Laki-laki itu datang dari jauh
dari tempat kapal-kapal belum pernah bersauh
Wajahnya bersimbah peluh
Lalu berteduh
di bawah satu dahan yang teduh
Pelan
angin menyisir rambutnya
membasuh wajahnya
membelai tubuhnya
Laki-laki itu duduk.
Dan anak-anak berkerumun
seperti lebah-lebah mengepung madu.
Lalu sepenggal demi sepenggal cerita
luruh dari bibirnya yang tak tersentuh
manis cinta kekasih.
Ia berkisah tentang ladang,
ilalang dan bunga-bunga liar.
Juga tentang kuda, lumba-lumba dan samudra.
Masa kecilku bahagia
dengannya di setiap siang dan senja.
Dongeng, sajak dan cerita
berganti-ganti seperti terbit dan tenggelam
matahari dan bulan.
Saat kuberanjak dewasa,
masih kuteringat sebuah ceritanya,
tentang seorang laki-laki pencerita,
yang duduk tegak di bawah pokok angsana,
berbagi kisah dan mantra mantra,
dan waktu memakan luruh tubuh dan usianya.
Tapi ia tetap tak beranjak
karena ia bersumpah
akan terus berbagi bahagia dengan sesama
dengan kisah dan cerita-ceritanya
hingga tiba masa merengkuhnya
dalam abadi yang tak kasat mata.