…bahkan air wudlu dan ayat-ayatMu
tidak mampu meredam kemarahanku!
(Jum’at 25 Maret 2007)
…bahkan air wudlu dan ayat-ayatMu
tidak mampu meredam kemarahanku!
(Jum’at 25 Maret 2007)
ETISKAH?
(Pameran Janin Bayi Manusia Koleksi FK TRISAKTI di RS Koja.)
Pagi ini Reportase Pagi Trans TV menayangkan berita tentang pameran janin manusia koleksi FK Trisakti di RS Koja. Janin manusia yang di dapat dari sisa hasil proses aborsi dan beberapa sebab lain itu diawetkan di dalam stoples makanan berisi cairan formalin!
Sosok-sosok janin itu terdiri dari berbagai tingkatan usia. Mulai dari yang masih sangat kecil hingga yang sudah mulai tumbuh rambutnya.
Karena dipamerkan di dalam rumah sakit tentu saja pengunjung pameran tersebut adalah para pengunjung rumah sakit yang saat itu sedang berada pada kondisi kesehatan yang bisa dikatakan ‘tidak prima’, bisa karena alasan fisik maupun psikis. Tampak pula ibu-ibu yang menonton dan menggendong balita mereka.
Pameran janin manusia yang mungkin dimaksudkan untuk memberi wawasan intelektual kepada masyarakat justru seperti menjadi terror yang mengerikan!
Banyak dari pengunjung yang menatap ngeri ke arah stoples makanan berisi janin manusia segala umur yang diawetkan di dalam cairan formalin.
Beberapa dari mereka yang sempat diwawancarai oleh Trans TV bahkan menyiratkan kengerian dan kegelisahan tentang pemadangan itu.
Pertanyaannya: ETISKAH PAMERAN SEPERTI ITU?
Menurut saya pameran itu jelas sangat tidak etis. Karena tema itu sendiri masih sangat asing dan baru bagi masyarakat kita. Di beberapa negara maju, seperti Jerman dan Perancis, pameran seperti itu tidak asing, karena wawasan intelektual mereka juga bagus.
Saya tidak hendak merendahkan wawasan intelektual masyarakat kita. Tapi apa iya etis kalau itu dipamerkan secara bebas, di rumah sakit, tempat orang yang sedang menderita karena penyakitnya, dan yang menonton pameran adalah para pasien dan keluarganya yang sedang membutuhkan ketenangan fisik dan mental?
Seharusnya pihak penyelenggara lebih bijak dalam mengambil keputusan sebelum memutuskan untuk berpameran.
Apa saja yang harus dipertimbangkan sebetulnya?
Lokasi. Tingkat pendidikan pengunjung, Perlu tidaknya pembatasan usia pengunjung. Penerapan harga tanda masuk pameran. Alat-alat yang lebih layak ( mosok bayi manusia disimpan di dalam stoples kacang?)
Saya yakin penyelenggara pameran bisa membuat pameran yang lebih etis dan manusiawi!
NINO (JAKARTA, 16 MARET 2007)
PERNAHKAH KITA BERPIKIR,
BERAPA ORANG YANG PATAH HATI,
SAAT KITA BERKATA TELAH JATUH HATI?
Di sebuah restoran, di area open kitchen, laki-laki itu mengayunkan sebilah pisau yang berkilauan ke udara. Dan ketika pisau itu meluncur turun ia dengan sigap menangkapnya dengan gerakan akrobatik. Kemudian dengan cepat digunakannya pisau itu untuk mencacah bawang bombay yang sudah ia letakkan di atas chopping board .
Para pengunjung restoran kecilnya yang melihat atraksi itu bersorak-sorak menyemangati dan memuji sang koki. Dan laki-laki itu semakin larut dalam keasyikannya menyiapkan satu hidangan baru.
Semua pengunjung tetap restoran itu tahu pasti bahwa tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian laki-laki itu dari kesibukan dan keasyikannya memasak. Tetapi ketika seorang perempuan melangkah masuk ke dalam ruangan restoran ia seperti tersihir untuk menatap lekat-lekat sosok itu.
Perempuan itu begitu cantik dan segar. Tubuhnya yang ramping dibalut gaun berbahan tipis yang hampir tembus pandang. Laki-laki itu dan pengunjung lain hampir bisa melihat sepasang buah dada yang indah di balik gaunnya berwarna gading.
Laki-laki itu memanggil asistennya dan menyuruhnya untuk meneruskan masakan yang sudah mulai ia racik. Beberapa pengunjung tampak kecewa melihat sang koki meninggalkan aksinya.
Dengan tenang dan pelan didekatinya perempuan yang sudah duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Hanya ada dua buah kursi di meja itu. Ia pasti sedang menunggu seseorang, pikir sang koki.
Koki itu tersenyum kepada perempuan itu, Tak apa sedikit lancang. Bukankah perempuan suka dengan laki-laki yang tak terduga?
Perempuan itu membalas senyumnya. Satu sinyal bahwa ia tidak merasa terganggu dengan kehadirannya. Kemudian laki-laki itu menarik kursi dan menyandingkannya di sisi meja dekat dengan sisi perempuan itu duduk.
Lampu tempel di dinding yang temaram tidak mampu menyembunyikan kecantikan perempuan itu. Rambutnya yang lurus sepunggung dibiarkannya tergerai begitu saja. Riasan tipis di wajahnya sungguh sangat alami. Ia bahkan seharusnya tak perlu menyapukan apapun di wajahnya. Dia sudah sangat luar biasa…
‘Anda cantik sekali,’ bisik laki-laki itu pelan.
Perempuan itu seharum vanila.
Dia tersenyum dan menunduk lalu kembali memandang laki-laki itu. Rambutnya yang bergerak menebarkan harum kayu manis yang hangat.
‘Terima kasih.’
Luar biasa. Nafasnya sesegar daun mint yang paling segar. Bibirnya semerah cherry yang paling ranum. Kulitnya bersih putih agak merah jambu seperti santan yang tercampur setetes sirup mawar.
Lezat sekali, pikir laki-laki itu.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan perempuan itu menyambutnya. Telapak tangannya terasa begitu halus. Ia membayangkan betapa lembutnya seluruh tubuh perempuan itu. Laki-laki itu membayangkan menuangkan minyak zaitun yang sudah dicampur sedikit garam halus dan tumbukan daun basil ke punggung perempuan itu. Ditelannya ludah ketika imajinasi itu semakin menjadi.
Perempuan itu menyibakkan rambut dari salah satu sisi wajahnya. Sebentuk daun telinganya tampak. Laki-laki itu membayangkan betapa renyahnya tulang lunak telinga perempuan itu. Celupkan ke dalam saus lemon dan lelehan gula merah yang harum.
‘Boleh saya beli anda?’tanya laki-laki itu.
‘Untuk apa? Kawin?’ perempuan itu balas bertanya. ‘Atau untuk beranak pinak?’
Laki-laki itu menggeleng dan memandang kedua mata perempuan itu bergantian. Sepasang mata yang seindah zaitun hitam.
‘Tidak untuk keduanya.’
‘Lalu untuk apa?’
‘Untuk bahan masakan saya.’
Perempuan itu tertawa pelan.
‘Buat saya itu pujian.’bisik perempuan itu ke telinga sang koki.
Harum mint, kayu manis, vanila, santan dan mawar bercampur.
‘Masuklah ke dapur,’ pinta laki-laki itu.
‘Lalu?’ tanya perempuan itu.
‘Saya akan baringkan anda di atas meja pualam, membuka, kemudian membelah anda.’
Perempuan itu memandang laki-laki itu dengan senyum di sudut bibirnya.
‘Maaf, tetapi saya sedang tidak ada waktu. Saya sedang menunggu seseorang.’ katanya.
‘Dia tidak akan datang.’sergah laki-laki itu.
‘Dari mana anda tahu?’tanya perempuan itu.
‘Naluri saya berkata demikian.’
‘Naluri anda selalu benar?’
‘Selalu kalau berhubungan dengan masakan.’
‘Jadi ada kemungkinan naluri anda salah sekarang.’
‘Kenapa?’
‘Dia sudah datang.’
Perempuan itu menunjuk sosok laki-laki tampan yang berdiri di ambang pintu restoran, memandang mereka duduk berdua.
Pelan, perempuan itu beranjak dari kursinya. Dan semua keindahan, keharuman dan kelezatan menyebar ke seluruh ruangan.
‘Jangan pergi,’ bisik laki-laki itu penuh harap.
Perempuan itu berbalik dan memandangnya sesaat.
‘Saya tidak pergi. Aku selalu di sini.’
Dan perempuan itu pun berlalu bersama kekasihnya.
Laki-laki itu memandang keduanya keluar dari restorannya dan hilang ditelan malam.
Sejak malam itu, restorannya tidak pernah sepi pengunjung. Restoran itu selalu menyajikan makanan utama dan pencuci mulut yang paling lezat. Koki itu meramu semua sajian makanannya dengan penuh rasa cinta.
Sang koki mengayunkan sebilah pisau yang berkilau-kilau ke udara. Dan ketika pisau itu meluncur turun ia dengan sigap menangkapnya dengan gerakan akrobatik.
Para pengunjung restoran kecilnya yang melihat atraksi itu berteriak-teriak menyemangati dan memuji sang koki. Dan laki-laki itu semakin larut dalam keasyikannya menyiapkan satu hidangan baru. Semua pengunjung tetap restoran itu tahu pasti, masih tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian laki-laki itu dari kesibukan dan keasyikannya memasak. Tetapi sesekali laki-laki itu melirik ke arah pintu. Dia berharap perempuan indah itu datang kembali dan menebarkan segala harum surgawi.
Sayangkuuuuuu….
aduh, pagi pagi sudah kau siapkan sarapan untukku.
Sebutir telur dan segelas susu.
Padahal selimut masih membungkus tubuh dinginku.
Dan di luar embun masih sebening matamu.
Sibakkan kabut dengan merdu suaramu.
Kasihku…..
bacakan koran pagi untukku.
Tentang politik, ekonomi, atau sekedar berita lelayu.
Oooh…. sayangkuuuuuu…
nikmatnya menggeliat di ranjang yang memerangkap wangi tubuhmu.
Tapi waktu tak mau menunggu.
Ia melesat seperti kijang yang kemayu.
Dan boss sudah mengirim pesan pendek untukku.
"Mana materi presentasi yang kamu siapkan untukku!"
Lalu dalam hitungan sepersekian waktu,
aku sudah siap di depanmu.
Makan pagi bersamamu.
Sebutir telur, segelas susu
dan setangkup roti yang seharusnya beroles madu.
Tetapi madu terakhir sudah habis sehari yang lalu.
Perduli madu!
Kukecup bibirmu,
yang lebih manis dari manis tebu.
Sayangkuuuuu….
tunggu aku.
Sebelum senja jatuh
aku sudah akan berdiri di depanmu.
Karena malam ini, aku ingin bercinta dan mengecap manis bibirmu…