Melihatmu,
adalah keinginanku.
Mendengarmu,
adalah impianku.
Menyentuhmu,
adalah harapanku.
Membelaimu,
adalah dambaanku.
Memelukmu,
adalah hasratku.
Kasihku,
aku rindu padamu.
Kirimkan mimpi,
ke dalam tidurku.
Lantunkan lagu,
bersama lelapku.
Hembuskan nafasmu,
bersama angin yang menyapu.
Kasihku,
aku rindu padamu.
Seperti kurindukan
matahari dan esok pagi.
Yang kuhitung setiap akhir waktu.
Dan bertanya kepada diriku.
Kapan
aku bisa berjumpa lagi denganmu.
Tuhan,
bolehkah kulewatkan satu masa umurku
untuk menjemput dia yang datang di hadapanku?
Menyambutnya dengan membuka kedua tanganku.
Merengkuhnya ke dalam hangat pelukku.
Meleburkan rindu
yang telah lama dingin dan membatu.
Tuhan,
saat ini matahariMu
tak secerah senyumnya.
AnginMu tak selembut belaiannya.
EmbunMu tak sesejuk tetes peluhnya.
Aku tertawa
Ternyata sekarang
tak semua yang indah adalah milikMu.
Betapa pemurahnya Engkau.
Untuk bersedia berbagi
keajaiban,
keindahan,
kemuliaan,
dengannya,
dia yang kucinta.
Titik benci itu terbang dari matamu
Serpih khianat itu terbit dari hatimu
Sebentuk cinta itu meluncur dari lidahmu
Mana yang lebih kupercaya?
Mata
hati
atau lidahmu?
Bukankah mata memancarkan kebenaran,
hati menunjukkan kemurnian,
dan lidah adalah awal dari semua kebohongan.
Tetapi aku sudah memutuskan
aku lebih percaya pada hatiku.
Bahwa aku
akan tetap mencintaimu.