Sugeng ndalu, sugeng bobok

Para sadherek, para kanca sakabehe,
dina iki, bengi iki, sejatine bakal dadi sing pungkasan aku manggon ing kutha sing  pancen tak trisnani tenan iki, Jogja.
Wis telulas tahun, anggone aku madhang segane Jogja, ngombe banyune Jogja, ambegan ing Jogja, ugi kekancan, ning ora mung karo kanca Jogja, nanging karo kanca-kanca saka sak Indonesia.
Angkringan lan sega kucinge, bunderan UGM, Malioboro, demonstrasi, kerusuhan, gempa, kaliurang, merapi, parangtritis uga candi candi wis manggon ing hatiku.
Telulas tahun, aku turu ing sak ngisore langit bengi kutha iki.
Saiki, bengi iki, bakal dadi bengi sing pungkasan, aku turu ing sak ngisore langit kutha sing tak trisnani iki.
Aku pengin, bengi iki dadi bengi sing tentrem, adhem lan ayem,
ora mung kanggoku, nanging uga kanggo kanca sak kabehe.

Sugeng ndalu, sugeng bobok,…

Siapa Berhak Menulis Sejarah?

Siapa berhak menulis sejarah?
Politikus,
negarawan,
atau penulis bayaran?

Karena sejarahmu, sejarahku,
sejarah kita, tak semuanya sama,
lalu mengapa kita hanya taat pada satu buku,
dan percaya pada satu guru,
jika aku mereguk bahagia
sedangkan engkau merasakan luka?

Siapa berhak menulis sejarah?
Kamu,
aku,
atau kita semua?
Karena ternyata tak penting siapa yang menulis sejarah.
Sebab apa yang kita yakini hari ini
belum tentu benar esok hari.

Palsu

Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Dela…

aku menghitung
sudah hari keberapa
ternyata aku menemukan
kepalsuan itu.

Malaikat Malaikat yang Turun ke Bumi

Pernahkah terpikir oleh kita?

Bahwa satu di antara kita

adalah malaikat yang dikirim Tuhan

untuk menolong teman, sahabat, kekasih atau keluarga kita?

Pernahkah terlintas dalam benak kita,

bahwa malaikat itu bisa jadi adalah

salah satu di antara kita?

Saya, kamu atau dia?

Wallahualam.

Kosong

Aku sedang kosong.

Entah mengapa.

Hanya Engkau yang tahu.

Sahur Pertama 15

Aku tersentak.
Terjaga dari tidur malamku yang nyenyak.
Ternyata sahur sudah beringsut Imsyak.

Sahur Pertama 14

Ya Allah,
mengapa harus kuhitung berapa jarak ke masjid untuk berjamaah,
jika jarak ku dengan kematian hanya sekedip mata?

Sahur Pertama 13

Kekasihku, Engkau pernah menjadikanku selembar kertas kosong.
Putih tanpa garis.
Lalu waktu membawaku melalui perjalanan
yang menorehkan lengkung, titik, garis dan koma
di halaman putihku.
Kekasihku, butuh berapa lama untuk membersihkan kembali hati dan jiwaku
yang kotor dan lusuh oleh salah, khilaf dan dosa?
Aku bukanlah kemarau setahun yang bisa terhapus oleh hujan sehari.
Satu Ramadhan tidak lah cukup,
untuk membersihkan dosa-dosa yang kulakukan seumur hidupku.
Tetapi aku yakin Engkau memberikan setiap detik kepadaku
untuk bersimpuh di kaki Mu dan memohon ampun kepada Mu.
Tetapi jangan biarkan aku
sedetik menangis di pelukan Mu
lalu sedetik kemudian pergi meninggalkan Mu.

Sahur Pertama 12

Lewat tengah malam Warni terjaga. Besok puasa pertama, ia harus bangun sekarang dan menyiapkan makan sahur. Tetapi hatinya risau.
Lalu perempuan itu duduk dalam remang kamarnya yang pengap oleh asap obat nyamuk bakar. Dipandangnya kedua anaknya yang masih terlelap. Di lantai, Hilman suaminya terbaring kelelahan setelah seharian menarik becak mencari nafkah untuk mereka semua.
Malam itu laki-laki itu pulang ke rumah dengan kondisi tak keruan. Becaknya disrempet angkutan dan ia sendiri terluka di kening, siku dan lututnya.
Tetapi siapapun masih bisa bilang, " Untung cuma luka di situ."
Hilman tak memikirkan lukanya tetapi yang membuatnya galau adalah becak pinjamannya rusak cukup parah. Sehingga ia harus mengembalikannya kepada juragannya dan memberikan semua hasil menarik becak seharian sebagai ongkos perbaikan.
Dan ketika pulang ke rumah malam itu, laki-laki itu hanya bisa menunjukkan kepada istrinya, memar dan luka-luka yang masih tertinggal di tubuhnya.
"Aku ndak bawa uang," ucap laki-laki itu lirih
Warni tersenyum untuk mencoba melegakan perasaan suaminya. Lalu dibersihkannya luka laki-laki itu dan diobatinya seadanya.
"Istirahat dulu," bisik Warni kepada Hilman.
Kemudian laki-laki itu membaringkan dirinya di lantai beralas tikar tipis dan berselimut sarung.

Warni beranjak ke dapur. Hati dan pikirannya masih galau. Seekor tikus yang melintas tak dihiraukannya. Di dapur beras hanya tinggal segenggam, dan suaminya tak membawa sepeserpun uang atau sebungkus makanan.
Dalam diamnya, perempuan itu menyiapkan bubur untuk sahur. Beras segenggam dan air segayung, cukup untuk membuat bubur.
Tak lama kemudian bubur itu sudah siap. Hangat.
Tiba-tiba mata perempuan itu tertuju pada sebuah botol plastik kecil di pojok lantai dapur.
Satu tetes saja mungkin tak akan menyakitkan, batinnya.
Ketika Warni membuka botol itu dan hendak menuangkan isinya ke dalam bubur yang masih hangat, anak bungsunya terbangun dan menyusulnya ke dapur.
Bocah perempuan itu memandang ibunya dengan senyum paling tulus.
"Makan sahur ya Mak?" tanya bocah itu polos.
Warni tersentak. Tangannya gemetar.
Dan setetes racun dari botol plastik itu jatuh ke dalam bubur.
Satu satunya makan sahur mereka.

Sahur Pertama 11

Mengapa Tuhan menciptakan si buta?

Mungkin, agar mereka tak melihat yang tak seharusnya.

Mengapa Tuhan menciptakan si bisu?

Barangkali supaya mereka tak berujar yang tak sepantasnya.

Mengapa Tuhan menciptakan si tuli?

Bisa jadi agar mereka tak mendengar yang tak selayaknya.

Lalu mengapa Tuhan menciptakan kita?

Sosok-sosok yang secara fisik "sempurna"?