Sahur Pertama 9

Ustadz itu datang dari negeri seberang.
Bukan dari Mesir bukan pula dari Persia.
Laki-laki itu datang dengan seekor kuda terbang.
Mendarat tengah malam tanggal tiga di bulan Rajab.
Lalu mengikat kudanya pada pagar-pagar huma.
Penduduk kampung menyambutnya
seperti menyambut menteri dan pembesar istana.
Mengaraknya keliling desa
seperti mengarak pengantin atau raja raja.
Semua peduduk memintanya tinggal di rumah mereka
dan makan masakan mereka.
Tetapi ustadz memilih tinggal di huma,
tempat ia mengikat kuda sembraninya.
Meminum embun pertama di pagi buta
dan menyantap buah buah liar dan kelopak bunga.
Nafas dan keringatnya sewangi kesturi surga, kata haji Mustofa.
Lalu semua penduduk memintanya untuk mengajari anak-anak mereka
membaca Al Quran dan memahami agama.
Ustadz muda memenuhi permintaan mereka.
Tetapi ia tak mengajak murid-muridnya ke dalam kelas
untuk mengeja huruf dan kata-kata.
Dibawanya mereka berkeliling huma,
menyusuri sungai dan memandang langit senja.
Tak sekalipun Al Quran mereka buka.
Suatu ketika habis kesabaran para tetua.
Karena mereka mengira ustadz muda telah menyebarkan bid ah dan sesat,
dan kemudian penduduk mengusirnya.
Namun, menjelang Syaban,anak-anak itu sudah bisa membaca Al Quran.
Dan malam pertama Ramadhan,
mereka sudah hafal Al Quran di luar kepala.
Tetapi mereka tak pernah ingat dengan siapa mereka pernah belajar.
Ustadz itu tak pernah menyebut namanya.
Tak pernah bercerita tentang asal usulnya.
Tetapi ia terus meneruskan perjalanannya.
Mencari siapa yang belum bisa "membaca".
Mungkin muridnya yang berikut adalah kita.

Sahur Pertama 8

Zain masih tergolek tak berdaya di atas ranjang. Sudah dua hari ini bocah laki-laki itu dirawat di kelas sederhana di sebuah rumah sakit. Pelipisnya diperban tebal. Sisa obat merah dan darah yang mengering masih tertinggal perban itu.
Pelan-pelan bocah itu membuka mata. Dunia yang ia lihat tampak berputar sedangkan cahaya dan warna-warna kelihatan berpendar-pendar.
Asti, ibunya masih duduk di samping ranjangnya. Wajahnya yang kuyu seketika berubah gembira ketika melihat anaknya siuman dari koma dua harinya.
"Mau minum, Zain?" tanya Asti.
Zain menggeleng. Kepalanya masih pusing. Perutnya masih terasa mual. Ia tak berselera menelan apapun.
Bocah itu memandang ke langit-langit kamar bangsalnya. Tangannya menjulur mencoba menjangkau wajah Asti.
Perempuan itu menyambut tangan mungil bocah itu dan membiarkannya menjelajahi wajahnya yang pelan-pelan basah oleh air mata.
"Aku kenapa, Mak?" tanya Zain.
Asti tertegun. Ternyata anaknya tak ingat apa yang sudah terjadi. Zain mengulangi lagi pertanyaannya. Bocah laki-laki itu mulai merasa gusar. Ia merasa tak nyaman dengan sikap diam ibunya. Dan Zain mulai menangis.
Asti benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa mencoba menenangkan anaknya itu.
Lalu kejadian dua hari lalu kembali hadir dalam benak perempuan itu.
Beberapa tetangga datang ke rumah. Dua diantaranya membopong Zain yang pingsan. Darah mengucur dari mulut, pelipis dan telinga bocah itu.
"Zain kenapa? Zain kenapa? Ditabrak apa?" tanya Asti dengan panik.
Beberapa bocah teman mengaji Zain yang ikut datang bersama rombongan itu memandang Asti.
Dengan takut-takut seorang dari mereka mulai bercerita.
"Zain dipukul pak guru."
"Zain dipukul karena tidak hapal surat itu."

Asti terperanjat.
Surat? Surat apa?
Masya Allah!

Guru itu menganiaya anakku karena tidak hafal surat dari Al Quran?

Lutut Asti terasa lemas.
Ya Allah, aku yakin bukan hanya itu caranya untuk mencintaiMU.
Tetapi  Ya Allah, kuatkan aku agar aku tak membenciMu,
supaya aku memaafkan guru itu.
Engkau hanya menguji dia, menguji Zain, mengujiku.

Asti memandang Zain. Bocah itu sudah tak sadarkan diri lagi. Perempuan itu memandangnya dengan perasaan galau.

Tidur ya sayang, tidur…

Sahur Pertama 7

Hari sudah hampir gelap. Adzan magrib baru saja lewat. Sebuah mobil sedan berwarna mengkilap berhenti di depan gerbang makam.
Seorang pemuda keluar dari mobil. Ia tampak tergesa-gesa.
Dua jam sebelumnya ayahnya menelpon.
"Kamu sudah nyekar ke makam ibumu?" tanya ayahnya.
"Masya Allah! Maaf ayah, aku lupa." sahut pemuda itu dengan nada menyesal.
Lalu ditinggalkannya pekerjaannya yang masih menumpuk di meja kantornya.
Dua jam ia menempuh perjalanan dengan mobil menuju makam ibunya di luar kota.
Di muka gerbang makam, ia menghentikan mobilnya.
Ketika melangkah keluar dari mobilnya ia baru sadar, ia lupa membawa bunga untuk ditaburkan di atas makam ibunya.
Samar-samar di antara gelap senja, ia melihat dua sosok perempuan duduk di sisi yang berlawanan di muka gerbang makam.
Seorang perempuan muda dan cantik, berkerudung, menunggui bunga tabur dagangannya.
Di sisi lain gerbang, seorang perempuan tua juga menunggui bunga tabur miliknya.
Sesaat pemuda itu merasa bingung harus membeli dari siapa bunga untuk tabur makam ibunya?
Dari gadis itu? Ataukah dari perempuan tua itu?
Tiba-tiba seorang dari mereka berdua berkata.
"Shalat maghrib lah dulu, sebelum waktunya lewat."
Dan pemuda itu tahu kepada siapa ia harus membeli bunga tabur untuk makam ibunya.

Sahur Pertama 6

Di kampung itu pernah tinggal seorang perempuan tua sebatang kara.
Penduduk kampung tak tahu namanya, tetapi mereka memanggilnya Mak Bongkok karena tubuh perempuan itu memang bongkok.
Dia tinggal sendiri di sebuah gubuk di pinggir desa di tepi hutan bambu.
Kerja sehari harinya mencari ranting kayu dan mejualnya ke pasar di kampung.
Mak Bongkok tak pernah berhutang, bahkan dalam kemiskinan dan kesederhanaannya, ia selalu memungut kucing-kucing kurap atau buta yang berkeliaran di pasar dan membawa mereka pulang.
Memberi mereka makan dan merawat mereka semampunya.
Meskipun tinggal sendiri dan terpencil, Mak Bongkok dikenal banyak orang.
Bukan karena tubuhnya yang bongkok, tetapi karena kehadirannnya di setiap acara kenduri, pernikahan dan kematian.

Malam itu selepas Isya, Mak Bongkok pulang dari pengajian.
Nenek itu berjalan pulang sendiri dalam gelap di antara ayun batang-batang bambu dan pokok-pokok randu.
Di tangan kanannya ia membawa Al Quran, sajadah dan sekotak nasi yang dibagikan pada saat acara pengajian.
Sepanjang jalan, ia menyebarkan butir butir nasi dan lauk dari dalam kotak nasinya.
Orang orang melihat kucing-kucing mengikutinya.

Tetapi sejak malam itu, warga kampung tak pernah melihat Mak Bongkok lagi,
juga gubug dan kucing-kucingnya.

Konon setiap malam terakhir bulan Syaban, warga kampung melihat cahaya-cahaya kecil berbaris menembus ayun batang-batang bambu dan pokok-pokok randu.

Sahur Pertama 5

Seminggu sudah Siti menanti saat-saat ini. Seminggu ini pula gadis kecil itu menahan keinginannya untuk membuka kotak kertas berwarna lila pemberian Lia kawan sekelasnya.

Seminggu lalu Lia berulang tahun. Orang tua Lia yang kaya mengadakan pesta ulang tahun untuknya. Setiap kawan sekelasnya yang datang ke pesta ulang tahunnya mendapat sekotak kecil kue tar. Dan Siti mendapat satu.

Seminggu ia menyimpan kotak itu di atas lemari kamar. Ia berjanji tak akan membukanya, apalagi menikmatinya sebelum sahur pertamanya malam ini.
Baginya kue itu akan menjadi kue yang teristimewa. Ibu atau ayahnya belum pernah sekalipun membelikannya kue semacam itu. Bagi mereka membeli beras saja sulit apalagi untuk membeli kue semacam itu.

Ketika ibu membangunkannya untuk makan sahur, satu hal yang ada dalam benak gadis kecil itu hanyalah kue tar dalam kotak berwarna lila pemberian Lia kawan sekelasnya.

Siti bergegas menarik kursi dan meraih kotak itu dari atas lemari.
Dengan senyum mengembang penuh harap dibukanya kotak itu.
Ia tahu bahwa kue itu tak akan bisa bertahan seminggu. Gadis kecil itu tahu bahwa  tikus akan menggerogoti kue itu atau jamur-jamur akan tumbuh di atasnya.
Tetapi menyimpan sesuatu yang istimewa untuk hari istimewa yang ditunggunya terasa sangat membahagiakannya, meskipun ia tahu ia tak akan bisa menikmati kue tar itu.  Dan memang, kue tar itu berjamur, berlendir dan aromanya tengik.

Siti tersenyum lega. Setelah membuang kotak berisi kue tar yang membusuk, gadis kecil itu makan sahur bersama ayah dan ibunya. Ia menyantap masakan sederhana ibunya dengan hati bahagia.

Sahur Pertama 4

"Papa mau sahur apa nanti?" tanya mama.
Papa menarik nafas sesaat, berpikir sebentar dan tersenyum.
"Kalau nggak salah lihat kayaknya masih ada udang di freezer ya?"tanya papa.
Mama mengangguk.
"Masak udang asam manis aja deh, Ma." pinta papa.
Mama mengangguk lagi.
"Kakak mau makan apa?" Kali ini mama bertanya kepada si sulung.
Anak perempuannya yang mulai beranjak remaja itu mendesah pelan.
"Aaaahhhh,…malas sahur Ma. Tapi kalau dibuatin ca brokoli dan sosis sih oke aja."
Mama mengangguk sambil mencubit lembut pipi gadis itu.
"Nanti kalau sudah dimasakin, dimakan lho ya. Kalau dibangunin sahur jangan malas."
"Beres, Boss!" ujar si kakak menggoda mama.
Kemudian mama mendekati si bungsu yang masih asyik menggambari buku gambar barunya.
"Ade mau makan apa sahur nanti?" tanya mama dengan suara lembut.
Bocah laki laki itu memandang ibunya. Lalu pandangannya beralih kepada sosok bocah laki laki lain yang duduk di ambang pintu. Dodo, anak pembantu mereka Yu Parti, menonton televisi dari jauh.
"Aku mau makan seperti yang Dodo makan."jawab Ade singkat.
Mama, papa dan kakak tersenyum memandang Ade dan Dodo bergantian.
Mama berdiri dan berjalan menghampiri Dodo. Perempuan itu menggandeng Dodo untuk bergabung dengan mereka menonton televisi bersama-sama.

Sahur Pertama 3

Adzan Isya baru selesai berkumandang. Warno keluar dari kamar mandi. Di luar sudah berbaris para penghuni kontrakan lain yang juga hendak mandi. Laki-laki muda berperawakan sedang itu bergegas masuk ke dalam kamar kontrakannya yang paling ujung. Di kamar yang paling murah itu, Warno tinggal bersama anak laki-lakinya yang baru berusia enam tahun. Sudah setahun ini istri Warno pergi meninggalkan mereka. Perempuan itu pergi begitu saja. Kehidupan keras di ibukota dengan kondisi yang pas pasan bisa membuat siapa saja terlempar dan tidak tahan godaan. Entah pergi dan kembali ke kampung, atau minggat bersama seseorang yang berhasil memberikan iming-iming yang menggoda. Tetapi tak sekalipun dalam hati laki-laki itu menyalahkan istrinya.
Setahun ini pula Warno membesarkan anaknya, Aris. Pekerjaan apa saja ia kerjakan asal halal dan bisa menghidupi mereka berdua. Siang bekerja jadi pelayan di warung padang, malam ngamen. Setelah shalat Isya, Warno pun bersiap siap untuk berangkat ngamen.

Malam ini aku cuma akan ngamen sampai jam sebelas, besok sahur pertama. Bulan ini aku mau mengajak Aris mengaji sampai katam, batin Warno.

Tiba-tiba terdengar suara sorak sorai dari luar kamarnya. Suara orang-orang tertawa terbahak-bahak.
"Arini, joged dong!" teriak seseorang.
"Ngebor! Arini, ngebor!" seru yang lain.
"Ha ha ha ha!" terdengar yang lain tertawa lagi.
Warno beringsut ke arah jendela dan membuka tirai. Ia mengintip keluar kamar.
Jantungnya terasa berhenti. Nafasnya terasa sesak.
Ia bergegas memburu keluar kamar.
"Aris!!!" bentak Warno.
Bocah laki-laki enam tahun yang sedang dikelilingi orang-orang itu masih tertawa-tawa kecil memandang ayahnya yang berdiri tegang menahan marah, sedih dan kecewa.
Rambut bocah itu panjang oleh wig keriting berwarna coklat. Matanya lentik oleh bulu mata palsu. Bibir mungilnya berlepotan warna merah lipstik murah.
Dengan kasar Warno menarik tangan anaknya. Diangkatnya bocah itu dan digendongnya Aris ke kamar.
Di depan cermin, Warno menghapus semua warna di wajah Aris.
Tetapi bocah itu malah menghapus air mata yang mengalir di pipi ayahnya.
Dengan perasaan yang tak menentu, Warno menarik tubuh mungil itu dan mendekapnya erat. Laki-laki itu menangis sambil mendekap anaknya.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk.
"Warni, ayo War. Keburu malam lho." sebuah suara genit terdengar dari luar.
Warno memandang wajah Aris yang sudah bersih.
Lalu Warno pun mengenakan semuanya, penyumpal dada, korset, kutang, kebaya, bedak, lipstik, wig,… semuanya.
Aris memandang ayahnya mulai berubah pelan-pelan. Seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Bapak kelihatan cantik.
"Bapak janji, ini hari terakhir bapak ngamen.Bapak akan pulang cepat malam ini. Bapak janji." kata Warno kepada anaknya.
"Aris cepat bobo ya. Nanti bapak pulang beli makan buat sahur kita. Besok Aris ikut puasa ya. Puasa pertama."
Aris mengangguk pelan.
Lalu Warno mencium kening anaknya.
Sebentuk cap berwarna merah tertinggal di kening bocah itu.
Warno yang sudah berganti menjadi Warni begegas keluar dan mengunci pintu dari luar. Disimpannya kunci kamar di balik kutangnya.
Ia tahu Aris melihat keberangkatannya dari balik jendela, tetapi Warno tak sedetikpun menoleh dan melambaikan tangan. Satu hal yang tak pernah ia lakukan. Pelan-pelan air matanya mengalir.

Sahur Pertama 2

Pagi ini seperti biasa, ibu guru masuk ke dalam kelas. Di depan murid murid kelas dua, perempuan berjilbab itu mengucapkan salam dan murid murid membalas salamnya dengan serempak.
Kemudian, ibu guru mulai bertanya.
"Anak-anak, siapa diantara kalian yang hari ini mulai ikut berpuasa?"
Separuh lebih dari anak anak di kelas mengangkat tangannya seraya berkata:
"Saya Bu!"
"Saya Bu!"

Ibu guru tampak tersenyum bangga.
"Dinda, apa sahurmu semalam?"tanya ibu guru pada Dinda yang pagi ini tampak cantik dengan rambut yang dikepang.
"Bunda waktu sahur masak mie rebus, pakai sosis dan kembang tahu."
Dinda bercerita sambil sesekali tampak menelan ludah.
Bu guru mulai berjalan berkeliling. Kemudian perempuan berparas manis itu berhenti di muka meja Danu dan Parli.
"Kamu Danu, apa makan sahurmu semalam?" tanya bu guru lagi.
"Masih ada sisa pizza semalam, Bu. Di kulkas juga ada milkshake. Tapi mama masak cap cay buat sahur papa dan kakak."
"Lalu kamu makan apa?"tanya bu guru lagi pada Danu.
"Semuanya, Bu."jawab Danu malu-malu.
Murid-murid lain tertawa dan mengejek Danu yang bertubuh tambun.
Bu guru tersenyum dan berpaling memandang Parli.
"Dan kamu Parli? Apa makan sahurmu semalam?"
Sesaat Parli termangu lalu tiba-tiba bocah laki-laki berperawakan kurus itu berdiri dengan bersemangat.
"Semalam ayahku pulang dari kantor, bawa makanan banyaaakk sekali.
Ada cap cay, mie rebus, pizza, dan es krim. Terus aku makan semua. Terus…"

Anak-anak lain terdiam.
"Cukup Parli. Cukup." ucap bu guru lirih.
Perempuan itu tersenyum dengan hati yang teriris.
Ia menyesal menanyakan hal itu.
Ia lupa, Parli hanya tinggal berdua dengan neneknya di gubug belakang sekolah. Mereka berdua hidup dari belas kasih guru-guru dan para wali murid di sekolah ini. Sedangkan Parli justru kebingungan. Ia bertanya dalam hati.
Mengapa bu guru tak percaya ceritaku?
Memang benar kok, semalam ayah pulang dari kantor tempat ia jadi satpam, bawa makanan banyak biar cuma sisa. Dan aku makan semua karena nenek tidak lagi kuat berpuasa.
Kalau masih tidak percaya…niiihh nafasku masih bau makan sahurku. Aku tak menyikat gigiku setelah sahur karena ayah lupa beli pasta gigi untukku.

Sahur Pertama 1

Jam dua dini hari, bocah itu terbangun dari lelap tidurnya. Memandang ibunya yang terbaring tidur di ranjang mereka yang usang. Di sisi perempuan itu sesosok laki laki yang tak ia kenal tidur meringkuk seperti trenggiling tua yang kedinginan. Pelan-pelan bocah itu mendekati ibunya dan menyentuh lengannya yang telanjang.

"Mak, bangun Mak. Sahur."

Perempuan itu menggeliat sesaat lalu membuka mata. Dengan wajahnya yang masih kuyu dan rambut yang terurai perempuan itu mencoba tersenyum kepada anaknya.

"Sahurlah dulu," katanya. "Semalam mamak sudah belikan nasi goreng buat sahur kamu."

"Mamak ndak sahur?" tanya bocah itu.

"Mamak nanti saja. Sahurlah dulu. Bangunkan mamak sebelum imsa’ ya."

Bocah itu mengangguk kemudian beranjak keluar kamar.

"Tutup pintunya ya sayang." kata perempuan itu lirih lalu kembali tidur.

Menjelang imsa’, bocah itu sudah selesai menyantap makan sahurnya. Tetapi ia tidak beranjak untuk membangunkan ibunya.

Kasihan mamak, pikirnya. Pasti capek kerja semalaman.

Lalu ia pergi ke sumur, mengambil air wudlu dan segera berangkat ke mesjid. Dalam hatinya, ia berniat mendoakan ibunya agar perempuan itu tak lagi perlu bekerja hingga larut malam.

"Semoga di hari kedua ramadhan aku dan mamak bisa sahur bersama ya Allah, Amin."

Dan adzan subuh pun berkumandang.

Sajak Cinta

               Pagi ini kutulis sajak untuk semua.

         Keluarga, teman, sahabat, dan alam raya.

                             Ingin kukatakan

              bahwa aku mencintai kalian semua.

                         Kemarin, esok dan lusa.

                                 Selamanya.