KLIEN TERAKHIR
Monday, December 25th, 2006
Laki-laki itu memandang kesekian kali ke arah jam dinding yang tergantung di ruang klinik tempat ia bekerja sebagai konselor. Waktu sudah menunjukkan pukul
lima sore. Sudah waktunya tutup klinik. Tetapi klien terakhir yang ia tunggu belum juga tiba. Sudah beberapa kali ia menghubungi nomor telpon klien itu tetapi tidak ada jawaban.
Laki-laki itu melihat kembali jam di dinding. Ditariknya nafas dalam-dalam. Ia pikir tak ada salahnya menunggu sepuluh menit lagi. Dan ternyata benar, tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruang konseling.
“Silahkan masuk” kata laki-laki itu.
Pintu ruang konseling dibuka, dan seorang perempuan berumur dua puluhan melangkah masuk. Wajahnya cantik, tetapi terlihat muram. Tubuhnya langsing, tetapi lebih cenderung kurus. Rambutnya yang hitam panjang sebahu diikat ke belakang. Poninya yang tidak rapi menutupi kening.
Konselor itu tertegun. Bukan karena penampilan perempuan itu yang tampak muram, tetapi karena seharusnya klien terakhirnya adalah seorang laki-laki. Pria itu sudah membuat janji seminggu yang lalu untuk konsultasi tentang perkawinannya. Dalam kesempatan konseling seminggu sebelumnya, laki-laki tu bercerita bahwa ia mempunyai masalah yang pelik dengan istrinya, namun ia belum bercerita lebih jauh tentang detilnya. Dan dalam kurun waktu seminggu ini, laki-laki itu tidak pernah sekalipun menghubungi sang konselor untuk sekedar berbagi cerita.
Tetapi melihat perempuan itu berdiri di depannya, konselor itu merasa tidak mungkin memintanya keluar. Ia merasa lebih baik berkompromi dengan situasi dan menyuruh perempuan itu duduk.
“Silahkan duduk,” kata konselor.
Perempuan itu duduk di kursi di samping meja konseling. Kedua tangannya bertumpu di pangkuannya. Wajahnya pucat.
“Apa yang bisa saya bantu?” tanya laki-laki itu.
Perempuan itu menggeleng.
“Saya hanya ingin duduk di sini.” Ucapnya lirih.
Konselor itu hanya mengangguk. Ia tidak ingin memaksa perempuan itu untuk mulai bercerita tentang apa yang sedang dialaminya. Tetapi laki-laki itu tidak mengira perempuan itu bisa berdiam diri begitu lama. Rasanya mereka berdua sudah berjam-jam duduk di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba perempuan itu beranjak dari kursinya dan berkata lirih:
“Saya harus pergi sekarang. Terima kasih.”
Perempuan itu keluar dari ruangan. Sedangkan sang konselor hanya tertegun memandang pintu yang pelan-pelan mulai merapat dan lalu menutup.
Malam itu hanya sebuah malam seperti biasa bagi laki-laki itu. Seperti biasa sepulang dari klinik konseling, ia kembali ke rumah, mandi, makan malam, membaca koran sore hari itu dan menyalakan televisi di ruang tengah.
Ketika menelusuri kolom demi kolom dalam koran sore yang dibacanya, tiba-tiba mata laki-laki tertuju pada sebuah kolom berita duka. Sebuah foto terpampang dengan jelas di kolom tersebut. Laki-laki hampir terpekik saat menyadari ia mengenali orang dalam foto itu.
Dia adalah perempuan muda yang datang ke klinik konselingnya sore tadi!
Lalu dengan seksama dibacanya nama-nama anggota keluarga yang berduka dalam berita duka itu.
Salah satu nama yang tertulis adalah nama laki-laki itu:
klien konselingnya!
Ternyata ia adalah suami perempuan muda itu!
Pikiran konselor itu dikepung berjuta analisa dan asumsi tentang semua kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Satu pertanyaannya, lalu siapa perempuan yang datang menemuinya di ruang konseling sore tadi?
Mungkinkah….?
Laki-laki itu melemparkan koran yang dipegangnya ke atas meja.