MASOCHIST
Monday, July 24th, 2006
Pukulanmu tak menjatuhkan diriku.
Sayatan itu tak menyiksaku.
Cambukan pecutmu tak melukaiku.
Tetapi kata cintamu
memabukkanku…
Pukulanmu tak menjatuhkan diriku.
Sayatan itu tak menyiksaku.
Cambukan pecutmu tak melukaiku.
Tetapi kata cintamu
memabukkanku…
Tuhan tidak tidur malam itu.
Ia mampir dan mengetuk pintu rumahmu
tetapi kalian tak sedikitpun
terjaga dan membuka pintu.
Lalu Ia mengambil entah ayahmu,
ibu, adik, atau kekasihmu.
Dan ketika esok paginya engkau terbangun
oleh geliat bumi yang bergemuruh,
dan mendapati mereka tak lagi utuh
hanya tangis pilu yang terdengar dari mulutmu.
Bukankah seharusnya doa
yang engkau panjatkan.
Bukan dendam bisu
yang engkau simpan.
Tuhan tidak tidur malam ini.
Ia akan mampir lagi dan mengetuk pintu rumahmu.
Bersihkan hatimu.
Agar jika Ia menjemputmu,
engkau tidak menyimpan dendam
kepada Tuan Rumahmu…
Mengapa lidah tak bertulang?
Agar pada saat kita tanpa atau dengan sengaja berkata yang tak sepantasnya,
bisa selekasnya meminta maaf.
Semoga tiada sakit hati yang berbekas.
Aku mencarimu di setiap helai mahkota bunga dan kelopak daun.
Memanggilmu setiap saat angin berhembus.
Tapi tak kutemukan dirimu pada semua yang kusentuh dan pandang.
Aku merasakan hadirmu.
Menikmati kehangatanmu.
Mendengar bisik cintamu.
Tetapi tak kulihat sosokmu di ambang pintu
atau nomormu di layar telpon genggamku.
Mungkinkah,
engkau telah menyatu bersama jiwa, hati dan pikiranku?
Seperti darah yang mengalir dalam tubuh fanaku.
Desir cinta itu menyayat hatiku.
Menusuk jantungku.
Membutakan mataku.
Menutup mulutku.
Aku telah larut.
Bersamamu.
Bersama cinta itu.
Tuhan,
kuatkan aku,
agar aku tetap berbentuk,
saat ia tak lagi mengisi relung hati, jiwa dan pikiranku.
Karena butuh waktu
untuk menyatukan keping keping diriku.
(Jogja 2 Juli 2002, untuk semua yang merasa menemukan, meninggalkan, ditemukan, ditinggalkan, mengharapkan,mengabaikan, diharapkan, diabaikan, dan seterusnya: THERE ARE HOPES! & U R THE ONES)