KEPOMPONG PEMBUSUKAN
Saturday, August 2nd, 2008
Hampir seminggu lebih saya buntu. Menulis malas, makan tidak
nafsu tetapi untung mandi masih mau. Beberapa pesanan tulisan blog dari
beberapa sahabat tak saya kerjakan. Asli, pikiran saya mandeg. Ide nyaris tidak
muncul. Sepercik dua percik gagasan memang ada. Tetapi gairah untuk
menuangkannya ke dalam bentuk tulisan
tidak ada sama sekali.
Sore itu tiba-tiba saya menerima sebuah sms dari seorang
sahabat. Dia mengatakan sedang busuk. Kok
kayak tempe aja, busuk, kata saya.
Sahabat yang mengirim sms ini adalah sahabat lama saya yang
waktu saya masih tinggal di Jogja dia banyak memberi dukungan moril kepada
saya. Dan ketika saya mendapati sms nya yang bernada putus asa, saya pun merasa
wajib membantunya. Lalu komunikasi lewat sms-sms yang berbalasan pun dimulai.
Dalam sms nya, dia bercerita bahwa dia sedang merasa ‘busuk’.
Hidup makin tidak seru dan tak ada semangat. Masalah menumpuk, tetapi dia
sendiri tidak tahu pasti apa. Dan saya juga tidak tahu mengapa dia memakai kata
‘busuk’ untuk melukiskan keadaannya. Saya menyarankan kepadanya untuk menemui
sahabat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita tentang masalah yang sedang
dia hadapi. Lucunya, dia mengatakan bahwa dia sudah tidak punya sahabat yang bisa dia percaya enam tahun terakhir ini.
( Saya tersenyum membaca smsnya. Jadi saya termasuk dalam sahabat yang tidak
bisa dia percaya untuk mendengarkan masalahnya.)
Lalu saya memberinya saran lagi untuk rela menerima situasi
tersebut sampai masa pembusukan itu selesai dan selanjutnya menyiapkan diri
untuk masa pembusukan berikutnya. Dia setuju. Tetapi, dia menegaskan bahwa
masalahnya adalah masalah basi yang masih saja terjadi setiap waktu. Makanya
dia merasa semakin busuk.
Saya mengangkat kedua alis saya sehingga kening saya yang
sudah mulai keriput menjadi semakin berkerut. Dengan (mencoba) bijak, saya mengatakan, bahwa kebusukan tak selalu
buruk. Keju, tempe dan yoghurt juga buah dari pembusukan. Tetapi saya tahu
bahwa pembusukan yang dimaksudnya adalah sebuah kebuntuan dalam hidup. Sebuah Cul de sac. Jalan buntu yang pasti
sangat mengganggu. Karena akhirnya dia mengirim pesan singkat kepada saya. Meskipun
saya bukan teman yang cukup dia percaya untuknya berbagi cerita tentang masalah
yang sedang mengganggunya.
Waktu saya kanak-kanak, saya senang mengamati ulat,
kepompong dan kupu-kupu. Akibat mengamati ulat yang menggerogoti habis tanaman
terong dan tomat nenek saya, saya jadi gatal-gatal. Lalu bagaimana bisa, ulat,
binatang (atau serangga?) kecil sebesar kelingking dan gemuk berbulu yang bikin
saya gatal-gatal itu bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah? Ternyata
jawabannya adalah: kepompong.
Ya, sebelum bertransformasi menjadi kupu-kupu yang cantik
dan gagah, ulat-ulat itu berubah menjadi kepompong dulu. Apakah sejak semula mereka
memang ingin menjadi kepompong sebelum menjadi kupu-kupu? Saya tak yakin. Kalau
boleh memilih, mereka mungkin ingin langsung menjadi kupu-kupu yang indah dan
menghisap nektar daripada menjadi ulat-ulat gemuk yang harus menyantap daun dan
sering dipatuk ayam.
Tetapi Tuhan sudah mengatur hidup menjadi demikian. Ulat
harus menjadi kepompong untuk berubah menjadi kupu-kupu. Manusia harus melewati
bayi, kanak-kanak dan remaja untuk menjadi dewasa. Dan untuk menjadi dewasa
pun, perlu melalui ‘pembusukan-pembusukan’. Menghadapi masalah dan persoalan. Itulah kepompong-kepompong yang harus
kita lalui sebagai individu untuk menjadi semakin bijak dan dewasa.
Sama seperti sahabat saya yang mengirim sms kepada saya sore
itu dan menjerit bahwa dia sedang busuk, saya pun pernah mengalami. Tetapi sore
itu saya sudah menjadi kupu-kupu. Saya merasa hari itu sedang menjadi manusia
seutuhnya. Tetapi saya harus siap, besok-besok, akan ada siklus pembusukan lagi
yang harus saya lalui untuk menjadi manusia yang semakin kaya.
Sahabat, mari kita nikmati saja pembusukan ini bersama-sama.
Anggap saja kita sedang berada dalam kepompong pembusukan yang akan menyulap
kita menjadi manusia yang semakin dewasa.
(Jakarta, 2 Agustus 2008. Untuk sahabat saya Z)