Perempuan itu terduduk di sudut kamar tidurnya. Ia memandang ranjang tempat ia dan almarhum suaminya pernah mengarungi bahagia bersama.
Dari sudut kedua matanya mengalir air mata yang tak terbendung. Di tangan kanannya selembar kertas bertulisan rapi,terbuka. Tak jauh di ujung kakinya bertumpuk surat surat yang ia buka dari sebuah kotak yang selama ini disimpan suaminya. Sebuah kotak yang selama ini menyimpan rahasia laki-laki yang dicintainya.
Pelan, perempuan itu bangkit dari tempatnya duduk. Diraihnya gagang telpon dan ditekannya nomor yang terdapat di salah satu surat yang ia baca. Sebenarnya ia pernah menelpon nomor itu. Tetapi ia tak yakin bahwa si penerima telpon adalah orang yang pernah menulis surat-surat cinta untuk suaminya.
Sesaat kemudian, sebuah suara terdengar di ujung sana. Ternyata suara mesin penjawab. Perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan pesan. Ia mengatakan bahwa ia sangat ingin bertemu sore itu. Ada satu hal penting yang ingin dibicarakannya.
Sore itu, perempuan itu duduk di sudut sebuah kafe yang sudah ia tentukan sebagi tempat bertemu. Sudah lima belas menit ia menunggu. Di mejanya, secangkir teh cammomile hangat dan sepotong opera menemani kesendiriannya.
Mungkin dia tidak datang, pikir perempuan itu.
Diambilnya sebuah majalah dari rak buku di salah satu sisi kafe. Ia lalu kembali duduk. Ketika ia sedang membaca salah satu rubrik dalam majalah itu, seseorang mendatangi mejanya dan menyapa.
"Sore. Anda …?" tanya orang itu.
Perempuan itu membalas salamnya dan mengiyakan.
"Anda…?" Perempuan itu balas bertanya.
Orang itu mengangguk. Perempuan itu menyilakannya duduk.
Selanjutnya, tak ada perkenalan dan tawa, apalagi pembicaraan. Sunyi. Keduanya saling berpandangan.
Perempuan itu merasakan jantungnya berdegup kencang. Marah, kecewa, sakit hati, sedih, semuanya bercampur tanpa ia tahu berapa kadar masing masing perasaan yang menyergap hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam agar air matanya tak mengalir.
Dibukanya tas tangannya. Dari dalamnya perempuan itu mengeluarkan setumpuk surat cinta yang pernah diterima almarhum suaminya dari orang yang saat ini duduk di hadapannya.
"Ini surat-surat yang pernah anda kirim untuk suami saya." kata perempuan itu dengan nada datar.
"Suami saya meninggal sebulan yang lalu. Seminggu setelah ia meninggal, saya baru ingat, ia pernah menyimpan sebuah kotak yang selalu diikatnya kuat kuat dan disembunyikannya dari saya."
"Akhirnya saya menemukan kotak itu dan membukanya. Di dalamnya saya menemukan surat-surat yang pernah anda tulis untuk suami saya."
Orang itu memandang perempuan itu dengan tatapan menyesal.
"Suami saya sudah tidak ada, dan surat surat itu tidak ada gunanya untuk saya. Terserah anda mau menyimpannya atau membuangnya."
Perempuan itu berkemas dan berdiri dari kursinya. Tetapi orang itu mencoba menahannya.
Perempuan itu memandang orang itu dengan tatapan sedih dan prihatin.
"Saya tidak tahu siapa yang menyebarkan penyakit ini. Suami saya, Anda atau saya…"
Perempuan itu berlalu meninggalkan orang itu yang masih duduk terdiam, memandang kotak berisi setumpuk surat cinta yang pernah ia tulis untuk kekasihnya; suami perempuan itu.
WOW. Tragisnya. Well, saya kira perlu ditanya tuh laki-laki impiannya si suami, dia sadar dia sakit nggak. Tetapi kalau istri bilang seperti itu, ya siapa tahu, mungkin jelas juga biang keladinya siapa. Tetapi sebenarnya, yang perlu kita renungkan adalah mengapa sebagian dari kita mencari alternatif, padahal cinta yang hangat ada di rumah. Semua punya alasan sendiri-sendiri. Dan sering alasan itu sangat dalam dan personal, bukan nafsu. The truth is in the heart of each of them.
December 21st, 2006, at 10:03 pm #Did I mention that the 3rd person is a man? I don’t think so.
December 25th, 2006, at 12:09 am #Life is a choice. And I dare you all to figure out who the 3rd person really is.
huahahaha..GOTCHA!!!!!
December 25th, 2006, at 6:47 am #Hmmm…kalau saya berpikir orang ketiga itu adalah cowok, itu ada sejarahnya, yang saya dan Nino yang tahu. Karena sebelum saya membaca Surat-surat Cinta atas undangan Nino, ada diskusi pengantar sebelumnya. Well istilahnya “saya sudah preoccupied terlebih dahulu sebelum mengunjungi situs ini bahwa yang akan saya baca adalah adalah male to male love affair”. Tetapi saya sudah kasih salut pada Nino atas tulisannya ini. Buat saya, cerita ini bukan masalah orang ketiga itu cowok atau cewek. Tetapi lebih pada “penyakit” nya itu.
God bless u all in the coming new year.
December 25th, 2006, at 10:03 pm #comment keduaku setelah “klien Terakhir”…
December 28th, 2006, at 8:35 pm #i dont know who is the 3rd person in this story.. tapi maksud dari penyakit yang disebutkan penulis, hanya penulis yg tahu, aku sebagai pembaca cuma mengira-ngira apa maksud dari penyakit yg disebutkan perempuan itu, dan hl ini begitu unik, karena endingnya hanya pembaca yg bisa menyimpulkan, emang menggntung tapi jadinya malah pensaran untuk membaca “katakataku” nya nino. siapa tahu ada terselib sambungan atau adabenang merah antar postingan yg satu dengan yg lainnya
erm………:-(
September 15th, 2009, at 12:12 am #