Aku dan Engkau

Kita hampir tiba pada satu musim yang membawa cerita tentang siapa dan apa kita. Burung tidak menyanyikan kicau tentang aku dan Kamu. Angin tidak menghembuskan syair tentang mengapa kita bertemu. Tetapi hujan menghapuskan jejak kita pada setapak yang retak. Lalu rumput dan bunga liar tumbuh bersemi menutup cinta kita yang telah berakhir. Adakah perpisahan bisa seindah ini? Apakah benci bisa semanis ini? Benarkah dosa bisa semanis ini? Ijinkan aku sesaat saja menengok kembali bayangan dan kenangan yang tak sempat terbakar kemarau dan terhapus deras hujan. Lalu otakku mulai luruh dalam damai yang Kau ciptakan. Kasih yang Kau cipta tumbuh pada sepetak dendam yang tersisa. Lalu cinta yang Kau semikan akan berbuah apa? Kau diam dalam heningMu yang agung. Kau biarkan aku menebak dalam diamku yang bodoh, dalam raguku yang dalam dalam sedihku yang semakin berlarut. Esok pagi, aku masih menunggu tanda dan jawaban dariMu. Jangan biarkan aku menunggu. Atau akan segera kususul ajalku agar aku dapat segera mendengar jawabanMu. Tapi Kau memintaku menunggu. Semusim saja. Aku hampir tiba pada akhir musim yang Kau janjikan tapi tak juga kutemukan jawabannya. Dendam telah hilang. Benci tak lagi tumbuh. Tapi cinta, kasih dan sayang tumbuh seperti belukar yang mengganggu. Aku tidak ingin berlebihan mencintaiMu. Aku takut kecewa akan datang. Bukankah cinta berarti percaya? Bagaimana kalau Kau kucinta tapi tak kupercaya? Satu pertanyaan lagi rupanya? Kapan Kau akan menjawabnya? Semusim lagikah, Kau memintaku menunggu? Semusim lagikah, kau suburkan cintaku padaMu. Jangan. Karena aku akan fanatik kepadaMu dan menutup mataku dari beragam nyata dan indah yang Kau sebarkan di depan mataku. Sederhanakan semuanya. Agar aku tak lagi bertanya dan menanti jawaban yang tak kunjung kudapat pada setiap akhir musim yang Kau janjikan. Kini doaku tak lagi sekhusyuk dulu. Dewasa telah mengubahku. dan semakin menjauhkanku dariMu. Tuhan, kembalikan sederhanaku. kembalikan cinta kanak-kanakku. Agar aku kembali mencintaiMu setulus dulu. Tetapi waktu berjalan lebih cepat dari gerak kijang. Berkelebat lebih pesat dari kedip mata. Aku sudah berada di akhir musim. Dan kini Kau sudah berdiri di depanku. Aku tidak siap dengan jawaban yang akan segera Kau katakan. Aku hanya menunduk. Rinduku menetes dalam bening air mata yang tak mengering seribu tahun. Tuhan, ijinkan aku, biarkan aku, memelukMu. merengkuhMu. mendekapMu. dalam pelukan rinduku yang telah membeku. Agar hangatMu bisa mencairkan angkuhku. Sedetik saja, agar damaiMu terpatri dalam jiwaku hingga sejuta musim yang Kau janjikan tak lagi terbitkan satu pertanyaan dalam diriku tentangMu.