WELL, MAS, KIBLATNYA KE ARAH MANA YA?

            (Tulisan ini sudah dimodifikasi dari kejadian yang sesungguhnya, bukan supaya lebih dramatis, tetapi justru agar lebih sederhana. Tapi kalau ada  kesamaan jalan cerita, setting, dan terutama para tokoh, ya maaf, saya tidak bermaksud apa-apa. Percayalah.)

Jujur, saya seringkali merasa iri sekaligus bangga kepada teman-teman saya yang mampu menembus ketatnya seleksi bea siswa ke luar negeri, atau mampu lolos masuk kerja ke suatu perusahaan asing yang bonafid. Bagaimana tidak? Buat mereka yang dengan pintarnya lolos saringan masuk bea siswa, akan bisa belajar di luar negeri, jalan-jalan sambil menikmati makanan-makanan baru dan melihat semua pemandangan baru yang menyejukkan mata. Sedangkan bagi mereka yang dengan sukses berhasil bekerja di perusahaan asing, terutama perusahaan pertambangan minyak kelas dunia, mereka nyaris bisa mendapatkan semuanya; gaji tinggi, fasilitas bagus, tugas kerja ke luar negeri dibayarin kantor dan masih banyak lainnya.

            Beberapa hari lalu, saya mendapat undangan buka puasa bersama dari seorang sahabat yang baru pindah dari Jogja. Undangan yang dikirim berantai lewat sms beberapa hari sebelumnya berhasil mengumpulkan beberapa teman lama kami untuk datang buka puasa bersama di rumahnya di Kebayoran Baru.

            Yang namanya kumpul teman lama, tentu saja menjadi satu hal yang mengasyikkan. Tukar-menukar topik pembicaraan berlangsung seru. Topik tentang keluarga, pekerjaan, bisnis, kecuali gossip. Singkat cerita, acara menjelang buka puasa yang biasanya diisi dengan ceramah ustad, kali ini disemarakkan oleh kisah-kisah lama kami semua.

            Sampai beberapa saat kemudian, datang seorang teman yang baru sekitar enam bulan terakhir bekerja di satu perusahaan minyak terkemuka. Wajahnya yang manis, ceria dan ramah jelas menyegarkan pandangan menjelang buka puasa. Setelah menyerahkan buah tangan, yang saya terawang adalah kue-kue kering, kepada tuan rumah, dia pun bergabung duduk bersama kami di karpet. Suasana pun bertambah ceria.

            Namun ketika dia mulai bersuara dan berbagi cerita, lha kok saya mencium ada ’aroma’ lain ya? Bukan aroma kolak yang legit karena santannya. Bukan pula aroma wangi pandan atau nangka. Ini ’aroma’ duniawi yang dihembus hembuskan, entah sengaja entah tidak.

            Sejak dia duduk, kalimat-kalimatnya selalu dilekati dengan kata-kata bahasa Inggris. Saat itu saya coba meyakinkan diri bahwa sikap seperti ini biasa saja, terutama di Jakarta. Tapi lama kelamaan kok ya ngganjel juga di telinga. Seperti mata yang kelilipan debu, telinga saya pun terganggu. Lha ini anak benar-benar serius je, menyisipkan kata-kata inglis di sana dan di mari. Saking intens nya dia menyisipkan bahkan berbicara dalam bahasa Inggris, saya kuatir dia akan over dosis. Kata, well,..let’s say,…you know, sorry,..i don’t get it,… dan lain sebagainya meluncur deras.

            Saat itu, saya bertanya dalam hati, apakah hanya saya yang merasa terganggu dengan gayanya atau ada pula teman lain yang juga terpengaruh. Lalu saya pun mulai mengamati. Dan ternyata, dari bahasa tubuh dan mimik teman-teman lain, saya melihat bahwa mereka pun merasa sedikit, ya sedikit jengah juga. Ini anak memang ndak ngerti papan, tidak tahu menempatkan dirinya. Lha wong kita sebagai orang Indonesia kan ya pernah dengar ada peribahasa di kandang macan, mengaum, di kandang kambing, mengembik.

Mereka, sama seperti saya, mencoba menerimanya sebagai bagian dari kepribadiannya yang baru setelah mulai bekerja di perusahaan minyak nan bonafid itu. Padahal setahu saya, teman-teman cukup ’tajam’ kalau ’menyilet’ dengan komentar atau kritik mereka. Kekuatan puasa memang hebat sampai bisa mencegah teman-teman untuk tidak serta merta bertanya atau langsung mengkritiknya.

            Waktu buka puasa pun tiba, semua senang, semua menang. Insya Allah perang melawan hawa nafsu selama sehari penuh diridloi oleh Allah SWT. Amin. Kami pun menikmati hidangan sederhana yang disuguhkan, alangkah nikmatnya. Setelah berbuka, beberapa teman mulai shalat berjamaah. Setelah selesai shalat, saya pun kembali ke ruang tengah di mana teman-teman lain masih menikmati hidangan buka puasa.

            Teman saya yang sejak tadi gemar memakai kata dan kalimat inglis juga masih ada di ruangan itu. Dia sedang terlibat diskusi cukup seru dengan teman saya si tuan rumah. Sampai-sampai muncul kalimat-kalimat dan aksen yang semakin british dari teman saya itu.

            ”Well I don’t get it… bla..bla…bla..”

            “She missed the opportunity…bla..bla…bla…”

            Teman saya, si tuan rumah hanya menjawabnya dengan bahasa Indonesia dan sesekali dipakainya pula bahasa Jawa.

            Lalu si teman inglis tadi pun menanyakan di mana letak kamar mandi. Lalu dia permisi untuk berwudlu. Kemudian dia kembali dan mengambil mukena dan bertanya bisa shalat di mana. Saya tunjukkan tempatnya, sekaligus menunjukkan arah kiblat.

            Dengan ekspresi datar dia berkata.

            ”Saya bawa kompas kok.”

            Dalam hati saya tersentak sekaligus terbahak. Plis deh, dik Pendi! Saya cuma menunjukkan ke mana arah kiblat, biar kamu tidak perlu susah-susah cari kompas yang seharusnya kamu tinggal di rumah untuk dibaca. Saya juga langganan kompas. ( Hei itu dua kompas yang lain, yang satu kompas penunjuk arah, yang satunya lagi Kompas surat kabar.)

            Saya tidak memperdulikannya dan kembali asyik menikmati hidangan buka puasa yang nikmat itu tadi. Tanpa saya sadari, dia masih sibuk mencari cari kompas di dalam tasnya. Ketika saya menoleh ke arahnya, dia tertawa.

            ”He he he, well, mas, kiblatnya ke arah mana ya?”

Sesaat aku tertegun. Lalu saya tunjukkan ke mana arah kiblat.

Oo, rupanya dia kehilangan kompasnya?

Pantas dia kehilangan arah. Pantas dia berbicara bahasa Indonesia campur bahasa Inggris. Karena dengar-dengar dia habis pulang dari Melbourne.

Masih jet lag ya?

(Jakarta 27 September 2007)

            

RED CARPET SENSATION!

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan datang ke sebuah acara hingar bingar yang diadakan sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta Convention Center. Tepatnya acara ulang tahun stasiun televisi tersebut, sekaligus sebagai ajang penyerahan award bagi artis paling ngetop. ( Dari sini saja sudah ketahuan tivi apa yang saya maksud. Hehehe)

            Sebenarnya, undangan itu bukan untuk saya pribadi, tetapi saya mewakili kantor, di mana tivi tersebut adalah salah satu klien kami. Si teman kantor yang menawarkan undangan itu kepada saya memberi serangkaian deskripsi indah dan menggiurkan tentang bagaimana dan apa yang mungkin akan terjadi di sana.

            “Kamu nanti duduk di VIP, lho. Terus bisa ketemu artis ini, artis itu. Siapa tahu ada produser lihat kamu terus diajak main sinetron. Dsb dsb..”

            Ketika saya menerima tawarannya untuk datang ke acara tersebut, saya hanya berpikir bahwa ini akan jadi salah satu pengalaman yang asyik. Itu saja.

Teman-teman kantor lain, mayoritas ibu-ibu dan mbak-mbak, yang tahu bahwa saya akan datang, bergairah sekali menyemangati saya. Saat mereka melihat saya masih di kantor jam setengah lima sore, mereka meneriaki saya untuk segera pulang dan bersiap-siap untuk ‘acara penting’ itu.

            “Lho! Kamu masih di kantor? Pulang! Sudah hampir jam lima! Siap-siap!’

            “Iya! Pulang sana! Dandan! Jangan malu-maluin!”

            “Ke salon lho ya. Rambutmu jadul banget! Kayak mas-mas. Kurang muda!”

            Ha? Segala rambut pun dikomentari! Lalu mereka beramai ramai mengerumuni saya dan melihat rambut saya yang belah pinggir kiri sambil berdecak dan geleng-geleng heran. Hanya karena rambut saya yang klimis belah pinggir. Jadul! Kata mereka.

            Tidak menunggu lama, saya segera pulang. Lemari pakaian adalah tempat pertama yang saya bongkar. Saya mencari pakaian apa yang kira-kira pas buat acara malam itu. Beberapa kali saya coba padu padan, saya tetap tidak menemukan pakaian yang pas seperti yang dipesankan ibu–ibu di kantor untuk acara itu.

Blaik !

            Ya sudah, dengan sedikit memaafkan dan memaksakan diri, saya akhirnya memutuskan memakai kaos polo oranye (agak ketat) yang saya beli tiga tahun yang lalu, celana kain warna hitam dan jaket kulit warna coklat, untuk menutupi kegemukan saya.

            Singkat cerita, malam itu saya pun berada di acara tersebut. Di pintu masuk ruangan, segala macam dan bentuk orang-orang berkumpul. Cantik, ganteng, tinggi, pendek, langsing, gemuk, semua ada. Saya jadi ingat kalau pergi kondangan. Di teras gedung, wartawan-wartawan infotainment duduk berjajar tak rapi.

Setelah mengisi buku tamu, dan melintasi karpet merah, para tamu yang datang dipersilahkan untuk makan malam buffet di sebuah ruangan yang luas, standing party. Saya yang memang gemar makan, makanan dan mengamati sekaligus mengkritisi makanan tentu saja bernafsu sekali  dengan hidangan yang ada di meja-meja prasmanan itu. Setelah berkeliling dan mengobservasi makanan-makanan yang dihidangkan, saya mulai mencicipi makanan-makanan tersebut sambil menoleh ke kanan-ke kiri. Siapa tahu ada artis yang saya tahu. Atau siapa tahu pula ada pembaca berita favorit saya. Ada sih, beberapa artis kawakan yang makan malam di ruangan yang tersebut. Tapi artis barunya tidak kelihatan.

            Segera setelah selesai makan, saya naik ke ruangan utama tempat acara inti dilangsungkan. Ternyata saya dapat tempat duduk di tribun. O O ! Bukannya si teman kantor tadi bilang saya duduk di deretan VIP? Saya keluar lagi dan bilang ke penjaga pintu.

            ”Mas, saya di VIP, lho.”

            ”Iya, VIP di tribun, yang di bawah dekat pangung VVIP.”

            Ooo, bener juga. Beda satu V, tapi sudah bisa melahirkan diskriminasi. (Saya mulai sirik. Sedikit sih.)

            Ketika acara dimulai dengan Nidji sebagai band pembuka, suasana mulai riuh. Asyik. Apalagi saya suka lagu Nidji yang syairnya …”This is disco lazy time…”

            Saya mulai kirim sms ke sana kemari, untuk bilang ke teman dan keluarga, agar menonton stasiun tivi XXX siapa tahu wajah saya muncul di layar tivi.

SMS SMS balasan saya terima. Mereka bilang,

”Buat muka lucu ya kalau disorot kamera.”

Setelah Nidji, tampil Ungu dan setelah itu… Dhani dengan DEWA nya pun tampil membawakan lagu Aku Sedang Ingin Bercinta. Keren!

Sambil menikmati hentakan musik dan lagu DEWA, saya celingukan ke sana kemari. Saya kok penasaran ya, sejak masuk tadi saya belum lihat satupun artis-artis yang kerap muncul di acara-acara gosip.

Herannya saya mulai gelisah, setelah DEWA tampil, saya merasakan penurunan derajat keasyikan di dalam ruangan tersebut. Saya pun keluar ruangan utama dan kembali ke ruang prasmanan.

Di ruang prasmanan, saya tenggelam lagi dengan keasyikan saya icip puding ini, coba kue itu dan teguk minuman anu. Bosen lagi, saya keluar dari ruang prasmanan. Di saat itulah, di karpet merah, saya melihat rombongan artis-artis itu berjalan melintas.

Jujur saja, saya sampai nganga melihat mereka. Saya seperti melihat dewa dewi turun dari kayangan. Kagum mungkin. Atau tepatnya gumun. ( dalam bahasa Jawa, gumun bisa berarti kagum yang berlebihan sampai-sampai cenderung jadi bolot).

Ketika rombongan itu melintas, mata saya bergerak secepat rana kamera para wartawan. Itu kan si A, lho, kok si B jalan sama C, dudanya D? Nah, kan si F mustinya sama G. Dst dst dst. Menarik sekali memperhatikan mereka berjalan melintasi karpet merah. Apakah mereka punya perasaan bahwa karpet merah yang mereka lintasi itu sebanding kualitasnya dengan red carpet di acara-acara seperti Emmy, Grammy atau Academy Award di Amerika sana? Entah ya, cuma mereka dan Tuhan yang tahu. Tapi kalau melihat ekspresi dan gaya mereka, kelihatannya asyik-asyik aja tuh. Tidak ada beban, bergaya dan (sok) asyik.

Saya masih berdiri sambil melihat artis-artis muda yang lalu lalang, keluar masuk. Saya melihat waktu di handphone saya. Belum malam, baru jam 8. Tapi saya ingin lekas pulang karena saya tiba-tiba dihinggapi perasaan bosan, jenuh dan kepura-puraan yang entah datang dari mana dan ditularkan oleh siapa.

Akhirnya, saya memutuskan untuk pulang saja. Tiba-tiba saya tersenyum dalam hati karena untuk keluar, saya harus melewati jalan masuk yang dilewati para artis tadi, dan tentu saja, saya akan berjalan di atas karpet merah!

Wow! Dan ketika dengan sadar saya melangkahkan kaki saya ke karpet merah yang terbentang sampai ke ujung pintu menuju luar ruangan ternyata saya tidak merasakan apa-apa. Sama saja tuh, jalan di atas karpet merah yang masih hangat dilewati para artis dengan jalan di atas karpet bulukan di rumah, pembaringan si Jabrik, kucing persia kesayangan adik-adik saya.

             Masalahnya bukan karpetnya, Bung!

Sensasinya!

Masa?

Saya berhenti sejenak dan selintas membayangkan lampu-lampu kamera wartawan bekelebatan menyambut saya.

O iya, bener juga, sensasinya!

(Jakarta, 25 September 2007)

Hari Bebas Kendaraan Bermotor yang Gagal!(setidaknya menurut saya sendiri)

Hari Sabtu 22 September 2007, pemerintah DKI mencanangkan program HBKB atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau dalam bahasa Inggrisnya Car Free Day.

Program ini dilakukan untuk pengukuran emisi gas kendaraan di kawasan Sudirman – Thamrin.

Untuk itu,diadakan penutupan jalan bagi segala macam kendaraan pribadi di jalur Sudirman, dimulai dari Patung Pemuda atau Api Nan tak Kunjung Padam di bunderan Senayan, lurus sampai Thamrin di Patung Arjuna.

Jadi yang boleh lewat jalur itu hanya kendaraan umum, bis kota, busway dan taksi.

Buat saya pribadi yang ndak punya motor apalagi mobil, HBKB seharian dari jam 6 pagi sampai jam 6.30 sore ini, saya bayangkan akan menjadi hari yang mengasyikkan.

Bagaimana tidak? Dalam pikiran saya, warga Jakarta yang sadar akan artinya mengurangi polusi udara, akan bersama sama STOP mengendarai kendaraan pribadi di hari Sabtu yang indah itu. Naik busway sama sama. Duduk atau berdiri sama sama. Dan merasakan segarnya udara Jakarta sehari itu sama sama.

Sejak berangkat menuju Sudirman dari Matraman dengan busway, saya semata mata bukan untuk nonton sepinya jalur Sudirman-Thamrin, tapi untuk menghabiskan waktu libur saya di perpustakaan Dik Nas di Sudirman.

Tapi sejak busway yang saya naiki masuk halte Dukuh Atas, saya melihat ketidakkonsistenan yang terjadi.

Mobil-mobil pribadi masuk ke jalur lambat Sudirman. Bahkan beberapa melaju dengan santainya di jalur cepat. Meskipun di beberapa tempat polisi sudah siap mengarahkan mobil-mobil itu kembali ke jalur lambat.

Seorang sahabat yang kebetulan bersama saya pergi ke perpus Dik Nas dan melihat ’pelanggaran’ itu merasa kecewa sekali melihat ketidakperdulian warga Jakarta terhadap program pemerintah tersebut. Dan kekecewaan kami semakin bertambah ketika kami keluar dari perpus Dik Nas pada pukul 2 siang, kendaraan yang masuk ke Sudirman semakin bertambah banyak. Kemacetan di jalur lambat tampak di banyak ruas jalan.

Saya kok heran.

Yang punya mobil-mobil itu, banyak pula mobil bagus yang terjebak kemacetan, kan pasti orang orang yang secara finansial kuat, pendidikan juga bagus, apalagi pekerjaannya. Apa iya gak baca koran? Apa iya gak lihat tivi? Apa iya gak dapat email dari rekan-rekan kerja? Apa iya gak bisa baca spanduk? Apa iya gak dapat informasinya dari teman-teman?

Program HBKB setidaknya dua minggu sebelumnya sudah disosialisasikan,

bahwa hari Sabtu 22 September 2007, ada Hari Bebas Kendaraan Bermotor di jalur Sudirman Thamrin!

Lha kok masih keras kepala untuk melintas!

Lha kok masih sombong untuk nyelonong!

Gimana mau memajukan Indonesia, kalau hal itu saja tidak diperdulikan?

Sepanjang jalan menuju pulang, saya sering tersenyum dan menggeleng.

Ketika sahabat saya bertanya ada apa, saya hanya menggeleng lagi.

Heran, mereka yang melanggar kok saya yang sewot ya?

Saya sewot karena apa sih?

Karena tidak punya mobil?

Karena tidak bisa melanggar karena tidak punya mobil?

Atau karena apa?

Saya sewot karena saya prihatin.

Sebab saya masih ingin melihat, negara saya menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit, dari hari ke hari.

Saya masih berharap, sama seperti sahabat dan teman teman lain yang Alhamdulillah punya mobil dan mendukung program HBKB tersebut, bahwa udara Jakarta akan lebih bersih.

Tapi kalau harapan sekecil itu pun akhirnya sia sia, ya maafkan saya, karena sudah sewot di bulan puasa.

Tetapi yang lebih penting, saya memaafkan anda semua yang membuat saya sewot di momen HBKB di bulan puasa, wahai para pemilik mobil yang tetap ngotot jalan di waktu dan tempat yang dilarang.

Semoga puasa dan amal ibadah kita di hari itu diterima oleh Allah SWT.

Amin.