Jujur saja, saya penyuka bayi-bayi. Apalagi bayi sehat yang gemuk, berpipi merah jambu dengan tekstur lembut dan penuh dengan tatapan mata yang bersemangat. Tangan-tangan kecil mereka yang menggapai-gapai, juga kaki-kaki mungil mereka yang bergerak-gerak menendang, bisa membuat saya semakin jatuh cinta pada mereka.
Saat saya lari pagi dan kebetulan ada bayi yang didorong di dalam kereta bayi oleh ibu atau ayahnya, biasanya saya sempatkan menoleh, tersenyum dan menyapa. Tentu saja sang ayah atau ibu yang kebetulan adalah tetangga saya, akan merespon sapaan selamat pagi saya. Mereka bersuara ( pura-pura) sebagai si bayi.
’Celamat pagi, Om. Wah ci Om yajin yayi yayi ya?’
Sambil tersenyum dan terus jogging, aku berpikir, apa iya, si bayi ambil pusing siapa aku? Terus, apa iya ngomongnya gitu?
Ketika jalan-jalan di pusat pertokoan dan melihat bayi-bayi yang lucu, saya juga masih menyempatkan diri memandang mereka dan tersenyum bahagia. Aneh ya, padahal saya bukan orangtua mereka dan saya juga belum punya bayi. Tetapi kalau di mal-mal, saya tidak menyapa bayi-bayi itu. Salah-salah bisa diteriakin oleh papi mami mereka: ”Culik! Culik!”
Sesuka suka nya saya dengan bayi, suatu hari toh saya sempat sangat heran dan agak mual karena over dosis. Bagaimana tidak overdosis? Dua hari berturut-turut saya nyantai, pergi ke Ancol, lalu ke mal-mal dan ke pameran-pameran di JCC, yang terlihat adalah di mana-mana pasangan-pasangan muda yang menjinjing keranjang bayi, menggendong gendongan bayi, atau mendorong kereta bayi.
Sekali, dua kali, tiga kali, melihat bayi-bayi lucu saya masih bisa menikmati. Tetapi kalau setiap jengkal saya melihat bayi-bayi itu didorong, digendong atau dijinjing, saya akhirnya eneg juga.
Saya heran bukan kepalang. Kenapa sih, mas-mas dan mbak-mbak kelas menengah atas itu tidak meninggalkan bayi mereka di rumah agar mereka bisa jalan-jalan di mal dengan tenang dan bayi mereka bisa bobo pulas di rumah?
’Mungkin tidak ada yang jagain di rumah.’ Kata sahabat saya.
’Kan bisa dititipkan ke kakek nenek mereka!’ protesku.
’Mungkin kakek nenek mereka tinggal di kampung. Jauh.’ujar sahabat saya yang lain.
’Kan mereka bisa sewa baby sitter?’protesku terus.
’Mereka gak percaya lagi sama baby sitter atau pembantu.’ jawab sahabatku sambil memberi tanda tutup mulut kepadaku.
Aku masih sibuk memperhatikan pengunjung-pengunjung mal yang membawa bayi mereka. Apa sih yang ada dalam benak mereka dengan membawa bayi-bayiitu berwindow shopping?
Mau pamer kalau mereka sudah berkeluarga dan punya bayi? Status ya? Berarti ada persamaan antara baby dan baby benz ya? Sama-sama melambangkan status.
Seorang ibu muda, berdandan mutakhir dengan busana santai tapi aku yakin harganya mahal, lewat dengan seorang adiknya ( karena mukanya mirip) dan seorang baby sitter yang menggendong bayi si ibu muda itu.
’Tuh, ada yang bawa baby sitter nya.’kata sahabatku.
’Diajak makan di restoran pula.’ujar sahabatku yang lain.
Aku menoleh ke arah mereka duduk. Lalu dengan sinis aku berujar.
’Taruhan, si baby sitter cuma akan minum es teh!’
’Kok bisa?’ kedua sahabatku bertanya serempak.
’Pernah lihat ada pembantu atau baby sitter yang akan dengan lugunya akan memilih makan steak?’
Sahabat-sahabatku menggeleng.
’Harga-harga di daftar menu itu sudah mengintimidasi mereka sebelum mereka memutuskan akan makan apa.’
Dan benar. Tak lama kemudian, ketika pesanan mereka datang, si nyonya muda dan adiknya makan hidangan-hidangan yang hangat dan lezat, sedangkan si pembantu hanya minum segelas es teh sambil terus menggendong dan menenangkan si bayi yang mulai rewel.
Aku menghela nafas. Bayi-bayi itu sudah menginvasi bumi dengan sosok mereka yang lucu dan menggemaskan.
Tiba-tiba aku tersadar. Kenapa aku menjadi begitu sinis? Toh aku tidak dirugikan sama sekali. Makhluk-makhluk lucu itu tidak pipis di pangkuanku atau memuntahkan makanan ke dadaku. Lalu mengapa aku begitu marah?
Aku tercenung dan merinding. Aku tersadar dari kesinisanku. Hari itu aku dan sahabat-sahabatku, baru selesai mendongeng untuk anak-anak sakit di bangsal anak RS Cipto Mangunkusumo.
Meskipun itu adalah kali kedua aku ditugaskan oleh yayasan yang aku ikuti untuk mendongeng di bangsal anak, aku masih tidak tega melihat anak-anak dari keluarga biasa, keluarga yang kurang mampu itu, melawan sakit yang mereka derita. (Bukan berarti aku tega melihat bayi sakit dari keluarga kaya).
Aku masih terbayang, bayi-bayi di bangsal itu yang membesar bola matanya, yang rahangnya bengkak hingga sebesar kepala mereka sendiri, yang kandung kemihnya kena infeksi virus, yang harus dikemoterapi. Sebut saja. Semua ada. Sebaliknya, di mal-mal itu, aku melihat bayi-bayi sehat yang berpakaian bagus dalam keranjang dan gendongan mereka yang hangat.
Aku menghela nafas panjang. Benar. Bayi-bayi itu telah menginvasi bumi. Menginvasi hati ini. Dan, Tuhan sudah menitipkan mereka dalam kondisi sehat atau sakit, sebagai amanah, di tangan kita.
(Jakarta, 8 Desember 2007)