Ada saatnya
kita harus berhenti
dan meninggalkan semuanya,
untuk sesuatu yang lebih hakiki.
Ada saatnya
kita harus berhenti
dan meninggalkan semuanya,
untuk sesuatu yang lebih hakiki.
Kapalmu datang dari jauh,
tidak untuk berlabuh.
Jejak riaknya
menggores samudra,
seperti segaris tinta
pada selembar surat cinta.
Adakah engkau di sana?
Berdiri tegak di atas geladak.
Memandang bintang
pada kanvas langit malam.
Dan bersetubuh dengan kabut subuh.
Adzan tidak berkumandang
di tengah lautan.
Tetapi engkau melafalkan
matahari terbit dan tenggelam.
Apakah engkau membawa senandung muadzin
dalam telingamu yang tuli
oleh bisik cinta Tuhanmu?
Apakah engkau mendekap qur’an
dalam setiap perjalanan,
tetapi menyebarkan kebencian
di sepanjang garis lautan?
Apakah engkau mengobarkan dendam
sesering engkau membuang kenangan?
Tuhan tidak buta dan tuli.
Dia memandangmu sambil tersenyum geli.
Sebab doa tak kau panjatkan.
Namun hatimu mengharapkan.
Di tengah lautan
tubuhmu terayun-ayun,
tetapi jiwamu merindukan daratan.
Tuhan tidak buta dan tuli
Ucapkan doa dan amini.
Kematian bukan hanya sebuah tidur panjang.
Kau tak akan pernah tahu
bagaimana dan di mana
kelak jasadmu akan dikuburkan.
Sebab tanah makam
bisa sangat menyesakkan.
Tetapi dasar lautan
bisa menjadi tempat
yang menenangkan.
Jangan pernah pikirkan
ke surga atau neraka
kelak engkau akan dikirimkan.
Baringkan tubuhmu.
Nikmati tidur panjangmu.
Dan jika jiwa berpisah dari ragamu,
yakinlah,
kelak mereka akan bertemu.
Dan saat itu,
aku akan semakin cinta padamu.
(pada suatu ketika…)
KAU PERNAH MELIHAT LAUT SAAT SENJA
KETIKA SEMUA WARNA DUNIA PUDAR?
KAU PERNAH MELIHAT KARANG BERANJAK
MESKI HASRAT INGIN BERGERAK?
SEBAB WAKTU MEMANG TAK IJINKAN
SEMUA YANG TERSURAT
MENJADI HURUF HURUF YANG TERSERAK….
Cinta tumbuh di mana saja.
Di padang gersang,
di lorong pelacuran,
di medan perang.
Tetapi benci
hanya tumbuh
di hati yang tak terang.