WELL, MAS, KIBLATNYA KE ARAH MANA YA?
Wednesday, September 26th, 2007
(Tulisan ini sudah dimodifikasi dari kejadian yang sesungguhnya, bukan supaya lebih dramatis, tetapi justru agar lebih sederhana. Tapi kalau ada kesamaan jalan cerita, setting, dan terutama para tokoh, ya maaf, saya tidak bermaksud apa-apa. Percayalah.)
Jujur, saya seringkali merasa iri sekaligus bangga kepada teman-teman saya yang mampu menembus ketatnya seleksi bea siswa ke luar negeri, atau mampu lolos masuk kerja ke suatu perusahaan asing yang bonafid. Bagaimana tidak? Buat mereka yang dengan pintarnya lolos saringan masuk bea siswa, akan bisa belajar di luar negeri, jalan-jalan sambil menikmati makanan-makanan baru dan melihat semua pemandangan baru yang menyejukkan mata. Sedangkan bagi mereka yang dengan sukses berhasil bekerja di perusahaan asing, terutama perusahaan pertambangan minyak kelas dunia, mereka nyaris bisa mendapatkan semuanya; gaji tinggi, fasilitas bagus, tugas kerja ke luar negeri dibayarin kantor dan masih banyak lainnya.
Beberapa hari lalu, saya mendapat undangan buka puasa bersama dari seorang sahabat yang baru pindah dari Jogja. Undangan yang dikirim berantai lewat sms beberapa hari sebelumnya berhasil mengumpulkan beberapa teman lama kami untuk datang buka puasa bersama di rumahnya di Kebayoran Baru.
Yang namanya kumpul teman lama, tentu saja menjadi satu hal yang mengasyikkan. Tukar-menukar topik pembicaraan berlangsung seru. Topik tentang keluarga, pekerjaan, bisnis, kecuali gossip. Singkat cerita, acara menjelang buka puasa yang biasanya diisi dengan ceramah ustad, kali ini disemarakkan oleh kisah-kisah lama kami semua.
Sampai beberapa saat kemudian, datang seorang teman yang baru sekitar enam bulan terakhir bekerja di satu perusahaan minyak terkemuka. Wajahnya yang manis, ceria dan ramah jelas menyegarkan pandangan menjelang buka puasa. Setelah menyerahkan buah tangan, yang saya terawang adalah kue-kue kering, kepada tuan rumah, dia pun bergabung duduk bersama kami di karpet. Suasana pun bertambah ceria.
Namun ketika dia mulai bersuara dan berbagi cerita, lha kok saya mencium ada ’aroma’ lain ya? Bukan aroma kolak yang legit karena santannya. Bukan pula aroma wangi pandan atau nangka. Ini ’aroma’ duniawi yang dihembus hembuskan, entah sengaja entah tidak.
Sejak dia duduk, kalimat-kalimatnya selalu dilekati dengan kata-kata bahasa Inggris. Saat itu saya coba meyakinkan diri bahwa sikap seperti ini biasa saja, terutama di Jakarta. Tapi lama kelamaan kok ya ngganjel juga di telinga. Seperti mata yang kelilipan debu, telinga saya pun terganggu. Lha ini anak benar-benar serius je, menyisipkan kata-kata inglis di sana dan di mari. Saking intens nya dia menyisipkan bahkan berbicara dalam bahasa Inggris, saya kuatir dia akan over dosis. Kata, well,..let’s say,…you know, sorry,..i don’t get it,… dan lain sebagainya meluncur deras.
Saat itu, saya bertanya dalam hati, apakah hanya saya yang merasa terganggu dengan gayanya atau ada pula teman lain yang juga terpengaruh. Lalu saya pun mulai mengamati. Dan ternyata, dari bahasa tubuh dan mimik teman-teman lain, saya melihat bahwa mereka pun merasa sedikit, ya sedikit jengah juga. Ini anak memang ndak ngerti papan, tidak tahu menempatkan dirinya. Lha wong kita sebagai orang Indonesia kan ya pernah dengar ada peribahasa di kandang macan, mengaum, di kandang kambing, mengembik.
Mereka, sama seperti saya, mencoba menerimanya sebagai bagian dari kepribadiannya yang baru setelah mulai bekerja di perusahaan minyak nan bonafid itu. Padahal setahu saya, teman-teman cukup ’tajam’ kalau ’menyilet’ dengan komentar atau kritik mereka. Kekuatan puasa memang hebat sampai bisa mencegah teman-teman untuk tidak serta merta bertanya atau langsung mengkritiknya.
Waktu buka puasa pun tiba, semua senang, semua menang. Insya Allah perang melawan hawa nafsu selama sehari penuh diridloi oleh Allah SWT. Amin. Kami pun menikmati hidangan sederhana yang disuguhkan, alangkah nikmatnya. Setelah berbuka, beberapa teman mulai shalat berjamaah. Setelah selesai shalat, saya pun kembali ke ruang tengah di mana teman-teman lain masih menikmati hidangan buka puasa.
Teman saya yang sejak tadi gemar memakai kata dan kalimat inglis juga masih ada di ruangan itu. Dia sedang terlibat diskusi cukup seru dengan teman saya si tuan rumah. Sampai-sampai muncul kalimat-kalimat dan aksen yang semakin british dari teman saya itu.
”Well I don’t get it… bla..bla…bla..”
“She missed the opportunity…bla..bla…bla…”
Teman saya, si tuan rumah hanya menjawabnya dengan bahasa Indonesia dan sesekali dipakainya pula bahasa Jawa.
Lalu si teman inglis tadi pun menanyakan di mana letak kamar mandi. Lalu dia permisi untuk berwudlu. Kemudian dia kembali dan mengambil mukena dan bertanya bisa shalat di mana. Saya tunjukkan tempatnya, sekaligus menunjukkan arah kiblat.
Dengan ekspresi datar dia berkata.
”Saya bawa kompas kok.”
Dalam hati saya tersentak sekaligus terbahak. Plis deh, dik Pendi! Saya cuma menunjukkan ke mana arah kiblat, biar kamu tidak perlu susah-susah cari kompas yang seharusnya kamu tinggal di rumah untuk dibaca. Saya juga langganan kompas. ( Hei itu dua kompas yang lain, yang satu kompas penunjuk arah, yang satunya lagi Kompas surat kabar.)
Saya tidak memperdulikannya dan kembali asyik menikmati hidangan buka puasa yang nikmat itu tadi. Tanpa saya sadari, dia masih sibuk mencari cari kompas di dalam tasnya. Ketika saya menoleh ke arahnya, dia tertawa.
”He he he, well, mas, kiblatnya ke arah mana ya?”
Sesaat aku tertegun. Lalu saya tunjukkan ke mana arah kiblat.
Oo, rupanya dia kehilangan kompasnya?
Pantas dia kehilangan arah. Pantas dia berbicara bahasa Indonesia campur bahasa Inggris. Karena dengar-dengar dia habis pulang dari Melbourne.
Masih jet lag ya?
(Jakarta 27 September 2007)