ALL DOGS GO TO HEAVEN

Seekor anjing lari terbirit-birit.

Di belakangnya serombongan orang berlari mengejarnya membawa pentung dan celurit.

Seekor anjing lari terpincang-pincang.

Sebatang onak melukai kakinya yang telanjang.

Seekor anjing jatuh tersungkur.

Tubuhnya lelah dalam pelariannya yang tampaknya akan berujung.

(Tuhan

Oh Tuhanku.

Aku diam dalam kuasaMu.

Mengapa orang-orang itu begitu membenciku?

Torehan luka yang mereka goreskan ke tubuhku

bukan kasih dan sayang yang mereka selimutkan padaku.

Tuhan

Oh Pemilikku.

Aku yakin Engkau menciptakan aku sebagai salah satu nikmatMu.

Tetapi mereka salah mengartikan keberadaanku.

Aku tak menyalahkan kitabMu.

Tetapi aku juga tak bisa menyalahkan cara mereka memandangku.

Tuhan

Oh Tuhanku.

Akupun hanya hambaMu

Jika ku tak ber hak atas surgaMu,

ampunilah mereka yang membenci dan merajamku.)

Seekor anjing, mati terlentang.

Matanya terbuka menatap kosong dan dalam.

Tubuhnya seharusnya diam dalam tenang.

Tetapi orang-orang membawanya sebagai potongan-potongan.

Seekor anjing yang lain, berdiri diam.

Menatap sepiring hidangan daging saus lada hitam,

untuk makan malam kalian,

wahai para tuan.

Pena Baru

Sayang, maafkan aku…

Karena sudah lama aku tak menulis surat untukmu.

Setahun sudah aku tak pernah mengirim puisi untukmu.

Namun jangan berpikir bahwa aku tak lagi sayang padamu.

Ini hanya masalah waktu.

Kelak, kalau memang masih ada waktu,

aku akan menulis seribu surat dan puisi untukmu.

Tapi aku butuh pena baru untuk menulis surat padamu,

agar aku bisa bilang bahwa aku semakin sayang padamu.

(Dalam penjara hatimu, engkau mengurungku tanpa kertas tanpa pena, dan kau berharap aku menulis surat padamu. Mana bisa? Darahku merah, bukan biru. Kalau aku menulis dengan merah darahku, kau pasti berpikir aku membencimu. Meskipun kutulis kata-kata mesra untukmu. Karena itu kirimkan sebuah pena baru untukku. Bukan hanya untuk menulis surat buatmu tetapi juga untuk menikam hatimu.  Agar engkau tahu bahwa aku masih terkungkung dalam dingin dan gelap penjara hatimu.)

(Jakarta, akhir Jan 2007)