KLIEN TERAKHIR

Laki-laki itu memandang kesekian kali ke arah jam dinding yang tergantung di ruang klinik tempat ia bekerja sebagai konselor. Waktu sudah menunjukkan pukul

lima

sore. Sudah waktunya tutup klinik. Tetapi klien terakhir yang ia tunggu belum juga tiba. Sudah beberapa kali ia menghubungi nomor telpon klien itu tetapi tidak ada jawaban.

Laki-laki itu melihat kembali jam di dinding. Ditariknya nafas dalam-dalam. Ia pikir tak ada salahnya menunggu sepuluh menit lagi. Dan ternyata benar, tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruang konseling.

“Silahkan masuk” kata laki-laki itu.

Pintu ruang konseling dibuka, dan seorang perempuan berumur dua puluhan melangkah masuk. Wajahnya cantik, tetapi terlihat muram. Tubuhnya langsing, tetapi lebih cenderung kurus. Rambutnya yang hitam panjang sebahu diikat ke belakang. Poninya yang tidak rapi menutupi  kening.

Konselor  itu tertegun. Bukan karena penampilan perempuan itu yang tampak muram, tetapi karena seharusnya klien terakhirnya adalah seorang laki-laki. Pria itu sudah membuat janji seminggu yang lalu untuk konsultasi tentang perkawinannya. Dalam kesempatan konseling seminggu sebelumnya, laki-laki tu bercerita bahwa ia mempunyai masalah yang pelik dengan istrinya, namun ia belum bercerita lebih jauh tentang detilnya. Dan dalam kurun waktu seminggu ini, laki-laki itu tidak pernah sekalipun menghubungi sang konselor untuk sekedar berbagi cerita.

Tetapi melihat perempuan itu berdiri di depannya, konselor itu merasa tidak mungkin memintanya keluar. Ia merasa lebih baik berkompromi dengan situasi dan menyuruh perempuan itu duduk.

“Silahkan duduk,” kata konselor.

Perempuan itu duduk di kursi di samping meja konseling. Kedua tangannya bertumpu di pangkuannya. Wajahnya pucat.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanya laki-laki itu.

Perempuan itu menggeleng.

“Saya hanya ingin duduk di sini.” Ucapnya lirih.

Konselor itu hanya mengangguk. Ia tidak ingin memaksa perempuan itu untuk mulai bercerita tentang apa yang sedang dialaminya. Tetapi laki-laki itu tidak mengira perempuan itu bisa berdiam diri begitu lama. Rasanya mereka berdua sudah berjam-jam duduk di dalam ruangan itu.

Tiba-tiba perempuan itu beranjak dari kursinya dan berkata lirih:

“Saya harus pergi sekarang. Terima kasih.”

Perempuan itu keluar dari ruangan. Sedangkan sang konselor hanya tertegun memandang pintu yang pelan-pelan mulai merapat dan lalu menutup.

Malam itu hanya sebuah malam seperti biasa bagi laki-laki itu. Seperti biasa sepulang dari klinik konseling, ia kembali ke rumah, mandi, makan malam, membaca koran sore hari itu dan menyalakan televisi di ruang tengah.

Ketika menelusuri kolom demi kolom dalam koran sore yang dibacanya, tiba-tiba mata laki-laki tertuju pada sebuah kolom berita duka. Sebuah foto terpampang dengan jelas di kolom tersebut. Laki-laki hampir terpekik saat menyadari ia mengenali orang  dalam foto itu.

Dia adalah perempuan muda yang datang ke klinik konselingnya sore tadi!

Lalu dengan seksama dibacanya nama-nama anggota keluarga yang berduka dalam berita duka itu.

Salah satu nama yang tertulis adalah nama laki-laki itu:

klien konselingnya!

Ternyata ia adalah suami perempuan muda itu!

Pikiran konselor itu dikepung berjuta analisa dan asumsi tentang semua kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Satu pertanyaannya, lalu siapa perempuan yang datang menemuinya di ruang konseling sore tadi?

Mungkinkah….?

Laki-laki itu melemparkan koran yang dipegangnya ke atas meja.

Surat Surat Cinta

Perempuan itu terduduk di sudut kamar tidurnya. Ia memandang ranjang tempat ia dan almarhum suaminya pernah mengarungi bahagia bersama.

Dari sudut kedua matanya mengalir air mata yang tak terbendung. Di tangan kanannya selembar kertas bertulisan rapi,terbuka. Tak jauh di ujung kakinya bertumpuk surat surat yang ia buka dari sebuah kotak yang selama ini disimpan suaminya. Sebuah kotak yang selama ini menyimpan rahasia laki-laki yang dicintainya.

Pelan, perempuan itu bangkit dari tempatnya duduk. Diraihnya gagang telpon dan ditekannya nomor yang terdapat di salah satu surat yang ia baca. Sebenarnya ia pernah menelpon nomor itu. Tetapi ia tak yakin bahwa si penerima telpon adalah orang yang pernah menulis surat-surat cinta untuk suaminya.

Sesaat kemudian, sebuah suara terdengar di ujung sana. Ternyata suara mesin penjawab. Perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan pesan. Ia mengatakan bahwa ia sangat ingin bertemu sore itu. Ada satu hal penting yang ingin dibicarakannya.

Sore itu, perempuan itu duduk di sudut sebuah kafe yang sudah ia tentukan sebagi tempat bertemu. Sudah lima belas menit ia menunggu. Di mejanya, secangkir teh cammomile hangat dan sepotong opera menemani kesendiriannya.

Mungkin dia tidak datang, pikir perempuan itu.

Diambilnya sebuah majalah dari rak buku di salah satu sisi kafe. Ia lalu kembali duduk. Ketika ia sedang membaca salah satu rubrik dalam majalah itu, seseorang mendatangi mejanya dan menyapa.

"Sore. Anda …?" tanya orang itu.

Perempuan itu membalas salamnya dan mengiyakan.

"Anda…?" Perempuan itu balas bertanya.

Orang itu mengangguk. Perempuan itu menyilakannya duduk.

Selanjutnya, tak ada perkenalan dan tawa, apalagi pembicaraan. Sunyi. Keduanya saling berpandangan.

Perempuan itu merasakan jantungnya berdegup kencang. Marah, kecewa, sakit hati, sedih, semuanya bercampur tanpa ia tahu berapa kadar masing masing perasaan yang menyergap hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam agar air matanya tak mengalir.

Dibukanya tas tangannya. Dari dalamnya perempuan itu mengeluarkan setumpuk surat cinta yang pernah diterima almarhum suaminya dari orang yang saat ini duduk di hadapannya.

"Ini surat-surat yang pernah anda kirim untuk suami saya." kata perempuan itu dengan nada datar.

"Suami saya meninggal sebulan yang lalu. Seminggu setelah ia meninggal, saya baru ingat, ia pernah menyimpan sebuah kotak yang selalu diikatnya kuat kuat dan disembunyikannya dari saya."

"Akhirnya saya menemukan kotak itu dan membukanya. Di dalamnya saya menemukan surat-surat yang pernah anda tulis untuk suami saya."

Orang itu memandang perempuan itu dengan tatapan menyesal.

"Suami saya sudah tidak ada, dan surat surat itu tidak ada gunanya untuk saya. Terserah anda mau menyimpannya atau membuangnya."

Perempuan itu berkemas dan berdiri dari kursinya. Tetapi orang itu mencoba menahannya.

Perempuan itu memandang orang itu dengan tatapan sedih dan prihatin.

"Saya tidak tahu siapa yang menyebarkan penyakit ini. Suami saya, Anda atau saya…"

Perempuan itu berlalu meninggalkan orang itu yang masih duduk terdiam, memandang kotak berisi setumpuk surat cinta yang pernah ia tulis untuk kekasihnya; suami perempuan itu.