Pagi ini aku menerima sepucuk surat
dari seseorang yang tak kukenal
dari sebuah tempat yang tak pernah kudengar
Kertasnya wangi aroma mawar
Tetapi tintanya sedikit samar
Kubaca lambat
agar tak sepatah kata terlewat.
Pagi ini aku menerima sepucuk surat
dari seseorang yang tak kukenal
dari sebuah tempat yang tak pernah kudengar
Kertasnya wangi aroma mawar
Tetapi tintanya sedikit samar
Kubaca lambat
agar tak sepatah kata terlewat.
Kugenggam tanganmu
seakan kutakut engkau kan pergi seiring waktu.
Angin tak meniup api cintaku.
Hujan tak menyiram bara kasihku.
Tapi tak kurasakan lagi getar itu.
Kupeluk erat dirimu
tapi yang kurasa hanya beku.
Kita diam dalam bisu.
Matamu menembus pandangku.
Tetapi senyummu tak meluluhkan hatiku
yang tlah berubah membatu.
Baru kutahu
sakit hati dan dendamku
bisa seabadi itu.
Tuhanku,
berdustakah aku,
jika kulakukan apa yang tak kusukai,
apabila kubersumpah atas apa yang kuingkari,
jika kusayang dia yang tak kucintai,
apabila kugenggam apa yang seharusnya kulepaskan,
jika kunikmati apa yang tak kuminati,
apabila kukagumi apa yang kubenci?
Hanya untuk mendamaikan dunia
tempatku berada.
Oh Kekasihku
Jujurkah aku?
JIka pahit kukatakan pahit,
apabila kumarah atas dusta dusta,
jika kumaki apa yang kubenci,
apabila kubuang apa yang tak berarti?
Bukankah akan ada sakit hati,
dendam
dan benci?
Mengapa tak Kaubiarkan
cinta hanya cinta
dan
benci hanya benci?
Mengapa harus pula benci bertemu cinta
dan jujur bertemu dusta,
hanya untuk mendamaikan dunia?
Tuhanku.,
Tak perlu dalam hitungan waktu
sepatah kata akan menggoreskan luka.
Pedih.
Dalam.
Tapi untuk apa dendam,
jika senyum
cinta
dan sayang,
bisa teramat menyejukkan.