Kucing Liar

Siang tak lagi begitu terik. Laki-laki itu turun dari bis di sudut jalan di ujung gang menuju rumahnya. Sesaat ia bediri menatap ke arah gang yang lengang. Hanya ada beberapa rumah di sepanjang gang itu. Dan rumahnya sendiri terletak jauh di ujung gang, kurang lebih lima ratus meter dari tempatnya berdiri.

Ia menarik nafas panjang lalu berjalan masuk menyusuri gang. Tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celananya sedangkan tangan kanannya menjinjing tas plastik berisi bahan-bahan makanan yang ia beli dari supermarket sepulang kerja. Tak banyak yang ia beli siang itu, hanya tiga butir kentang, tiga buah wortel, seperempat kilo daging sapi, sekantong kapri dan sebungkus kecil penyedap masakan. Ia akan memasak sup untuk makan malam.

Sudah beberapa hari ini, istrinya terbaring sakit. Nafsu makannya juga hilang. Laki-laki itu tidak habis pikir mengapa istrinya bisa tiba-tiba mendadak sakit. Tak ada gejala-gejala yang nampak sebelumnya. Dan setiap kali laki-laki itu bertanya apa yang dirasakannya, perempuan itu hanya menggeleng dan melenguh lirih. Tak sekalipun ia membuka mulut atau bersuara sejak ia sakit. Bahkan perempuan itu tak secuilpun menyentuh makanan-makanan yang disiapkan suaminya.

Beberapa kali laki-laki itu berinisiatif untuk memanggil dokter ke rumah tetapi ia kembali mengurungkan niatnya itu karena istrinya tidak pernah sekalipun menyukai dokter. Aroma obat bisa membuatnya muntah tak berkesudahan, dan jarum suntik bisa membuatnya sangat ketakutan. Laki-laki itu lalu bertekad untuk merawat sendiri istrinya.

Laki-laki itu berhenti di muka halaman rumah seorang tetangganya, tak jauh dari rumahnya. Ia melihat seonggok mayat kucing yang telah dikerumuni lalat. Tampaknya kejadiannya belum lama karena mayat kucing itu belum membusuk. Di tubuhnya terdapat beberapa luka yang menganga.

Kucing yang malang, kasihan sekali, pikir laki-laki itu. Ia teringat kucing kesayangannya, Kuning, di rumah. Untunglah ia selalu menutup pintu rumah agar Kuning tidak keluar. Bisa saja tiba-tiba Kuning diserang oleh serombongan kucing liar itu.

Di daerah itu memang ada banyak kucing-kucing liar yang datang dari kampung seberang atau hutan dan huma-huma di sekitarnya. Kucing-kucing itu turun ke pemukiman dan menyerang kucing-kucing rumah untuk berebut makanan. Dinas kesehatan kota pernah menangkapi kucing-kucing liar itu karena dikuatirkan bisa menyebarkan penyakit rabies. Tetapi binatang itu terus beranak pinak, seperti tak habis induk mereka melahirkan bayi-bayi baru. Sambil terus menutup hidungnya, laki-laki itu berlalu.

Di depan halaman rumahnya, laki-laki itu berhenti sejenak dan bernafas dalam-dalam.

‘Ya Tuhan, semoga istriku sedikit baikan hari ini,’bisiknya.

Lalu dibukanya pintu pagar. Ia tidak masuk melalui pintu depan seperti biasanya melainkan berputar lewat samping. Ia ingin mengintip istrinya dari jendela. Dari balik kaca jendela yang buram, ia tak melihat istrinya berbaring di ranjang. Tempat tidur itu kosong dengan seprai dan selimut yang kusut.

Laki-laki itu bergegas  berjalan ke pintu belakang rumah. Ia begitu lega mendapati istrinya duduk di teras belakang rumah. Ia masih tampak lemah, tetapi kelihatan jauh lebih baik daripada beberapa hari terakhir ini.

‘Sayang,’ laki-laki itu memanggil istrinya.

Perempuan itu menoleh dan tersenyum. Ia tampak lega melihat suaminya sudah pulang. Laki-laki itu menarik sebuah kursi lalu duduk di dekat istrinya. Di sentuhnya kening istrinya, pipi dan lehernya. Ia bisa merasakan basah sisa sisa keringat.

‘Kamu sudah merasa baikan, Sayang?’ Tanya laki laki itu.

Perempuan itu menggangguk sambil tersenyum.

‘Aku tadi belanja sepulang dari kantor. Aku ingin memasak sup untukmu.’ Laki-laki itu menunjukkan tas plastik berisi bahan-bahan makanan itu kepada istrinya. Perempuan itu tersenyum lagi sambil melihat isinya. Matanya tampak berbinar ketika suaminya menyebutkan salah satu bahan yang ia beli dari supermarket.

‘Atau kau ingin aku masak sekarang? Kau belum makan siangkan, Sayang?’ Tanya laki-laki itu. Perempuan itu mengiyakan.

Laki-laki itu berdiri lalu beranjak ke dapur. Diletakkannya barang-barang belanjaannya di atas meja. Kemudian ia masuk ke kamar untuk ganti pakaian.

‘Sayang,’ ucapnya keras-keras dari dalam kamar ,’Tadi aku melihat ada kucing mati di depan rumah sebelah. Sepertinya kucing itu habis berkelahi dengan kucing-kucing liar.’

Laki-laki itu menyisir rambutnya sambil bercermin.

‘Untung kita selalu menutup pintu agar Kuning tidak menyerobot pergi keluar. Dia pasti lebih aman di dalam sini.’

Tiba-tiba laki-laki itu menyadari sesuatu. Sejak ia tiba di rumah tadi ia tidak mendengar suara Kuning atau bahkan melihat sosoknya melintas. Laki-laki itu bergegas keluar dari kamar.

‘Sayang, di mana Kuning?’ tanyanya.

‘Tadi waktu kamu keluar Kuning masih ada di sinikan?’

Laki-laki itu masuk ke dapur dan mendapati istrinya di sana, berdiri di sudut membelakanginya.

‘Sayang, di mana Kuning?’

Laki-laki itu mendekati istrinya lalu menyentuh pundaknya. Perempuan itu menoleh. Laki-laki itu terpekik. Darah dari daging itu mengalir di bibir istrinya . Daging yang ia beli sepulang kerja tadi sudah berada di mulut perempuan itu.

Perempuan itu menggeram dan mundur sesaat lalu berlari keluar. Laki-laki itu mencoba mengejarnya. Tetapi sosok perempuan itu melesat dan hilang di ujung hutan. Laki-laki itu menarik nafas panjang. Dadanya terasa sesak.