fasihkan, dia meniru cara bicara artis kondang kita, si Raja Dangdut, Rhoma Irama.

            

Saya mencoba menahan diri. Wong Nabi Ibrahim saja bisa bersabar dan ikhlas saat hendak menyembelih anaknya, Ismail. Masa cuma karena ustad yang bergaya aku harus marah dalam batin? Saya harus bisa berkorban,  kalau perlu korban perasaan. Tetapi ternyata tidak semudah itu ya.

            

Handphone saya sudah terlanjur hidup. Dan sebuah pesan pendek pun terkirim ke beberapa sahabat dekat.  Bunyinya:

            

‘Kenapa sih, ustad-ustad suka sekali bergaya bicara bang haji Rhoma? Ter…la…lu…’

            

Tak lama kemudian masuklah sebuah sms balasan dari salah seorang sahabat saya. Saya membuka dan membaca pesan singkat itu. Saya terkikik pelan membaca sms itu:

            

‘Sungguh lebih terlalu kalau mereka bergaya Elvy Sukaesih.’

            

He he he bener juga. Bagaimana jadinya kalau ustad itu tiba-tiba bergaya heboh dengan make up tebal, bulu mata lentik, rambut ikal panjang, asesoris kepala dan tak ketinggalan tahi lalat di dagu serta kerling genit yang menggemaskan.

            

Basah…basah…basah…

(

Jakarta

, 20 Desember 2007, 10 Dzulhijah 1428 H)

INVASI PARA BAYI

Jujur saja, saya penyuka bayi-bayi. Apalagi bayi sehat yang gemuk, berpipi merah jambu dengan tekstur lembut dan penuh dengan tatapan mata yang bersemangat. Tangan-tangan kecil mereka yang menggapai-gapai, juga kaki-kaki mungil mereka yang bergerak-gerak menendang, bisa membuat saya semakin jatuh cinta pada mereka.

Saat saya lari pagi dan kebetulan ada bayi yang didorong di dalam kereta bayi oleh ibu atau ayahnya, biasanya saya sempatkan menoleh, tersenyum dan menyapa. Tentu saja sang ayah atau ibu yang kebetulan adalah tetangga saya, akan merespon sapaan selamat pagi saya. Mereka bersuara ( pura-pura) sebagai si bayi.

’Celamat pagi, Om. Wah ci Om yajin yayi yayi ya?’

Sambil tersenyum dan terus jogging, aku berpikir, apa iya, si bayi ambil pusing siapa aku? Terus, apa iya ngomongnya gitu?

Ketika jalan-jalan di pusat pertokoan dan melihat bayi-bayi yang lucu, saya juga masih menyempatkan diri memandang mereka dan tersenyum bahagia. Aneh ya, padahal saya bukan orangtua mereka dan saya juga belum punya bayi. Tetapi kalau di mal-mal, saya tidak menyapa bayi-bayi itu. Salah-salah bisa diteriakin oleh papi mami mereka: ”Culik! Culik!”

Sesuka suka nya saya dengan bayi, suatu hari toh saya sempat sangat heran dan agak mual karena over dosis. Bagaimana tidak overdosis? Dua hari berturut-turut saya nyantai, pergi ke Ancol, lalu ke mal-mal dan ke pameran-pameran di JCC, yang terlihat adalah di mana-mana pasangan-pasangan muda yang menjinjing keranjang bayi, menggendong gendongan bayi, atau mendorong  kereta bayi.

Sekali, dua kali, tiga kali, melihat bayi-bayi lucu saya masih bisa menikmati. Tetapi kalau setiap jengkal saya melihat bayi-bayi itu didorong, digendong atau dijinjing, saya akhirnya eneg juga.

Saya heran bukan kepalang. Kenapa sih, mas-mas dan mbak-mbak kelas menengah atas itu tidak meninggalkan bayi mereka di rumah agar mereka bisa jalan-jalan di mal dengan tenang dan bayi mereka bisa bobo pulas di rumah?

’Mungkin tidak ada yang jagain di rumah.’ Kata sahabat saya.

’Kan bisa dititipkan ke kakek nenek mereka!’ protesku.

’Mungkin kakek nenek mereka tinggal di kampung. Jauh.’ujar sahabat saya yang lain.

’Kan mereka bisa sewa baby sitter?’protesku terus.

’Mereka gak percaya lagi sama baby sitter atau pembantu.’ jawab sahabatku sambil memberi tanda tutup mulut kepadaku.

Aku masih sibuk memperhatikan pengunjung-pengunjung mal yang membawa bayi mereka. Apa sih yang ada dalam benak mereka dengan membawa bayi-bayiitu berwindow shopping?

Mau pamer kalau mereka sudah berkeluarga dan punya bayi? Status ya? Berarti ada persamaan antara baby dan baby benz ya? Sama-sama melambangkan status.

Seorang ibu muda, berdandan mutakhir dengan busana santai tapi aku yakin harganya mahal, lewat dengan seorang adiknya ( karena mukanya mirip) dan seorang baby sitter yang menggendong bayi si ibu muda itu.

’Tuh, ada yang bawa baby sitter nya.’kata sahabatku.

’Diajak makan di restoran pula.’ujar sahabatku yang lain.

Aku menoleh ke arah mereka duduk. Lalu dengan sinis aku berujar.

’Taruhan, si baby sitter cuma akan minum es teh!’

’Kok bisa?’ kedua sahabatku bertanya serempak.

’Pernah lihat ada pembantu atau baby sitter yang akan dengan lugunya akan memilih makan steak?’

Sahabat-sahabatku menggeleng.

’Harga-harga di daftar menu itu sudah mengintimidasi mereka sebelum mereka memutuskan akan makan apa.’

Dan benar. Tak lama kemudian, ketika pesanan mereka datang, si nyonya muda dan adiknya makan hidangan-hidangan yang hangat dan lezat, sedangkan si pembantu hanya minum segelas es teh sambil terus menggendong dan menenangkan si bayi yang mulai rewel.

Aku menghela nafas. Bayi-bayi itu sudah menginvasi bumi dengan sosok mereka yang lucu dan menggemaskan.

Tiba-tiba aku tersadar. Kenapa aku menjadi begitu sinis? Toh aku tidak dirugikan sama sekali. Makhluk-makhluk lucu itu tidak pipis di pangkuanku atau memuntahkan makanan ke dadaku. Lalu mengapa aku begitu marah?

Aku tercenung dan merinding. Aku tersadar dari kesinisanku. Hari itu aku dan sahabat-sahabatku, baru selesai mendongeng untuk anak-anak sakit di bangsal anak RS Cipto Mangunkusumo.

Meskipun itu adalah kali kedua aku ditugaskan oleh yayasan yang aku ikuti untuk mendongeng di bangsal anak, aku masih tidak tega melihat anak-anak dari keluarga biasa, keluarga yang kurang mampu itu, melawan sakit yang mereka derita. (Bukan berarti aku tega melihat bayi sakit dari keluarga kaya).

Aku masih terbayang, bayi-bayi di bangsal itu yang membesar bola matanya, yang rahangnya bengkak hingga sebesar kepala mereka sendiri, yang kandung kemihnya kena infeksi virus, yang harus dikemoterapi. Sebut saja. Semua ada. Sebaliknya, di mal-mal itu, aku melihat bayi-bayi sehat yang berpakaian bagus dalam keranjang dan gendongan mereka yang hangat.

            

Aku menghela nafas panjang. Benar. Bayi-bayi itu telah menginvasi bumi. Menginvasi hati ini. Dan, Tuhan sudah menitipkan mereka dalam kondisi sehat atau sakit, sebagai amanah, di tangan kita.

(Jakarta, 8 Desember 2007)

            

            

JENG ZARA MEMBAWA NIKMAT

Seminggu menjelang natal, biasalah, mal-mal mulai tampak makin ramai. Dekorasi dan ornamen natal dipasang di setiap sudut dan pintu masuk ke mal-mal. Kalau mal saja behias, toko-toko yang ada di dalamnya jelas tidak mau ketinggalan. Etalase ditata sesuai tema natal. Ada yang temanya merah dan hijau, ada yang hitam, ada yang emas, pokoknya meriah. Manekin-manekin makin tampak bergaya dan sedap dipandang mata. Namanya juga manekin, mereka lebih bergaya daripada pengunjung mal (baca:saya, si penulis). Yang tidak kalah asyik, diskon-diskon digelar. Mulai dari diskon yang ecek-ecek 5 persenan sampai yang 70 persen. Mulai dari sale item tertentu sampai yang didiskon semua.

Iseng-iseng, suatu sore sepulang kerja saya mampir ke Plaza

Indonesia

. Pengin aja, jalan-jalan, window shopping gitu( hehehe). Sesekali, di kampung

kan

gak biasa begini.

Asik banget. Sambil mendengarkan lagu lagu natal yang diputar di mal, sesekali saya ikut menyenandungkan lagu yang saya masih ingat dari masa sekolah saya di Pius dulu.

Jingle bell, jingle bell, jingle all the way…

Jalan-jalan di dalam mal terasa sangat nyaman. Jauh lebih nyaman daripada naik-naik ke puncak gunung. Di mal, kanan kiri kulihat saja, banyak toko dengan barang bagus dan mahal serta makhluk-makhluk cantik dan tampan yang harum mewangi. Sedangkan kalau naik-naik ke puncak gunung, kiri kanannya cuma pohon cemara.

Keluar masuk toko-toko dan butik-butik juga nyaman-nyaman aja, lha wong ada tulisan SALE. Keluar dari Louis Vuitton, masuk ke Prada, lalu ke Marks Spencer, ngintip Versace, dan seterusnya.

Lama-lama saya perhatikan, kok ada yang ‘aneh’ ya. Beberapa orang yang sebelumnya berpapasan dengan saya, lalu berpapasan lagi, jalannya jadi lain. Jadi tegak, pe de dan serasa tidak menapak bumi. Saya berhenti sebentar dan saya perhatikan baik-baik.

Oalaaaahh,,, dab,,,dab. Mereka menenteng tas ZARA. Tas kantong kertas segede bagong itu toh yang ternyata membuat orang-orang itu bermetamorfosa dari udang bongkok menjadi kuda laut yang membusung.

Aku penasaran. Apa dan siapa sih si ZARA ini? Singkat cerita, masuklah aku di butik ZARA untuk yang pertama kalinya. Oooooo, ini toh ZARA. Hmmm, nice. Bagus-bagus. Nais-nais. Ada sarung tangan, ada sapu tangan  dan lain-lain. Kok yang tertangkap oleh mataku hanya barang-barang kecil itu ya? Apa aku tidak cukup berani menatap barang yang lebih besar lagi seperti kemeja dan celana atau gaun serta pantalon? Apa iya aku takut syok melihat harganya ya? Ah, kata siapa? Lalu aku mendekati sebuah tas yang dipajang di sebuah rak. Bujubune! Dua jutaan!

Syok sih, tapi gak sampai tepar!

Ya maklum, wong kampung, uang dua juta tuh bisa buat beli kambing untuk kurban mbesok.

            Setelah berkeliling mondar-mandir liat ini itu, pegang sini situ. Tidak ketinggalan senyum sama mbak mbak penjaga  serta ngaca ngaca dikit, akhirnya saya keluar dari ZARA.

            Lho, kok lain ya? Saya merasa beda. Gak tahu karena apa. Tapi beda aja rasanya. Langkahku ringan banget. Jalan ke sana kemari di antara gang-gang antar toko di mal. Tiba-tiba melintas seorang pengunjung yang membawa tas kantong kertas ZARA yang seukuran gambreng gedenya. Orang itu tampak ringan geraknya. Tampaknya lebih ringan daripada yang kurasakan. Kemudian melintas seorang wanita, juga membawa tas ZARA. Warnanya sama, ukurannya sama. Dan langkah perempuan itupun kelihatan begitu ringan.

            Dahsyatnya!

            Ternyata ZARA bikin kaki melangkah lebih ringan, pe de, dan lebih bergaya. Wong aku yang cuma mampir dan lihat lihat, cuma pegang-pegang aja ketularan aura positifnya. Apalagi yang beli.

            Ya ampun, nikmat banget lho, jalan-jalan di mal dengan kaki melangkah seringan ini. Semua ini karena aura ZARA yang menempel di sekujur tubuhku. Cuma auranya lho, bukan barangnya. Hebat ya. Semoga saja kelak di kemudian hari, tidak ada tarif atau harga yang dibandrol untuk masuk ke butik ZARA untuk menikmati suasana dan menyedot auranya.

            Kalau di awal 90an pernah ada sinetron TVRI Sengsara Membawa Nikmat yang dibintangi Dessy Ratnasari dan Sandy Nayoan, sekarang ada Jeng ZARA yang bisa membawa nikmat.

            Aaaaaahhhh………Auramu itu lho Jeng ZARA.

            Lalu saya mulai nakal, keluar masuk butik-butik lain hanya untuk menghisap aura positif dari keindahan dan kemewahan itu.

Sesekali lah, mumpung belum dikenakan biaya kunjungan butik.

( Jakarta, 19 Desember 2007)

INSIDEN PRESIDEN DAN BU MENTERI

Ini bukan cerita tentang kecelakaan lalu lintas yang dialami R1 satu dengan pembantunya. Bukan pula tentang love affair orang nomor satu RI saat ini dengan salah satu menteri di kabinetnya. Tetapi tentang insiden di sebuah acara kenegaraan yang seharusnya tak perlu terjadi.

       

Awal Desember lalu diadakan peringatan hari AIDS di Istana Negara. Karena acara resmi negara, Presiden dan para menterinya tentu saja hadir. Di tengah acara ketika seorang penyandang AIDS tengah berbicara di depan forum, ibu Menteri Kesehatan sibuk berbicara dengan seorang Menteri lain di sebelahnya. Mungkin si Ibu Menteri lupa, bahwa pada saat itu ia tidak sedang di tengah acara talk show nya yang biasa disiarkan sebuah televisi swasta setiap minggu petang. Jadi, ia seharusnya duduk manis dan mendengarkan siapapun yang berbicara di depan forum.

          

Melihat bu Menteri asyik ngerumpi, Presiden langsung menegur dengan suara keras.

            ”Bu Menteri tolong dengarkan kalau ada yang sedang bicara.”

Bu Menteri langsung membeku di kursinya. Kalau perlu menyusut, mengecil seperti tokoh-tokoh dalam Honey I Shrunk the Kid  yang dibintangi oleh Rick Morranis. Begitu pula menteri-menteri lain. Mereka duduk diam tertegun di kursinya masing-masing. Kebayang betapa malunya ditegur langsung oleh Presiden, orang nomor satu di Republik Indonesia tercinta ini! Insiden yang tertangkap kamera televisi ini disiarkan oleh beberapa stasiun televisi swasta.

            

Konon, ini bukan insiden pertama Presiden SBY menegur seseorang dalam satu acara negara. Beberapa waktu lalu Presiden menegur langsung seorang anggota Dewan yang tertidur di kursinya saat acara sidang!

            

Pertama kali saya mendengar berita ini dari sahabat-sahabat saya, saya berkomentar ”Kenapa Presiden tidak bisa sabar sebentar, tunggu, nanti kalau acara selesai dan sudah tidak diliput tivi, baru menegur mereka.”

            

Sahabat-sahabat saya bilang : ”Kelamaan!”

            

Betul juga! Urusan Presiden kan banyak. Tidak cuma ngurusin menteri yang suka bicara atau anggota dewan yang sleepy head.

            

Perasaan, dulu waktu pak Harto masih jadi Presiden, tidak pernah ada berita insiden-insiden seperti itu. Kenapa ya? Apa karena pak Harto yang sepuh dan disegani, atau karena ada kekuatan-kekuatan lain yang justru (merasa) punya wewenang untuk menertibkan segala sesuatu agar insiden sekecil apapun bisa dihindari?

            

Asumsi saya, Pak SBY tidak disegani oleh menteri-menterinya dan anggota dewan. Asumsi kedua, tidak ada kekuatan-kekuatan yang mau dengan seksama menertibkan segala sesuatu di sekitar Presiden kita itu. (Masih ingat insiden penari cakalele yang menyusup dan mengibarkan bendera RMS di depan Presiden dan rombongannya di hari keluarga nasional di Maluku beberapa waktu lalu?)

            

Kasihan sekali bapak Presiden ku satu ini.

”Saran saya, Pak, ndak usah ikut pemilihan presiden lagi Pak. Pensiun jadi Presiden. Fokus di bidang yang Bapak ingin tekuni. Mencipta lagu atau menggalakkan penghijauan agar Indonesia kembali hijau. Kalau perlu, Bapak bisa kami periksa dulu, kami assess dulu, bagaimana karakter bapak sesungguhnya, nanti bisa diketahui minat bapak yang sebenarnya. Pensiun dini lebih cocok untuk bapak lho. Bapak dan Ibu masih sehat, bisa berkiprah di bidang sosial. Dan …

O ya, maaf saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Nino. Tukang kritik sekaligus bercita-cita membangun bangsa ini. Sekarang kerja jadi konsultan. Apa pak? Sesuai? Terima kasih. Apa? ….Diam? ….Baik Pak.”

            

(Jakarta, Desember 2007)

            

            

            

‘MAAF, MISS. DADA ANDA TERBUKA.’

Waktu saya masih kanak-kanak dan tinggal di kampung, masih suka ngeluyur keluar masuk kebun dan sawah-sawah, memancing atau mencari tanaman-tanaman liar, ada satu pemandangan yang sering membuat saya sering tersipu dan harus saya hindari: dada perempuan!

Iya! Di pelosok-pelosok kampung, tempat saya biasa menjelajah bersama kawan-kawan, dada-dada perempuan diumbar begitu saja. Memang tidak dibuka sama sekali. Buah dada perempuan-perempuan itu masih tertutup oleh kutang sederhana yang berkancing di bagian depan. Hanya kadang-kadang ada yang kancingnya lepas sehingga bukit bukit daging itu tampak hendak menyelinap keluar dari sarangnya. Perempuan yang punya berat badan berlebih, dadanya penuh sesak sehingga tampak meluap. Sedangkan perempuan berumur lanjut, dadanya nyaris seperti kantong kompres, kopong dan tipis.

Siang hari yang terik memang memaksa mereka hanya berkain dan berkutang agar bisa merasakan sejuk angin yang berhembus. Sambil bersepeda, saya hanya memandang lurus ke depan. Saya hanya menengok sesekali jika ada yang menyapa. Tetapi justru hampir semua yang menyapa saya adalah ibu-ibu yang hanya mengenakan kutang itu. Saya terus bersepeda sambil dengan ramah membalas sapaan mereka.

Dua hari di akhir minggu lalu, di luar kebiasaan, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke mal. Sabtu di Mal Kelapa Gading, dan Minggu di Plaza Indonesia. Apa sih yang bisa dilakukan di Mal-Mal itu selain cuci mata? Lihat barang-barang bagus dan mahal, meski tak ada niat membeli. Memanjakan hidung dengan aroma harum roll bread di Cinnabon yang ruaaaarrr biasa yummy dan bakery bakery lain serta aroma makanan-makanan lain yang minta ampun sungguh menggoda hasrat. Keluar masuk toko-toko buku ak-sa-ra dan Periplus pun saya jabanin untuk memuaskan selera intelektual sekaligus melepaskan nafsu untuk memaki:

”Anjrit! Buku bukunya mahal banget!.”

Yang tidak kalah pentingnya, saya masih bisa menemukan vitamin ego dengan membuka sebuah buku di mana nama saya tertera sebagai salah satu kontributornya, di rak buku travelling. Sisanya, lebih kepada cari-cari ide untuk tulisan-tulisan ringan dan membeli The Jakarta Post edisi Minggu.

Dua hari, ke dua mal pula saya menghabiskan waktu siang saya dengan seorang sahabat dan menemukan topik yang menarik untuk dibahas di tengah makan siang kami: Standar Operasional Procedure di tempat kerja. Tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan SOP namun cukup lama katanya tersimpan di dalam benaknya.

’Kenapa sih ada perempuan yang suka memakai high heels?’

’Mungkin hanya untuk esetetika saja’ jawab saya mencoba berlogika.

Kami memang melihat ada banyak sekali pengunjung wanita di Mal-mal yang memakai sepatu tumit tinggi yang bikin miris. Ada yang heel nya runcing dan ramping banget. Tapi ada pula yang memakai high heel super tebal yang bisa bikin anjing jadi kaing –kaing kalau dilempar sepatu itu.

Topik sambil lewat itu akhirnya memang terlupakan begitu saja sampai ketika kami melanjutkan perjalanan keliling mal, turun melewati eskalator di dekat La Moda. Penataan yang menarik dan warna-warna coklat dalam penataan La Moda memikat pandangan mata kami hingga tanpa sengaja pandangan mata saya tertuju pada dua bentuk benda yang sudah sangat saya kenal: dada perempuan.

’Busyet!’ Teriak saya.

Semestinya saya beristighfar. Tetapi pemandangan itu benar-benar memukau saya sehingga saya terlambat mengucap istighfar. Pemandangan indah itu benar-benar saya anggap sebagai rejeki walau yang keluar dari mulut saya adalah ekspresi kekagetan yang sangat.

Seorang perempuan, pribumi, berkulit coklat eksotis, mengenakan gaun berbahan tipis dengan belahan dada super rendah. Ia duduk menunduk sehingga kedua buah dadanya yang ranum dan penuh tampak menggantung begitu saja. Tampak hampir tak berpenutup.

’Ada apa?’ tanya sahabat saya. Lalu saya berbisik kepadanya dan diapun terbahak.

’Rejekimu.’katanya.

Saya menelan ludah. Rejeki? Iya, bagaimana tidak rejeki kalau kemudian saya berkesempatan dalam kesempitan menatap yang lain lagi di toko anu, lalu di counter sepatu itu, di restoran anu atau di bakery yang itu. Dari yang kuning, coklat, putih hingga pink! Wow! Ternyata tidak hanya susu kemasan yang beragam rasa, tetapi dada perempuan pun beragam warna.

Lalu pikiran saya terbang kembali ke masa kecil saya di kampung sana, tempat para ibu mengeler tetek di siang bolong agar isis. Nah ibu-ibu dan miss-miss cantik di mal-mal ini pasti juga merasa gerah dengan udara Jakarta hingga mereka merasa perlu mengumbar dadanya dengan gaun berbelahan rendah. Cuma bedanya, ibu-ibu miskin di kampung sana, mereka menyapa saya. Sedangkan nona-nona dan nyonya-nyonya ini, mereka mengangkat dagu saat berpapasan dengan siapa saja.

Ooo, saya mengerti sekarang. Mungkin karena mereka berjalan sambil mengangkat dagu itu, mereka tidak melihat dadanya terpapar dengan jelas? Wah, mungkin lain kali saya harus menolong mereka ya. Saya akan menyapa mereka dan berkata:

’Maaf miss, dada anda tampak terbuka.’

Tapi ndak apa. Sempurna kok.

Kira-kira digampar ndak ya?

He he he

(Jakarta, 10 Desember 2007)