Sayang,
semalam aku menyelinap keluar.
Pelan mengendap endap mendekati pintu
lalu membukanya lebar lebar.
Kupandang langit malam.
Kucoba hitung bintang bintang.
Jika kuambil satu,
untuk kuberikan kepadamu,
apakah Tuhan tahu ia sudah kehilangan satu?
Dan akankah Ia membebankan itu
sebagai salah satu dosaku?
Aku hanya ingin memberimu satu dari bintang bintang itu.
Karena aku tidak punya cukup uang
untuk membeli kado di hari ulang tahunmu.
Dengan apa kita menilai kebahagiaan?
Gelimang harta? Sosok yang menawan?
Atau kekasih yang rupawan?
Untuk apa kita menilai kebahagiaan?
Agar kita bisa berkata"INILAH SAYA"
dan membusungkan dada?
Bukan.
Bukan begitu caranya.
Lalu dengan apa? Dan untuk apa?
Dengan bersyukur,
bahwa kita masih diberi kenikmatan, sekecil dan sesederhana apapun.
Dan untuk mengingatkan kita serta membuka mata hati kita,
bahwa kitapun bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Suratmu kuterima pada saat yang tak tepat.
SMSmu masuk di waktu yang salah.
Telponmu membuatku gelisah.
Tolong,
biarkan aku sendiri.
Aku tak bermaksud menghindar.
Aku hanya ingin
pipis sebentar…
Di mana kau simpan buku hidupmu?
Di dalam hatimu
atau di balik otakmu?
Aku menyimpan milikku
di setiap bagian tubuh dan jiwaku.
Di ujung jari,
di dalam nadi,
bahkan di seluruh kulit ari.
Itulah mengapa kelak,
mereka semua
akan bersaksi
tentang kita
hari ini.
Aku tidak menulis puisi.
Tetapi hanya menyuarakan isi hati.
Jika terdengar puitis,
aku tidak pernah bermaksud liris.
Jika engkau menyukainya,
bersiaplah kecewa.
Karena aku menulis ini semua,
untuk dia
yang tidak pernah ada.
Puisiku hilang!
Digondol anak macan.
Lucu!
Mana ada macan makan puisi.
Anak macan makan tanganmu.
Mengunyah hatimu.
Melumat jantungmu.
Betul!
Tadi kuletakkan di atas meja kerjaku.
Bodohnya!
Macan tidak menyelinap ke kantor.
Macan berkeliaran di hutan
atau meringkuk di balik kandang.
Sumpah!
Tadi aku melihatnya bergerak berkelebat.
Keluar dari ruanganku
lalu berlari ke ruang sebelah itu.
Oo, aku tahu.
Itu cuma boss mu
yang mencuri puisimu
untuk merayu sekretarisnya
yang berkelamin palsu.
Tak kusangka,
engkau begitu memujaku,
seperti engkau menyukai bintang bintang itu.
Engkau sangat menghormatiku,
seperti engkau menghargai pahlawan pahlawanmu.
Engkau begitu menuruti kata-kataku,
seperti engkau mengagungkan ayah dan ibumu.
Jangan sayang,
jangan perlakukan aku seperti
mereka menjunjung para dewa.
Jangan mengagungkan aku
seperti mereka menghormati para guru.
Biarkan aku menjadi diriku.
Yang tak abadi dan kelak lekang dimakan waktu.
Relakan aku mencintaimu dengan sederhana.
Itu saja.