Puisi untuk Tanah

Bungaku tumbuh di tamanmu.

Lalu waktu membuatnya layu.

Benih tak semaikan tunas baru.

Tapi akarnya merambat padamu

seperti kata-kata rayu.

Kau boleh menolak ku.

Atau apa dan siapapun yang melekat di punggungmu.

Tetapi hatimu tak sebatu itu.

Bahkan debu

kau rengkuh dalam hangat pelukmu.

Apalagi aku.

Yang kelak,

pasti akan menjadi bagian dari mu.

Laki-laki Pencerita

Laki-laki itu datang dari jauh

dari tempat kapal-kapal belum pernah bersauh

Wajahnya bersimbah peluh

Lalu berteduh

di bawah satu dahan yang teduh

Pelan

angin menyisir rambutnya

membasuh wajahnya

membelai tubuhnya

Laki-laki itu duduk.

Dan anak-anak berkerumun

seperti lebah-lebah mengepung madu.

Lalu sepenggal demi sepenggal cerita

luruh dari bibirnya yang tak tersentuh

manis cinta kekasih.

Ia berkisah tentang ladang,

ilalang dan bunga-bunga liar.

Juga tentang kuda, lumba-lumba dan samudra.

Masa kecilku bahagia

dengannya di setiap siang dan senja.

Dongeng, sajak dan cerita

berganti-ganti seperti terbit dan tenggelam

matahari dan bulan.

Saat kuberanjak dewasa,

masih kuteringat sebuah ceritanya,

tentang seorang laki-laki pencerita,

yang duduk tegak di bawah pokok angsana,

berbagi kisah dan mantra mantra,

dan waktu memakan luruh tubuh dan usianya.

Tapi ia tetap tak beranjak

karena ia bersumpah

akan terus berbagi bahagia dengan sesama

dengan kisah dan cerita-ceritanya

hingga tiba masa merengkuhnya

dalam abadi yang tak kasat mata.

Kelak…

Jauh di ujung cakrawala,

kulihat engkau menghilang

seperti matahari yang terbenam.

Tetapi jauh di atas sana,

kulihat engkau berpendar

seperti bintang yang paling terang.

Kawan,

jauhmu adalah jarak

yang tak terukur dengan depa cintaku

bahkan hingga waktu menghapus

nama dan kenanganmu,

kelebat bayang dan harum tubuhmu

terpatri selalu dalam benak, hati dan jiwaku.

Apakah yang lebih abadi dari sebuah persahabatan?

Bukankah hingga bergenerasi

kita selalu menyebut

tentang para sahabat dan nabi-nabi?

Jauh di ujung cakrawala,

kau melihatku di garis terbit matahari.

Bukankah kedua jarak itu tak pernah bertemu.

Lupakanlah

lupakan saja.

Biarkan aku melihatmu berpendar di langit malam

agar ku bisa melihat indah cahayamu

dalam malam-malam sepiku

Dan agar kau bisa melihatku

terbit bersama matahari,

berbagi harapan

tentang pertemuan kita kembali.

kelak…